Lebanon dan Israel Kembali Berunding, Apa yang Dibahas?
Fitri Aulia Lestari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel kembali digelar pada Kamis dan Jumat di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan perbatasan kedua negara serta berlanjutnya serangan Israel ke wilayah Lebanon.
Dikutip MUI Digital dari Aljazeera pada Sabtu (16/5/2026), pertemuan ini menjadi pembicaraan tatap muka ketiga antara delegasi Lebanon dan Israel sepanjang 2026 setelah dua putaran sebelumnya berlangsung di Washington DC pada April lalu.
Negosiasi tersebut difokuskan pada upaya mempertahankan gencatan senjata yang akan berakhir pada Ahad mendatang.
Di tengah proses negosiasi, serangan Israel terhadap Lebanon terus berlanjut. Pada Rabu, delapan orang termasuk dua anak dilaporkan gugur akibat serangan drone Israel yang menargetkan kendaraan di jalan utama penghubung Lebanon selatan menuju Beirut. Serangan lain di sejumlah wilayah juga menambah jumlah korban jiwa.
Perbedaan pandangan di internal Lebanon turut mewarnai proses negosiasi ini. Presiden Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam mendukung dialog langsung dengan Israel, sementara Hezbollah dan sekutunya menolak pembicaraan terbuka.
Jurnalis dan analis Lebanon Souhayb Jawhar menilai elite politik Lebanon masih belum memiliki kesepahaman terkait arah negosiasi tersebut.
“Presiden, perdana menteri, dan ketua parlemen negara itu tidak dapat menyepakati kerangka kerja, atau bahkan tujuan akhir dari pembicaraan tersebut,” tulisnya.
Delegasi Lebanon dijadwalkan dipimpin diplomat Simon Karam bersama sejumlah pejabat diplomatik dan militer Lebanon.
Baca juga: UEA Bantah Kunjungan Rahasia Netanyahu di Tengah Konflik Iran
Sementara delegasi Israel akan dipimpin Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter bersama pejabat keamanan dan militer Israel.
Amerika Serikat kembali menjadi mediator utama dalam pembicaraan tersebut. Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee dan sejumlah pejabat Departemen Luar Negeri AS disebut akan hadir dalam perundingan.
Di sisi lain, Hizbullah menegaskan tetap menolak negosiasi langsung dengan Israel meski mendukung upaya pemerintah Lebanon menghentikan agresi Israel.
Pemimpin Hizbullah Naim Qassem mengatakan kelompoknya “siap bekerja sama” untuk mencapai sejumlah tujuan, termasuk penghentian serangan Israel dan penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Baca juga: Eritrea Jadi Contoh Harmoni Keagamaan, Muslim dan Kristen Hidup Berdampingan Sejak Ribuan Tahun
Dalam pernyataannya, Qassem juga menegaskan bahwa Hizbullah akan terus merespons pelanggaran yang dilakukan Israel.
“Kami akan menanggapi agresi dan pelanggaran tersebut, dan kami tidak akan kembali ke status quo sebelum 2 Maret,” tegasnya.
Sementara itu, pemerintah Lebanon disebut akan meminta Amerika Serikat menekan Israel agar mematuhi kesepakatan gencatan senjata sebelum pembicaraan dilanjutkan lebih jauh.
Beirut juga dikabarkan akan memaparkan kerusakan besar akibat serangan Israel sejak perjanjian gencatan senjata 2024, termasuk peta wilayah dan rumah-rumah yang hancur akibat serangan militer Israel.
Di tengah negosiasi tersebut, Israel dilaporkan tetap mendorong pelucutan senjata Hizbullah dan mempertahankan operasi militernya terhadap kelompok tersebut di Lebanon selatan.
Direktur kebijakan lembaga think tank Badil yang berbasis di Beirut, Sami Halabi, menilai kondisi internal Lebanon yang terpecah justru menguntungkan Israel.
“Tidak ada pihak yang akan lebih diuntungkan dari disintegrasi hukum dan ketertiban serta konflik sipil selain Israel,” ujarnya kepada Aljazeera.
Selain Amerika Serikat, Arab Saudi juga disebut memainkan peran penting menjelang negosiasi. Riyadh dilaporkan berupaya meredakan ketegangan politik internal Lebanon agar pemerintah Lebanon dapat menghadapi pembicaraan dengan Israel dalam posisi yang lebih solid.
Negosiasi ini dinilai menjadi penentu penting bagi masa depan stabilitas Lebanon selatan di tengah kekhawatiran meluasnya konflik kawasan di Timur Tengah.