Eritrea Jadi Contoh Harmoni Keagamaan, Muslim dan Kristen Hidup Berdampingan Sejak Ribuan Tahun
Fitri Aulia Lestari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Jakarta, MUI Digital - Di tengah dunia modern yang kerap diwarnai konflik dan ketegangan antarumat beragama, Eritrea hadir sebagai contoh nyata kehidupan harmonis antara Muslim dan Kristen yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun.
Dikutip MUI Digital dari Sahabait pada Senin (7/5/2026), negara yang berada di kawasan Tanduk Afrika itu dikenal memiliki tradisi kuat hidup berdampingan antarumat beragama, jauh sebelum konsep toleransi modern dikenal dunia. Di Eritrea, perbedaan keyakinan tidak sekadar ditoleransi, tetapi menjadi bagian alami dari kehidupan sosial masyarakat.
Sejarah mencatat, Eritrea merupakan salah satu wilayah paling awal di Afrika yang menerima dua agama besar dunia secara damai, yakni Kristen dan Islam.
Baca juga: Dinilai Diskriminatif, MUI Kecam Tindakan Israel Larang Muslim-Kristen Masuk Bunker
Kekristenan masuk ke wilayah tersebut pada abad ke-4 Masehi. Jejak sejarahnya masih terlihat melalui gereja-gereja kuno di kawasan Adulis yang berasal dari abad ke-5 dan ke-6 Masehi, menjadikannya salah satu situs Kristen tertua di kawasan itu.
Sementara itu, Islam hadir di Eritrea pada tahun 615 Masehi, ketika sekelompok sahabat Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah untuk menghindari penindasan kaum Quraisy. Mereka menyeberangi Laut Merah dan mencari perlindungan di wilayah yang kini menjadi Eritrea.
Peristiwa bersejarah itu melahirkan Masjid Sahaba di kota Massawa, yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Afrika. Kehadiran masjid tersebut menjadi simbol awal pertemuan Islam dan Kristen di tanah Afrika dalam suasana damai dan saling menghormati.
Baca juga: MUI Mendukung Langkah Afrika Selatan Menuntut Israel di ICJ
Harmoni itu masih tampak hingga kini dalam tata kota Eritrea, terutama di ibu kota Asmara. Menara masjid dan lonceng gereja berdiri berdampingan dalam satu cakrawala kota. Masjid Al Khulafa al Rashiudin, Katedral Ortodoks Enda Mariam, dan Katedral Katolik berada berdekatan di pusat kota, menggambarkan persatuan dalam keberagaman.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Eritrea menjadikan identitas kebangsaan dan kemanusiaan sebagai prioritas di atas perbedaan agama. Saat hari raya besar seperti Idul Fitri maupun Meskel, umat Muslim dan Kristen saling berkunjung serta berbagi makanan.
Tradisi makan bersama yang dikenal dengan istilah Meadi juga menjadi simbol persaudaraan sosial. Melalui kebersamaan di meja makan, masyarakat memperkuat ikatan kekeluargaan yang melampaui batas keyakinan.
Tidak hanya itu, penyelesaian sengketa lokal di berbagai komunitas sering dilakukan melalui Dewan Tetua yang terdiri dari tokoh Muslim dan Kristen. Mereka dihormati karena kebijaksanaan dan komitmennya menjaga perdamaian bersama.
Ketika era kolonial datang dan kekuatan asing mencoba memecah belah masyarakat melalui isu agama, rakyat Eritrea tetap mempertahankan persatuan. Upaya politik pecah belah gagal karena kuatnya fondasi harmoni yang telah dibangun selama berabad-abad.
Kini, Eritrea dipandang sebagai salah satu contoh langka bagaimana keragaman agama dapat menjadi sumber kekuatan nasional, bukan sumber konflik.
Di saat banyak negara masih bergulat dengan sektarianisme, Eritrea menunjukkan bahwa hidup berdampingan secara damai bukan sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang telah dijalani selama berabad-abad.