KTT Istanbul Jadi Titik Temu Global Ekonomi Islam, Soroti Peran Wakaf dan Keuangan Syariah
Miftahul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Istanbul kembali menegaskan posisinya sebagai pusat pertemuan dunia Islam dalam bidang ekonomi dan keuangan.
Hal itu mengemuka dalam Konferensi Tingkat Tinggi Ekonomi Islam Global ke-3 yang digelar di Istanbul Finance Center, Turki, di bawah naungan Kepresidenan Turki dan sebagai bagian dari Seri KTT AlBaraka.
Dikutip MUI Digital dari Anadolu Agency (AA), Senin (8/6/2026), Ketua Dewan Pengawas Forum Ekonomi Islam AlBaraka, Abdullah Saleh Kamel, menyebut Istanbul memiliki posisi historis sebagai titik temu perdagangan, keuangan, dan peradaban.
“Istanbul berperan sebagai titik pertemuan bersejarah untuk perdagangan, keuangan, dan peradaban,” ujar Kamel dalam sambutannya.
Baca juga: Audiensi dengan MUI, Mahkamah Agung Bahas Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah
Dalam kesempatan tersebut, Kamel menekankan pentingnya membangun kerangka kerja yang tepat bagi peran modal dalam ekonomi Islam. Menurutnya, modal tidak semata-mata berfungsi sebagai alat akumulasi kekayaan, tetapi juga harus diarahkan untuk menciptakan manfaat sosial yang lebih luas.
Ia menjelaskan bahwa kerangka kerja ekonomi Islam memungkinkan modal menjadi sarana penciptaan kekayaan sekaligus mendukung pembangunan sosial melalui instrumen-instrumen filantropi seperti wakaf.
“Saya memuji negara-negara yang sistemnya memungkinkan pengembangan wakaf, seperti Arab Saudi, Turki, Malaysia, dan lainnya. Saya juga menyerukan negara-negara lain untuk mengikuti contoh tersebut,” kata Kamel.
Menurutnya, peran wakaf terus berkembang di berbagai negara sebagai kelanjutan dari tradisi peradaban Islam yang telah berkontribusi bagi masyarakat selama berabad-abad.
“Peran pembangunan wakaf tumbuh setiap hari di negara-negara ini sebagai perpanjangan dari peradaban besar yang tersebar di seluruh dunia selama berabad-abad,” ujarnya.
Sementara itu, penasihat di Istana Kerajaan Arab Saudi sekaligus anggota Dewan Ulama Senior dan Imam Masjidil Haram, Saleh bin Abdullah bin Humaid, menyoroti pentingnya prinsip-prinsip moral dalam pembangunan ekonomi.
Baca juga: Dorong Bahan Olahan Halal Lokal, Kiai Cholil Nafis: Demi Kemandirian Ekonomi Umat
Ia menegaskan bahwa ekonomi Islam berpusat pada manusia dan tidak hanya berorientasi pada peningkatan angka-angka ekonomi semata.
“Berbicara tentang kekayaan bukan hanya diskusi tentang akumulasi kekayaan atau memaksimalkan angka-angka abstrak,” kata Bin Humaid.
“Sebaliknya, ini adalah diskusi tentang membangun kekuatan peradaban umat, memupuk stabilitas sosial, mencapai kecukupan ekonomi, dan mendorong tata kelola yang baik yang menjaga martabat manusia, kemakmuran masyarakat, serta keamanan dan kemandirian negara,” lanjutnya.
Menurut Bin Humaid, lembaga keuangan syariah harus memainkan peran yang lebih luas dalam pembangunan. Ia menilai bank syariah tidak cukup hanya menjadi lembaga pembiayaan, tetapi juga harus menjadi mitra strategis dalam pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat.
KTT Ekonomi Islam Global ke-3 ini mempertemukan para pemimpin, ulama, akademisi, dan pelaku industri keuangan syariah dari berbagai negara untuk membahas penguatan sistem ekonomi Islam yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.