Krisis Pangan Memburuk, Gaza Hanya Miliki 200 Ton Tepung dari Kebutuhan 450 Ton per Hari
Fitri Aulia Lestari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk, dengan ketersediaan tepung yang jauh dari kebutuhan harian masyarakat.
Dikutip MUI Digital dari Saudi Gazette pada Senin (14/4/2026), dalam pernyataan yang disampaikan pada Ahad, kantor media pemerintah Gaza menyebutkan bahwa wilayah tersebut membutuhkan sekitar 450 ton tepung per hari, namun saat ini hanya sekitar 200 ton yang tersedia.
Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya pasokan bantuan yang masuk ke wilayah tersebut. Pihak otoritas setempat menuding Israel memperketat pembatasan distribusi bantuan, yang disebut sebagai kebijakan “kelaparan yang direkayasa”.
Baca juga: Berlangsung 21 Jam Lebih, Perundingan Iran-AS di Islamabad Buntu
Meski terdapat kesepakatan gencatan senjata yang memungkinkan masuknya hingga 600 truk bantuan per hari, laporan tersebut menyebutkan bahwa realisasi pasokan yang masuk hanya sekitar 38 persen dibandingkan kondisi sebelum perang.
Situasi semakin memburuk setelah sejumlah organisasi kemanusiaan mengurangi operasinya. World Central Kitchen, yang sebelumnya menyalurkan 20 hingga 30 ton tepung per hari, dilaporkan menghentikan dukungannya.
Sementara itu, World Food Programme juga mengurangi distribusi tepung dari sekitar 300 ton menjadi sekitar 200 ton per hari.
Sejumlah kelompok kemanusiaan lainnya turut menghentikan program distribusi roti dan tepung, yang semakin memperparah krisis pangan di wilayah tersebut.
Diperkirakan sekitar 1,9 juta warga Gaza dari total populasi 2,4 juta jiwa saat ini masih mengungsi dan hidup dalam kondisi sulit di tempat penampungan darurat, menyusul kerusakan luas pada permukiman.
Baca juga: Global Sumud Kembali Berangkat Menuju Gaza, Kini Start dari Barcelona
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025, kondisi di lapangan belum menunjukkan perbaikan signifikan, dengan kekurangan makanan, perlengkapan medis, serta kebutuhan dasar lainnya yang masih berlangsung.
Konflik berkepanjangan di Gaza telah menyebabkan lebih dari 72 ribu warga Palestina meninggal dunia dan sekitar 172 ribu lainnya mengalami luka-luka, serta mengakibatkan kerusakan hingga sekitar 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut.
Situasi ini menegaskan bahwa krisis kemanusiaan di Jalur Gaza masih membutuhkan perhatian serius dari komunitas internasional, terutama dalam memastikan kelancaran distribusi bantuan bagi warga sipil yang terdampak konflik.