Doa Berlinang Air Mata Vania Jamaah Haji DIY Termuda untuk Sang Ayah
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Laporan langsung reporter MUI Digital dari Madinah, Arab Saudi
Madinah, MUI Digital –Adalah Vania Ulayya, siswi kelas VIII SMP IT Assalam Sanden yang tercatat sebagai jamaah haji termuda dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada musim haji tahun ini.
Sosok remaja putri berusia 14 tahun mencuri perhatian di antara ribuan jamaah haji asal DIY. Keberangkatan Vania ke Tanah Suci bukan sekadar perjalanan ibadah biasa.
Ia membawa amanah besar dari mendiang ayahnya. Semula, porsi haji tersebut merupakan milik sang ayah. Namun, kondisi kesehatan akibat gagal ginjal membuatnya tidak dapat menunaikan ibadah haji.
Keluarga kemudian sepakat melimpahkan kuota tersebut kepada Vania. Ibunda Vania, Heni Dwi Astuti, mengaku awalnya mengira pelimpahan hanya bisa dilakukan bagi yang berusia minimal 18 tahun.
Namun, pada akhir 2025, mereka mendapat informasi bahwa pelimpahan bisa dilakukan sejak usia 13 tahun. “Setelah tahu syaratnya memungkinkan, kami langsung mengurus administrasi,” ujar Heni saat ditemui di Madinah.
Baca juga: Doa Berlinang Air Mata Vania Jamaah Haji DIY Termuda untuk Sang Ayah
Tak lama setelah proses pelimpahan selesai, sang ayah wafat. Sejak itu, Vania berangkat ke Tanah Suci dengan membawa doa dan kerinduan untuk almarhum.
Menyadari bahwa ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik, Vania melakukan berbagai persiapan. Remaja kelahiran 12 Januari 2012 itu rutin berolahraga, terutama joging di pagi hari, untuk menjaga kebugaran tubuh menghadapi cuaca ekstrem dan padatnya aktivitas di Arab Saudi.
Ia juga disiplin mengikuti manasik haji agar memahami rukun dan wajib haji dengan baik. Setibanya di Tanah Suci, haru tak terbendung saat Vania mendapat kesempatan berdoa di Raudhah. Di tempat mustajab tersebut, ia memanjatkan doa untuk ayahnya.
“Saya doakan Ayah mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Saya juga mendoakan Ibu agar sehat dan rezekinya lancar, serta doa untuk keluarga dan teman-teman di Indonesia,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Di balik kisah Vania, ada peran besar sang ibu. Heni, seorang wiraswasta, kini berjuang membesarkan putri tunggalnya seorang diri. Ia juga mengenang perjalanan panjang sebelum kehadiran Vania. Menikah pada 2005, Heni baru dikaruniai anak setelah enam tahun menanti.
Saat Vania lahir, ia langsung mendaftarkan haji sebagai bentuk nazar. “Saya diajarkan orang tua untuk mendahulukan ibadah sebelum kebutuhan duniawi. Jadi setelah Vania lahir, kami langsung daftar haji,” kenangnya.
Kini, bagi Heni, Vania adalah anugerah terbesar. Ia berkomitmen untuk terus mendampingi putrinya hingga dewasa, menjaga amanah dan nilai-nilai yang ditinggalkan sang suami. “Insya Allah akan saya gandeng terus,” ucapnya haru.