Yerusalem yang Tertekan: Ketika Ibadah, Rumah, dan Penghidupan Sama-sama Terancam
Dhea Oktaviana
Penulis
Admin
Editor
Yerusalem, MUI Digital – Situasi di Yerusalem sepanjang April 2026 dilaporkan semakin memanas.
Laporan resmi Pemerintah Provinsi Yerusalem mencatat lonjakan penyerbuan ke kompleks Masjid Al-Aqsa, bersamaan dengan meningkatnya penangkapan, pembongkaran, serta kebijakan yang dinilai mempersempit ruang hidup warga Palestina.
Dalam laporan tersebut, sedikitnya 4.112 pemukim Israel disebut memasuki Al-Aqsa setelah masjid kembali dibuka pada 9 April, usai ditutup selama 40 hari. Aksi tersebut berlangsung di bawah pengamanan aparat Israel.
Pemerintah Provinsi Yerusalem menilai, berbagai peristiwa itu bukan kejadian terpisah, melainkan bagian dari pola kebijakan yang saling terhubung antara aparat keamanan, sistem hukum, dan proyek permukiman.
“Pelanggaran meningkat secara sistematis dalam kerangka upaya memaksakan realitas baru di kota yang diduduki,” demikian isi laporan tersebut, dikutip dari Aljazeera, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: Penyerbuan Al-Aqsa Kembali Terjadi, Pembatasan Ibadah dan Aksi Provokatif Picu Kecaman
Tekanan keamanan dan kekerasan
Selain penyerbuan, laporan juga mencatat meningkatnya korban dan tindakan represif. Seorang remaja Palestina, Muhammad Rayan (17), gugur dalam bentrokan di wilayah barat laut Yerusalem. Jenazahnya dilaporkan masih ditahan, menambah daftar kasus serupa.
Sepanjang April, setidaknya 49 warga mengalami luka akibat tembakan, kekerasan fisik, maupun paparan gas air mata.
Sementara itu, sembilan pekerja dari Tepi Barat dilaporkan terluka saat mencoba melintasi tembok pemisah menuju Yerusalem.
Laporan tersebut juga menggarisbawahi meningkatnya aktivitas kelompok ekstremis di kawasan Al-Aqsa.
Sejumlah tindakan yang dinilai provokatif tercatat, mulai dari upaya membawa hewan kurban ke dalam kompleks, pengibaran bendera Israel, hingga pelaksanaan ritual keagamaan di dalam area masjid.
Kunjungan berulang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, turut menjadi sorotan. Ia disebut telah memasuki kompleks Al-Aqsa sebanyak 15 kali sejak menjabat pada akhir 2022.
Selain itu, pembatasan juga diberlakukan, termasuk larangan pengumandangan azan Maghrib pada 20 April yang bertepatan dengan peringatan militer Israel di sekitar Tembok Barat.
Penangkapan, penggusuran, dan pembongkaran
Sepanjang bulan yang sama, sebanyak 138 warga Palestina ditangkap, termasuk anak-anak dan perempuan. Tercatat pula 20 vonis penjara serta 13 penahanan administratif tanpa proses pengadilan.
Sebanyak 95 perintah pengusiran juga dikeluarkan, banyak di antaranya terkait akses ke Al-Aqsa. Di antara tokoh yang terdampak adalah Raed Salah dan Kamal Al-Khatib.
Operasi militer juga dilakukan di sejumlah wilayah utara Yerusalem, seperti Al-Ram, Kafr Aqab, dan Kamp Qalandia, yang disertai penggerebekan rumah serta perusakan properti warga.
Selain itu, tercatat 33 operasi pembongkaran bangunan, termasuk 17 pembongkaran paksa, serta puluhan pemberitahuan administratif terkait penghentian pembangunan dan pengusiran.
Dalam sektor permukiman, laporan mencatat enam rencana baru, termasuk pembangunan ratusan unit hunian serta fasilitas pendidikan agama di kawasan Sheikh Jarrah.
Tekanan ekonomi juga meningkat. Produk dari enam perusahaan makanan Palestina dilaporkan dilarang masuk ke Yerusalem.
Pembatasan tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga aktivitas sosial dan keagamaan. Kawasan Kota Tua dilaporkan dijadikan zona militer saat perayaan “Sabtu Terang”, dengan pembatasan akses ke Gereja Makam Kudus.
Sementara itu, pelajar di wilayah Jabal al-Mukaber juga menghadapi pembatasan mobilitas akibat kebijakan di pos pemeriksaan.
Dalam perkembangan lain, Presiden Argentina Javier Milei dilaporkan mengunjungi kawasan Tembok Buraq yang berada di bawah kontrol Israel sejak 1967.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa situasi di Yerusalem sepanjang April menunjukkan peningkatan tekanan yang tidak hanya bersifat keamanan, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi, sosial, dan keagamaan warga Palestina.