Tak Gengsi, Perwira AKP Bergelar Doktor Ini Bertugas Sebagai Kepala Terminal Bus Salawat Haji
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Laporan MUI Digital, langsung dari Makah, Arab Saudi
Makkah, MUI Digital — Keputusan bertugas sebagai kepala pos terminal terbilang tidak biasa.
Di saat banyak orang memandang pangkat dan gelar sebagai simbol kehormatan yang identik dengan ruang kerja nyaman, sosok ini justru memilih terjun langsung melayani jamaah haji di lapangan.
Ia adalah Iswan Brandes, seorang perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) dari Polda Gorontalo yang juga menyandang gelar doktor.
Di tengah terik suhu mencapai 42 derajat Celsius, sosok berseragam sederhana tampak sibuk mengatur lalu lintas bus salawat di Terminal Syib Amir, Makkah.
“Saya sengaja berdoa minta kepada Allah untuk bisa melayani jamaah haji asal Sulawesi yang tahun ini banyak ditempatkan di wilayah Syisyah. Karena busnya di Terminal Syib Amir, saya meminta agar bisa menjadi kepala pos di sini,” ujar Brandes.
Dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026, Brandes sebenarnya sempat ditawari posisi strategis sebagai kepala sektor.
Namun, tawaran tersebut ia tolak. Ia justru mengajukan diri untuk kembali bertugas di terminal, melanjutkan pengalamannya sebagai kepala pos Terminal Ajyad pada musim haji 2024.
Menurutnya, pelayanan transportasi menjadi salah satu kunci kenyamanan jamaah. Ia pun tertantang untuk meningkatkan tingkat kepuasan jamaah yang pada tahun sebelumnya mencapai 93 persen.
“Saya ingin berkontribusi langsung meningkatkan pelayanan, khususnya di sektor transportasi bus shalawat,” katanya.
Di balik tugas berat tersebut, Brandes tetap menunjukkan dedikasi tinggi. Bahkan pada hari ulang tahunnya yang jatuh pada Selasa (5/5/2026), ia memilih merayakannya di tengah aktivitas terminal.
Dalam sebuah video yang dibagikan kepada rekan-rekannya, Brandes mengungkapkan rasa syukurnya.
“Mungkin orang membayangkan ulang tahun dirayakan bersama keluarga. Tapi hari ini saya merayakannya di tengah terminal, di bawah terik matahari. Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk melayani tamu Allah,” tuturnya.
Ia juga berharap sisa usianya dapat menjadi bekal untuk kehidupan yang lebih baik, sekaligus menyelesaikan tugas pelayanan kepada jamaah haji dengan maksimal.
Kisah Brandes menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari jabatan atau gelar, melainkan dari ketulusan dalam melayani.