Konten Keislaman di Tengah Gelombang Digital: Literasi Islam Wasathiyah Jadi Bintang Penunjuk Arah
Admin
Penulis
Oleh
KH. Masduki Baidlowi
Ketua Dewan Pimpinan MUI Bidang Informasi dan Komunikasi
Di tengah arus digitalisasi yang kian deras, cara umat Islam Indonesia memahami dan mengakses ajaran agamanya mengalami transformasi besar. Kini, belajar agama tak lagi hanya melalui pengajian di masjid atau majelis taklim, tetapi juga melalui layar ponsel. Fenomena ini membawa peluang besar, sekaligus risiko serius.
Data hasil Survei PPIM UIN Jakarta 2017 menunjukkan bahwa hampir 51% pelajar dan mahasiswa di Indonesia mencari pengetahuan agama melalui internet dan media sosial — angka yang mengungguli referensi dari buku cetak. Tren ini makin menguat seiring penetrasi internet yang pada awal 2024 telah menjangkau hampir 80% populasi. “Ustaz Google”, video TikTok bertema dakwah, dan aplikasi tafsir digital kini menjadi rujukan utama bagi generasi muda Muslim.
Digitalisasi membuka ruang baru yang revolusioner. Dakwah dapat menembus batas geografis dan waktu. Ceramah ulama besar bisa dinikmati dari desa terpencil di Indonesia Timur. Anak muda bisa belajar hadits atau fikih melalui podcast, infografis, atau sesi tanya-jawab daring. Ini era baru: ruang maya telah menjadi mimbar, dan algoritma menjadi penjaga pintunya.