Di Balik Ketekunan dan Tekad Kuat Jumaria ke Tanah Suci hingga Dinobatkan sebagai 'Ikon Haji 2026'
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Laporan jurnalis MUI Digital, dari Madinah, Arab Saudi
Madinah, MUI Digital — Jamaah haji asal Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu kini menjadi sorotan setelah ditetapkan sebagai “Ikon Haji 2026”.
Dia adalah Jumaria. Sosok yang kini berusia lebih dari 70 tahun ini akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Kota Suci Madinah setelah puluhan tahun menabung dari hasil bekerja di sawah dan kebun.
Sosok Jumaria viral di media sosial setelah kisah perjuangannya diunggah oleh Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi melalui akun @makkahroute.
Ia dipilih sebagai Ikon Haji 2026 atas rekomendasi Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia. Jumaria tergabung dalam Embarkasi UPG Kloter 14.
Di balik wajah renta dan kesederhanaannya, tersimpan kisah perjuangan panjang yang penuh ketekunan dan pengorbanan.
Ketua Kloter 14 UPG, Siti Hawaisyah, mengatakan Jumaria dipilih karena memiliki kondisi istithaah kesehatan yang sangat baik.
Baca juga: Ketika Emas Hitam Mengantarkan Sodiyah ke Tanah Suci
Menurutnya, kondisi fisik dan mental Jumaria dinilai ideal untuk menjalankan ibadah haji. “Itu buktinya tidak merah kartu kesehatannya, berarti dia sehat,” ujar Siti Hawaisyah.
Meski telah lanjut usia, Jumaria dikenal memiliki fisik yang bugar dan mandiri. Bahkan selama mengikuti manasik haji di daerahnya, ia tidak pernah absen dari total 80 kali pertemuan. “Biar hujan atau panas, pasti dia datang,” kata Siti.
Kebugaran fisik Jumaria bahkan membuat jamaah lain kewalahan mengimbanginya saat berjalan. “Sampai-sampai saya berjalan cepat, dia masih bisa lari tarik saya,” ungkap Marwati, rekan satu kamar Jumaria.
Baca juga: Doa Berlinang Air Mata Vania Jamaah Haji DIY Termuda untuk Sang Ayah
Di balik kondisi fisiknya yang prima, perjalanan hidup Jumaria ternyata tidak mudah. Ia hidup seorang diri tanpa suami dan anak di rumah sederhana yang berada di tengah area persawahan.
Sehari-hari, Jumaria bekerja sebagai petani sawah dan buruh kebun demi memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menabung untuk berhaji.
Sedikit demi sedikit hasil panen dan upah kerja ia sisihkan selama hampir 20 tahun. “Kalau sudah panen padi, aku jual, baru kusimpan,” tutur Jumaria kepada Media Center Haji.
Tak hanya hasil sawah, upah kecil dari bekerja di kebun milik orang lain juga ia tabung dengan disiplin. “Kadang 500, kadang 700. Ada lagi punya kebun yang kukerja, dia kasih 200, saya simpan,” katanya.
Karena tidak memiliki tempat khusus untuk menyimpan uang, Jumaria menaruh tabungannya di berbagai tempat sederhana di rumahnya, mulai dari bawah kasur hingga ember yang ditutup kain bekas agar tidak diketahui orang lain.
Tabungan itu terkumpul perlahan selama hampir dua dekade. Dalam kondisi hidup serba sederhana, Jumaria memilih mempertahankan uang hajinya tetap utuh meski harus makan seadanya.
“Kalau tidak ada lauk, saya masak daun ubi saja,” ujarnya. Sesekali, ia memasak telur dari ayam peliharaannya untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagi Jumaria, hidup sederhana bukanlah masalah selama impiannya menuju Tanah Suci tetap terjaga. Kini, seluruh perjuangan panjang itu akhirnya terbayar.
Di Tanah Suci, Jumaria hanya bisa bersyukur karena cita-cita yang ia rawat selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan.
“Aku berdoa supaya panjang umur saja, semoga dikasih ke sini lagi,” ucapnya penuh haru.