Buka Rakernas Kebencanaan, Sekjen MUI Tekankan Penguatan Kapasitas Relawan
Miftahul Jannah
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Bogor, MUI Digital — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, secara resmi membuka Rapat Kerja Lembaga Advokasi dan Koordinasi Penanggulangan Bencana (LAK-PB MUI) di Bogor, Jumat (1/5/2026).
Buya Amirsyah menekankan pentingnya penguatan kapasitas, kompetensi, serta sertifikasi relawan dalam menghadapi kompleksitas bencana di Indonesia.
Dalam sambutannya sebagai pembuka acara, Buya Amirsyah menegaskan bahwa Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi yang dipengaruhi oleh faktor geografis, iklim tropis, serta aktivitas manusia, termasuk kerusakan lingkungan seperti sungai yang memicu bencana hidrometeorologi.
“Kalau kita ingin memahami dan menghadapi bencana, kita harus mampu mengantisipasi dan mempersiapkan diri dengan baik,” ujarnya.
Baca juga: Perkuat Kolaborasi dan Fundraising, MUI Buka Peluang Kerja Sama Penanggulangan Bencana
Dia menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya bersifat normatif, tetapi harus diwujudkan melalui langkah konkret, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kebencanaan.
Menurutnya, relawan ke depan tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman, tetapi harus memiliki standar kompetensi yang jelas dan diakui secara resmi melalui sertifikasi.
“Relawan harus memiliki kualifikasi dan sertifikasi. Ini penting agar mereka tidak hanya hadir membantu, tetapi benar-benar kompeten dalam menjalankan tugas di lapangan,” katanya.
Buya Amirsyah juga mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mendorong kerja sama dengan lembaga terkait untuk menyiapkan sistem sertifikasi relawan, guna memastikan penanganan bencana yang lebih profesional dan terukur.
Baca juga: Gelar Raker, LAK PB MUI Susun Strategi Penanggulangan Bencana
Selain itu, dia menyoroti pentingnya kemampuan komunikasi dalam situasi krisis. Menurutnya, relawan dan pengelola harus mampu menyampaikan informasi secara jelas agar masyarakat tidak panik di tengah keterbatasan data.
“Dalam situasi bencana, masyarakat membutuhkan kepastian. Kita harus mampu memberikan panduan yang menenangkan,” ujarnya.
Dia juga menekankan perlunya penguatan koordinasi antarorganisasi di lingkungan MUI yang jumlahnya terus berkembang, agar seluruh potensi umat dapat terintegrasi secara optimal dalam penanggulangan bencana.
Di sisi lain, Buya Amirsyah mendorong penerapan sistem manajemen yang terstruktur mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi dengan memanfaatkan teknologi informasi guna meningkatkan efektivitas dan transparansi program.
“Perencanaan harus jelas, pelaksanaan harus terukur, dan evaluasi harus berkelanjutan,” tegasnya.
Melalui pembukaan rakernas ini, MUI berharap dapat memperkuat sistem penanggulangan bencana berbasis umat yang lebih profesional, responsif, dan adaptif terhadap berbagai tantangan, baik bencana alam maupun bencana sosial.