Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Qiyamul Lail sebagai Mode Jalan Keluar dari Keresahan Hidup

7 menit baca 645 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Shalat Tahjud
Ilustrasi seorang muslim shalat Tahajud. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Pernahkah merasa sangat lelah dengan tumpukan masalah hidup yang datang bertubi-tubi?

Mulai dari tekanan ekonomi, tuntutan kerja, hingga konflik yang tidak ada habisnya. Di titik itu, rasanya kapasitas diri sudah tidak mampu lagi menampung semuanya.

Respons paling manusiawi yang sering dilakukan biasanya adalah menarik diri dari dunia luar: masuk kamar, mengunci pintu, lalu tidur berselimut. Istilah kerennya anak muda sekarang, “healing” lewat tidur atau bed-rotting.

Menariknya, fase “menarik diri” dan “berselimut” ini juga pernah dialami oleh manusia paling mulia, Rasulullah SAW.

Baca juga: Al-Muzzammil: Misteri di Balik Sapaan “Orang Berselimut” pada Nabi

Di awal-awal masa kenabian, ketika pundak beliau mulai memikul beban dakwah yang sangat berat, jumlah pengikut masih bisa dihitung jari. Secara finansial dan panggung politik pun, posisi beliau belum diperhitungkan di mata kaum Quraisy.

Ada momen di mana tekanan batin itu begitu hebat, hingga Rasulullah SAW memilih untuk menelungkupkan diri dan bersembunyi di balik selimutnya.

Tentu saja, sekadar menarik diri dan berlama-lama di bawah selimut tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Sadar akan kondisi psikologis hamba-Nya, Allah SWT tidak menegur beliau dengan keras, melainkan menyapa dengan nada yang sangat mesra: “Wahai orang yang berselimut (Ya Ayyuhal Muzzammil)...”

Lalu dilanjutkan di surat Al-Muzzammil ayat 2 dan 3, Allah langsung memberikan sebuah “resep” yang luar biasa sebagai jalan keluar: “Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurangilah sedikit dari separuh itu.”

Allah memerintahkan Rasulullah untuk bangun di sepertiga malam dan mendirikan shalat lail (Tahajud). Lalu mengapa malam hari? Tidak lain karena ketika dunia sedang terlelap, di situlah waktu terbaik untuk men-cas ulang energi jiwa yang kering.

Shalat malam adalah modal spiritual paling dahsyat untuk menguatkan mental sebelum kembali bertarung menghadapi kerasnya realitas kehidupan di siang hari.

Baca juga: Surat Al-‘Alaq dan Konsep Syahadat

Mengapa Shalat Malam Pernah Menjadi Kewajiban?

Banyak yang mengira bahwa shalat lima waktu adalah perintah ibadah yang pertama kali turun dalam Islam. Padahal, sejarah mencatat hal yang berbeda bahwa di awal fajar kerasulan, sebelum perintah shalat lima waktu itu ada, Allah SWT memberikan satu instruksi yang bersifat wajib dan mengikat bagi Rasulullah SAW dan para sahabat, yaitu qiyamul lail (shalat malam).

Di hadapan tugas kenabian yang sangat berat serta misi menyebarkan risalah yang begitu masif, Rasulullah SAW dihadapkan pada realitas keterbatasan manusiawinya.

Beban itu kian terasa menghimpit ketika beliau harus menghadapi gelombang penolakan, perlawanan, hingga pertentangan keras dari pemuka kafir Quraisy.

Baca juga: Shalat Tahajud Lengkap: Tata Cara Hingga Doa

Dalam psikologi konflik modern, respons natural manusia saat diserang adalah bertahan atau balas menyerang. Namun, “kurikulum” Allah bekerja dengan cara yang sangat unik. Allah tidak serta-merta menyuruh Rasulullah untuk membalas perlakuan mereka, tidak juga menyuruhnya menyusun strategi perang atau melakukan pembelaan politik.

Sebaliknya, Allah justru memerintahkan Rasulullah untuk masuk ke dalam “ruang sunyi” di sepertiga malam melalui qiyamul lail. Allah hendak mengokohkan fondasi jiwa kekasih-Nya terlebih dahulu sebelum beliau merombak tatanan dunia di siang hari.

Shalat malam diposisikan sebagai cermin spiritual bagi seorang hamba untuk merenungi hakikat dirinya yang bermula dari “al-‘alaq, segumpal darah yang lemah, terbatas, dan tidak memiliki daya apa-apa.

Lewat untaian berdiri, rukuk, sujud, dan duduk di keheningan malam, segala bentuk ego, kecemasan, dan kesombongan manusiawi dikikis habis.

Di atas sajadah, seorang hamba mengosongkan dan menfanakan dirinya, menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa di hadapan Sang Pencipta. Lalu pada titik kepasrahan total inilah, pertolongan, petunjuk, dan taufik Allah justru akan turun.

Menariknya, ketika Allah sudah “turun tangan” memberikan petunjuk, solusi yang hadir sering kali datang dari arah yang sama sekali tidak terduga. Jalan keluar itu kerap berada di luar nalar manusia dan melompati segala kalkulasi logika.

Baca juga: 5 Keutamaan Shalat Tahajud yang Disarikan dari Alquran dan Hadits

Shalat Malam: Kebutuhan Utama Para Penggerak Perubahan

Pada akhirnya, harus disadari satu hal: qiyamul lail bukanlah beban ibadah, melainkan sebuah kebutuhan mutlak. Ibadah ini adalah kebutuhan utama bagi Rasulullah SAW, juga bagi siapa pun hari ini yang memosisikan diri sebagai pelanjut atau pewaris estafet risalah Islam.

Ketika terjun ke masyarakat untuk membawa perubahan, pasti akan berbenturan dengan kompleksnya problematika umat dan beratnya tantangan dakwah.

Di titik itulah akan sadar, semua hambatan itu mustahil bisa diurai hanya dengan mengandalkan kalkulasi logika manusia atau kekuatan fisik semata. Ada wilayah-wilayah sulit dalam hidup yang hanya bisa ditembus oleh intervensi Allah.

Secara fitrah sosiologis dan logika psikologi, realitas ini membuktikan bahwa ketahanan mental dan spiritual adalah modal paling utama (induk modal) dalam menghadapi setiap tekanan eksternal.

Siapa pun hari ini, apakah seorang aktivis, pendidik, pemimpin institusi, atau pembawa misi perubahan yang sedang berjuang di jalan dakwah, tidak akan pernah bisa bertahan tanpa adanya ketenangan batin (inner peace) dan kejernihan pikiran (mental clarity). Di sinilah qiyamul lail hadir menawarkan diri sebagai sebuah sistem pendukung (support system) dan jalan keluar yang paling tangguh.

Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa

Malam hari adalah waktu untuk melepaskan seluruh kelelahan ego, setelah seharian bertarung di dunia nyata. Melalui shalat malam, jiwa di-cas ulang dengan energi transendental langsung dari pusat ketenangan universal.

Jadi, jika hari ini, merasa beban dakwah dan perjuangan hidup terasa semakin menghimpit, itu adalah sinyal bahwa jiwa sedang merindukan keheningan sepertiga malam.

Jangan paksakan logika yang terbatas untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Ambil wudhu, bentangkan sajadah, dan penuhilah kebutuhan spiritual di hadapan Allah. Karena dari sujud-sujud panjang di malam hari itulah, kekuatan besar untuk merubah dunia di siang hari dilahirkan.

Nalar di Balik Wajibnya Shalat Malam di Awal Islam

Seorang pakar tafsir terkemuka, Imam Al-Qurthubi, menjelaskan mengapa ayat di awal surat Al-Muzzammil itu bermakna wajib. Logikanya sangat kuat: redaksi ayat tersebut berbentuk perintah langsung yang tegas.

Lebih dari itu, sebuah ibadah sunnah (anjuran) tidak mungkin membatasi durasi waktu secara detail dan ketat, seperti perintah untuk bangun separuh malam atau sepertiga malam. Pembatasan waktu sedetail itu secara hukum fiqih menandakan bahwa ibadah tersebut berstatus sangat penting dan wajib.

Fakta sejarah ini dipertegas oleh sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Ketika seorang sahabat bernama Sa’d bin Hisham bertanya tentang bagaimana shalat malamnya Rasulullah SAW, Aisyah menjawab retoris: “Tidakkah kamu membaca: ‘Yā ayyuhal-muzzammil’?” Sa’d menjawab, “Tentu.”

Baca juga: Retorika Alquran Menolak Tuduhan Gila

Aisyah kemudian menjelaskan dengan indah: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan Qiyamul Lail di awal surat ini, maka Nabi SAW dan para sahabat melakukannya selama satu tahun penuh. Allah menahan (tidak menurunkan) penutup surat ini selama dua belas bulan di langit, sampai akhirnya Allah menurunkan ayat yang mengandung keringanan (takhfīf) di akhir surat tersebut (ayat 20). Maka setelah itu, Qiyamul Lail berubah menjadi ibadah sunnah setelah sebelumnya wajib.”

Dapat dibayangkan bagaimana beratnya perjuangan generasi pertama Islam. Selama setahun penuh, di tengah dinginnya malam kota Makkah dan intimidasi yang mengintai, mereka berdiri tegak di atas sajadah selama berjam-jam demi menunaikan perintah wajib ini.

Baru setelah satu tahun berlalu, Allah menurunkan ayat ke-20 sebagai bentuk kasih sayang dan keringanan (at-takhfīf), sehingga status shalat malam berubah menjadi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan).

Meski status hukumnya telah berubah menjadi sunnah, “ruh” dari qiyamul lail tidak pernah pudar. Ia tetap menjadi inti spiritualitas Islam. Seperti yang diabadikan dalam Alquran, yang artinya: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6)

Bagi Rasulullah SAW sendiri, shalat malam telah bergeser dari sebuah “kewajiban formal” menjadi sebuah kebutuhan dan kenikmatan spiritual. Beliau konsisten melakukannya hingga akhir hayat. Bahkan, ada satu momen yang membuat hati kita bergetar: ketika beliau shalat malam begitu lama hingga kakinya bengkak.

Baca juga: Jaminan Petunjuk Allah bagi Pendakwah

Saat ditanya mengapa beliau masih beribadah sekeras itu padahal dosa-dosanya telah diampuni, Rasulullah SAW memberikan jawaban yang menjadi tamparan halus bagi kita: “Afalā akūnu ‘abdan syakūra? (Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?)”

Pertanyaan retoris Nabi ini sesungguhnya adalah sebuah kunci jawaban bagi kehidupan kita. Rasulullah ingin mengajarkan bahwa siapa pun yang ingin mentalnya kuat dalam menjalani kerasnya hidup, dan siapa pun yang ingin menjadi hamba yang tahu diri untuk bersyukur, ia akan menemukan jawabannya di sepertiga malam terakhir.

Qiyamul lail memang berstatus sunnah dalam kitab-kitab fiqih. Namun, ia bukan sunnah biasa. Ia adalah sebuah instrumen mutakhir yang disediakan Allah untuk menyehatkan jiwa yang lelah, mengobati pikiran yang stres, menguatkan semangat yang patah, dan memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Sang Pemilik Alam Semesta.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.