Nabi Ibrahim dan Keabadian Nama di Tengah Budaya Viral
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Idul Adha selalu membawa umat Islam kembali kepada satu nama besar dalam sejarah tauhid, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.
Beliau bukan hanya
seorang nabi, tetapi figur agung yang hidupnya menjadi simpul dari banyak
keteladanan sekaligus: hamba yang mencapai maqam “Khalilullah”, ayah
yang melahirkan generasi saleh, suami yang membangun keluarga di atas iman,
pemimpin spiritual yang mendoakan negeri, dan bapak para nabi yang dari garis
keturunannya lahir para nabi, rasul, serta umat yang bertauhid.
Allah SWT berfirman:
وَاتَّخَذَ
اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
“Dan Allah
menjadikan Ibrahim sebagai Khalil.” (QS. An-Nisa’: 125)
Para mufassir menjelaskan bahwa status “khalil” adalah derajat cinta yang sangat tinggi. Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah mengangkat Ibrahim ke maqam yang mulia karena kesempurnaan tauhid, ketaatan, dan pengorbanannya.
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Dalam Tafsir Al-Qurthubi,
“khullah” dipahami sebagai cinta yang meresap begitu dalam, seakan tidak
menyisakan ruang hati kecuali untuk Allah. Karena itu, Ibrahim tidak disebut Khalilullah
karena hidupnya mudah, tetapi justru karena seluruh hidupnya adalah rangkaian
ujian yang dijawab dengan iman.
Sejak muda, Ibrahim
harus berhadapan dengan lingkungan penyembah berhala, bahkan dengan ayahnya
sendiri. Ia bukan hanya menolak berhala secara teologis, tetapi juga membongkar
fondasi berpikir masyarakat yang menggantungkan hidup kepada sesuatu yang tidak
mampu memberi manfaat dan mudarat.
Dalam konteks hari
ini, “berhala” tidak selalu berupa patung. Ia bisa menjelma menjadi kekuasaan
yang disembah, popularitas yang dikejar mati-matian, materi yang menguasai
hati, atau ego yang membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Di sinilah Nabi
Ibrahim hadir sebagai kritik abadi terhadap peradaban yang kehilangan pusat
spiritual. Dunia modern memang semakin canggih, tetapi tidak otomatis semakin
tenang.
Manusia semakin terkoneksi secara digital, tetapi sering semakin jauh secara batin. Maka pesan Ibrahim yang tersampaikan secara tersirat tetap aktual: peradaban tidak akan selamat bila kehilangan tauhid.
Baca juga: Millata Ibrahim Hanifa dalam Menghadapi Algoritma Mobokratis
Salah satu doa Nabi
Ibrahim yang sangat dalam maknanya adalah firman Allah dalam surat Asy-Syu‘ara
ayat 84:
وَاجْعَلْ لِي
لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ
“Dan jadikanlah aku
buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.”
Ayat ini tidak boleh
dipahami sebagai permintaan popularitas. Nabi Ibrahim tidak sedang meminta agar
namanya terkenal sebagaimana manusia modern mengejar viralitas. Yang beliau
minta adalah “lisana shidqin” atau nama baik yang lahir dari kebenaran,
reputasi yang bersumber dari ketulusan, dan warisan tauhid yang hidup lintas
generasi.
Imam ath-Thabari dalam
Jami‘ al-Bayan menafsirkan “lisana shidqin” sebagai penyebutan
yang baik dan pujian yang benar di tengah umat-umat sesudahnya.
Imam al-Qurthubi
menjelaskan bahwa doa ini dikabulkan Allah dengan menjadikan nama Ibrahim tetap
disebut dengan hormat oleh para pengikut “agama samawi”. Bahkan orang-orang
yang secara praktik menyimpang dari ajaran tauhid Ibrahim pun tetap ingin
menisbatkan diri kepada beliau.
Tafsir Ma‘arif
al-Qur’an juga menjelaskan bahwa doa Nabi Ibrahim ini dikabulkan Allah;
Yahudi, Nasrani, bahkan kaum musyrik Makkah tetap memiliki penghormatan kepada
Ibrahim dan mengaitkan diri dengan millah beliau.
Imam Fakhruddin ar-Razi memberi nuansa yang lebih filosofis. Menurutnya, Nabi Ibrahim tidak meminta kekuasaan yang fana, tetapi meminta keberlanjutan makna. Sebab manusia besar bukan hanya manusia yang hidup panjang, tetapi juga manusia yang nilai-nilainya tetap hidup setelah wafatnya.
Baca juga: Magnet Baitullah dan Panggilan Haji
Di sinilah letak
perbedaan antara popularitas dan keberkahan. Popularitas bisa lahir dari
sensasi, tetapi keberkahan lahir dari kebenaran. Popularitas cepat redup,
tetapi “lisana shidqin” hidup lintas generasi.
Lalu mengapa nama Nabi
Ibrahim diabadikan dalam “Shalawat Ibrahimiyah” yang dibaca umat Islam
di dalam shalat? Jawabannya tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga teologis
dan historis.
Dalam hadis sahih yang
diriwayatkan oleh Ka‘b bin‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu, para sahabat
bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui
bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana kami bershalawat
kepadamu?” Rasulullah SAW menjawab:
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ
مَجِيدٌ
“Ya Allah,
limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau
telah melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha
Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan
keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada
keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa redaksi Shalawat Ibrahimiyah bukan susunan manusia biasa, tetapi tuntunan langsung dari Rasulullah SAW.
Baca juga: Ketika Dolar Naik dan Hati Ikut Panik
Para sahabat sendiri
merasa tidak cukup hanya mencintai Nabi dengan perasaan; mereka ingin
mengetahui bentuk penghormatan yang benar, sahih, dan diridhai Allah. Karena
itu, ketika mereka bertanya tentang cara bershalawat, Nabi SAW mengajarkan
redaksi yang menghubungkan nama beliau dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.
Para ahli hadis
memberi perhatian besar terhadap hadis ini. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath
al-Bari menjelaskan bahwa pertanyaan para sahabat menunjukkan kesungguhan
mereka dalam beradab kepada Rasulullah SAW.
Mereka telah
mengetahui lafaz salam dalam tasyahhud, tetapi belum mengetahui bentuk shalawat
yang paling sempurna. Maka Nabi SAW mengajarkan bentuk yang mengandung doa
rahmat, kemuliaan, keberkahan, serta penyambungan risalah Muhammad SAW dengan
risalah Ibrahim AS.
Imam an-Nawawi dalam Syarh
Shahih Muslim menjelaskan bahwa shalawat kepada Nabi SAW adalah bentuk doa
agar Allah menambah kemuliaan, rahmat, dan derajat Rasulullah SAW. Adapun
penyebutan Ibrahim dalam redaksi shalawat bukan karena kedudukan Nabi Muhammad
SAW lebih rendah, tetapi karena Nabi Ibrahim telah dikenal seluruh umat sebagai
imam tauhid, bapak para nabi, dan sosok yang keberkahannya diakui lintas
generasi.
Maka permohonan
“sebagaimana Engkau bershalawat kepada Ibrahim” adalah permohonan agar Allah
menampakkan kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan umatnya sebagaimana Allah telah
menampakkan kemuliaan Ibrahim dan keluarganya dalam sejarah manusia.
Di sinilah hubungan surat Asy-Syu‘ara ayat 84 menjadi sangat kuat:
وَاجْعَلْ لِي
لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ
“Dan jadikanlah aku
buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.”
Doa Ibrahim agar diberi lisana shidqin dikabulkan Allah dengan cara yang sangat agung. Namanya bukan hanya harum dalam sejarah, tetapi juga hidup dalam ibadah. Ia tidak hanya disebut dalam kitab-kitab suci, tetapi juga dilantunkan dalam shalat umat Islam sepanjang zaman.
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
Setiap kali seorang muslim
membaca tasyahhud akhir dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan
shalawat Ibrahimiyah, saat itu pula nama Ibrahim kembali disebut dengan
kemuliaan. Inilah bentuk paling tinggi dari lisana shidqin: nama yang
dijaga Allah dalam ritual tauhid, bukan sekadar dikenang dalam memori sosial.
Imam al-Qurthubi
ketika menafsirkan surat Asy-Syu‘ara ayat 84 menjelaskan bahwa Allah
mengabulkan doa Nabi Ibrahim dengan menjadikan seluruh pemeluk agama samawi
memuliakan namanya. Bahkan umat Nabi Muhammad SAW secara khusus diperintahkan
mengikuti “millah” Ibrahim yang hanif. Hal ini sejalan dengan firman
Allah:
ثُمَّ
أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
“Kemudian Kami
wahyukan kepadamu: ikutilah agama Ibrahim yang lurus.” (QS. An-Nahl: 123)
Dengan demikian, Shalawat
Ibrahimiyah bukan hanya bacaan doa, tetapi juga deklarasi kesinambungan
risalah. Nabi Ibrahim adalah peletak fondasi tauhid yang hanif, sedangkan Nabi
Muhammad SAW adalah penyempurna dan penutup seluruh risalah tauhid.
Penyebutan keduanya
dalam satu redaksi shalawat memperlihatkan bahwa Islam bukan agama yang
terputus dari sejarah para nabi, tetapi puncak dari mata rantai panjang wahyu
Allah.
Dalam perspektif
ulama, inilah kemuliaan Ibrahim yang sangat istimewa. Ia tidak membangun
popularitas, tetapi Allah membangun keabadian namanya. Ia tidak mencari
panggung dunia, tetapi Allah menjadikan seluruh dunia tauhid sebagai panggung
kesaksiannya. Ia tidak meminta dikenang karena kekayaan, kekuasaan, atau simbol
duniawi, tetapi meminta dikenang karena kebenaran.
Maka Allah mengabadikannya dalam Alquran, dalam manasik haji, dalam kisah qurban, dalam doa untuk negeri, dan dalam shalawat yang dibaca umat Islam di dalam shalat.
Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis
Tentang Fenomena
Viral Hari Ini
Fenomena “viral” hari
ini sesungguhnya menjadi salah satu wajah paling nyata dari perubahan cara
manusia memandang makna hidup.
Di era media sosial,
ukuran keberhasilan sering kali bergeser bukan lagi pada kedalaman ilmu,
kematangan akhlak, atau manfaat yang diberikan kepada masyarakat, tetapi pada
seberapa besar perhatian yang mampu diraih di ruang digital.
Manusia modern hidup
dalam budaya “attention economy” (ekonomi perhatian) di mana perhatian
publik berubah menjadi komoditas yang diperebutkan.
Pakar psikologi sosial
Jonathan Haidt dalam berbagai kajiannya tentang budaya digital menjelaskan
bahwa media sosial membentuk generasi yang semakin bergantung pada validasi
eksternal.
Manusia tidak lagi cukup merasa bernilai karena kualitas dirinya, tetapi karena dilihat, disukai, dibagikan, dan dibicarakan orang lain. Dalam dunia seperti itu, viralitas sering menjadi candu psikologis baru.
Baca juga: Jaminan Petunjuk Allah bagi Pendakwah
Sosiolog kontemporer
Byung-Chul Han dalam The Burnout Society dan The Transparency Society
menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam tekanan untuk terus tampil,
terlihat, dan mendapat perhatian.
Akibatnya, manusia
kehilangan ruang kontemplasi dan kedalaman batin. Segala sesuatu didorong
menjadi cepat, instan, dan sensasional. Yang penting ramai, meski belum tentu
bernilai.
Maka di titik inilah
Nabi Ibrahim menjadi sangat relevan. Beliau hidup bukan untuk mencari perhatian
manusia, tetapi mencari ridha Allah. Ibrahim tidak membangun citra, tetapi
membangun tauhid. Ia tidak mengejar viralitas sesaat, tetapi kebenaran yang
hidup lintas zaman.
Karena itu, Alquran
tidak pernah menggambarkan Ibrahim sebagai sosok yang haus pengakuan publik.
Bahkan dalam banyak fase hidupnya, beliau justru berada dalam kesendirian:
ditolak ayahnya, dilawan kaumnya, dibakar penguasa, meninggalkan keluarga di
padang tandus, dan diuji dengan pengorbanan yang sangat berat.
Ibrahmin menjalani
seluruh ujian hidup itu dengan penuh ketulisan. Lalu dari ketulusan itulah
Allah mengangkat namanya. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara viralitas
modern dan kemuliaan dalam Islam.
Viralitas modern
sering bergantung pada algoritma. Sedangkan kemuliaan dalam Islam bergantung
pada keberkahan. Viralitas sering lahir dari sensasi. Sedangkan keberkahan
lahir dari ketulusan dan kebenaran. Viralitas bisa membuat seseorang terkenal
beberapa hari. Tetapi lisana shidqin membuat seseorang hidup dalam
sejarah peradaban manusia.
Karena itu, Nabi
Ibrahim tidak meminta menjadi terkenal, tetapi beliau berdoa:
وَاجْعَلْ لِي
لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ
“Dan jadikanlah aku
buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.”
Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa doa ini menunjukkan orientasi spiritual yang sangat tinggi. Ibrahim tidak meminta kekuasaan duniawi, tetapi meminta agar nilai-nilai kebenaran tetap hidup setelah dirinya tiada. Sebab manusia besar bukan hanya manusia yang terkenal saat hidup, tetapi juga manusia yang pengaruh kebaikannya tetap hidup setelah wafat.
Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan
Dalam Islam, hakikat
kemuliaan bukanlah banyaknya manusia yang mengenal nama kita, tetapi sejauh
mana Allah menerima amal kita. Karena itu, para ulama salaf justru sangat takut
terhadap popularitas kosong.
Imam asy-Syafi‘i
pernah berdoa agar manusia mengambil manfaat dari ilmunya tanpa harus mengenal
dirinya. Ayyub as-Sikhtiyani mengatakan bahwa seorang alim sejati semakin
bertambah ilmunya, semakin bertambah pula rasa takutnya terhadap ketenaran.
Sufyan ats-Tsauri
bahkan menyebut popularitas sebagai “fitnah” yang sangat berat bagi hati
manusia, karena ia dapat melahirkan riya’, ujub, dan ketergantungan pada pujian
manusia.
Dalam banyak riwayat,
para ulama salaf justru berusaha menyembunyikan amal-amal terbaik mereka agar
tetap ikhlas di sisi Allah.
Berbeda dengan budaya
hari ini yang sering mendorong manusia untuk mempertontonkan hampir segala hal:
ibadah dipamerkan, sedekah direkam, bahkan penderitaan pun kadang dijadikan
konten demi perhatian publik.
Dalam dunia seperti
itu, kisah Nabi Ibrahim hadir membawa pelajaran penting bahwa nilai sebuah amal
tidak diukur dari seberapa ramai dibicarakan manusia, tetapi seberapa tulus ia
dilakukan karena Allah.
Karena itulah Allah mengabadikan Nabi Ibrahim bukan melalui sensasi, tetapi melalui ibadah. Namanya hidup dalam Alquran, dalam manasik haji, dalam kisah qurban, dan dalam shalawat yang dibaca miliaran manusia setiap hari. Tentu ini sangat menarik.
Baca juga: Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah
Manusia modern
mengejar “trending” agar dikenang beberapa saat. Sedangkan Nabi Ibrahim
mengejar ridha Allah, lalu Allah menjadikannya abadi sepanjang zaman.
Maka sesungguhnya
pertanyaan penting bagi manusia hari ini harusnya bukanlah: “Bagaimana agar aku
viral?” Tetapi: “Apakah hidupku memiliki nilai yang layak diwariskan?”
Sebab pada hakikatnya viralitas
belum tentu bernilai. Tetapi kebenaran yang tulus akan selalu menemukan
jalannya menuju keabadian.
Nama baik tidak
dibangun dengan pencitraan, tetapi dengan kebenaran. Popularitas dapat dibeli,
tetapi keberkahan tidak. Viralitas bisa direkayasa, tetapi lisana shidqin
hanya dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba yang tulus, benar, dan berkorban
untuk agama-Nya.
Nabi Ibrahim
mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan ketika manusia ramai menyebut nama
kita saat kita hidup, tetapi ketika Allah menjadikan nilai kebaikan kita tetap
hidup setelah kita tiada.
Nabi Ibrahim juga
menjadi teladan besar dalam keluarga. Ia bukan hanya membangun rumah tangga,
tetapi juga membangun peradaban iman dari rumah tangga. Doanya tidak berhenti pada
dirinya:
رَبِّ
اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
“Ya Tuhanku,
jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat, dan juga dari keturunanku.” (QS. Ibrahim: 40)
Doa ini menunjukkan bahwa orientasi pendidikan Ibrahim bukan hanya keberhasilan duniawi anak, tetapi keterhubungan anak dengan Allah. Inilah pesan besar bagi keluarga Muslim hari ini.
Baca juga: Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern
Banyak orang tua
bekerja keras agar anak-anaknya sukses secara akademik, ekonomi, dan sosial.
Itu tentu baik. Tetapi Ibrahim mengajarkan bahwa puncak keberhasilan orang tua
adalah ketika anak-anak mengenal Allah, mencintai shalat, dan hidup dalam
ketaatan.
Dialog Ibrahim dengan
Ismail dalam surat Ash-Shaffat ayat 102 juga sangat penting. Ketika menerima
perintah menyembelih Ismail, Ibrahim berkata:
يَا بُنَيَّ
إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
Kalimat “ya bunayya”
adalah panggilan kasih sayang. Ibrahim tidak memaksakan perintah dengan bahasa
kasar, tetapi mengajak anaknya masuk ke dalam kesadaran iman. Ismail pun
menjawab:
يَا أَبَتِ
افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ
الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Ketaatan Ismail tidak
lahir secara tiba-tiba. Ia adalah buah dari rumah yang dibangun dengan tauhid,
dialog, keteladanan, dan cinta kepada Allah.
Sebagai suami, Ibrahim
juga memberi pelajaran besar melalui kisah Hajar. Dalam Shahih al-Bukhari
disebutkan bahwa ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah Makkah,
Hajar bertanya apakah itu perintah Allah. Setelah mengetahui bahwa itu perintah
Allah, ia berkata bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka.
Ucapan Hajar ini adalah puncak tawakal seorang istri beriman. Ia tidak memahami seluruh skenario takdir, tetapi ia percaya kepada Allah.
Baca juga: Menyoal Orang Tua yang Mengeluarkan Anak dari Ahli Waris
Maka dari keluarga
kecil yang ditinggalkan di lembah tandus itu lahirlah Zamzam, ada Makkah, ada Ka’bah
sebagai pusat ibadah, dan kelak lahirlah Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para
nabi.
Nabi Ibrahim juga
mengajarkan bahwa kesalehan tidak boleh berhenti pada ruang privat. Kesalehan
harus melahirkan kepedulian sosial dan doa untuk negeri. Beliau berdoa:
رَبِّ اجْعَلْ
هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا
“Ya Tuhanku,
jadikan negeri ini negeri yang aman.” (QS. Al-Baqarah: 126)
Menariknya, yang
pertama diminta Ibrahim adalah keamanan. Sebab tanpa keamanan, agama sulit
dijalankan dengan tenang, pendidikan tidak tumbuh, ekonomi terganggu, keluarga
gelisah, dan masyarakat mudah terpecah.
Setelah itu beliau memohon rezeki bagi penduduknya. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Ibrahim, spiritualitas dan kesejahteraan sosial tidak dapat dipisahkan.
Baca juga: Jangan Meninggalkan Anak dalam Keadaan Lemah! Simak Pesan Serius Ayat Alquran Ini
Dalam konteks
Indonesia hari ini, doa Ibrahim terasa sangat relevan. Negeri ini membutuhkan
keamanan, persatuan, keberkahan ekonomi, kepemimpinan amanah, dan generasi yang
tidak tercerabut dari tauhid.
Tantangan bangsa bukan
hanya kemiskinan dan ketimpangan, tetapi juga korupsi, krisis akhlak, budaya
pamer, judi online, kekerasan, disinformasi, serta rapuhnya keluarga.
Maka Idul Adha
seharusnya tidak berhenti pada penyembelihan hewan qurban, tetapi menjadi
momentum menyembelih ego, kerakusan, kesombongan, dan kepentingan sempit yang
merusak kehidupan bersama.
Para sahabat memahami
betul bahwa kemuliaan bukan pada citra, tetapi pada amal. Abu Bakar ash-Shiddiq
dikenang bukan karena kekayaan semata, tetapi karena kejujuran iman dan
totalitas pengorbanannya.
Umar bin Khaththab dikenang bukan karena kekuasaan, tetapi karena keadilan. Utsman bin Affan dikenang karena kedermawanan dan rasa malunya. Ali bin Abi Thalib dikenang karena ilmu, keberanian, dan kezuhudannya. Mereka semua memiliki lisana shidqin dalam sejarah umat karena hidup mereka dipersembahkan untuk kebenaran.
Baca juga: Menafsir Ulang Makna Kepemimpinan Suami, Tanggung Jawab, dan Etika Kuasa dalam Rumah Tangga
Inilah pelajaran besar
dari Nabi Ibrahim untuk zaman kita. Manusia modern sering mengejar nama agar
disebut, tetapi lupa membangun nilai agar dikenang.
Banyak orang ingin
viral, tetapi tidak semua ingin bermanfaat. Banyak orang ingin dipuji, tetapi
tidak semua siap berkorban. Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa nama baik bukan
dibangun dengan pencitraan, melainkan dengan ketulusan, tauhid, pengorbanan,
keluarga saleh, dan doa yang melampaui kepentingan diri sendiri.
Karena itu, ketika
umat Islam membaca Shalawat Ibrahimiyah dalam shalat, sesungguhnya mereka
sedang mengingat satu prinsip besar: kemuliaan yang abadi adalah kemuliaan yang
disambungkan kepada Allah.
Nama Ibrahim abadi bukan karena propaganda, tetapi karena Allah yang mengabadikannya. Doanya dikabulkan, perjuangannya diteruskan, keluarganya diberkahi, dan millah tauhidnya disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?
Maka Idul Adha adalah
panggilan untuk kembali menjadi manusia yang lurus tauhidnya, lembut
keluarganya, kuat pengorbanannya, luas doanya, dan panjang manfaatnya. Sebab
pada akhirnya, yang akan tinggal dari manusia bukanlah jabatan, harta, atau
tepuk tangan dunia, melainkan jejak kebenaran yang ia wariskan.
Demikianlah makna
terdalam yang tersirat dari doa Nabi Ibrahim:
وَاجْعَلْ لِي
لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ
“Ya Allah, jadikan
kami dikenang bukan karena dunia, tetapi karena kebenaran.”
Wallahu a’lam bis shawab.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.