Shalat Sunnah Safar, Simak Tuntunan Niat dan Tata Cara Pelaksanaannya Berikut
Admin
Penulis
Foto: Pinterest
Jakarta, MUI— Dalam melaksanakan shalat sunnah safar, pada rakaat pertama dianjurkan untuk membaca surat Al-Kafirun setelah membaca surat Al-Fatihah, dan untuk rakaat kedua dianjurkan membaca surat Al-Ikhlas setelah membaca Al-Fatihah. Bilamana shalat dua rakaat itu telah selesai, maka dianjurkan untuk membaca Ayat Kursi, yaitu:
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَيُّ ٱلْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَّهُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦ إِلَّا بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.” (QS. Al-Baqarah: 255)
Faedah membaca Ayat Kursi tersebut, sebagaimana diterangkan oleh Imam An-Nawawi (wafat 670 H) dalam kitabnya, adalah memperoleh keselamatan selama perjalanan serta terhindar dari segala hal yang tidak diharapkan hingga perjalanan itu usai:
فَقَدْ جَاءَ فِيهِمَا آثَارٌ لِلسَّلَفِ، مِنْهَا: مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ قَبْلَ خُرُوجِهِ مِنْ مَنْزِلِهِ لَمْ يُصِبْهُ شَيْءٌ يَكْرَهُهُ حَتَّى يَرْجِعَ
Artinya: “Telah datang tentang kedua amalan tersebut (yakni shalat dua rakaat ketika hendak keluar dan masuk rumah) atsar dari para salaf. Termasuk: Barang siapa membaca Ayat Kursi sebelum keluar dari rumahnya, maka tidak akan menimpanya sesuatu yang di benci hingga ia kembali.” (Al-Idloh fi Manasik al-Hajj [Beirut: Dar Al-Hadis], h. 44)
Setelah seluruh bacaan tersebut selesai, dianjurkan untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan hati yang khusyuk, penuh harap, dan dilandasi keikhlasan. Sebenarnya, tidak ada doa tertentu yang khusus setelah menunaikan shalat safar.
Seseorang dipersilakan berdoa sesuai dengan keperluan dan hajatnya masing-masing. Yang terpenting, doa tersebut berisi permohonan pertolongan, taufik, petunjuk, keselamatan, serta kesehatan selama melakukan perjalanan. Meski begitu, Imam An-Nawawi dalam karyanya yang lain menganjurkan untuk membaca doa berikut:
اَللهم بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ، اَللهم ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الْخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ، اللهم إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِيْ وَدِيْنِيْ وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آَخِرَةٍ وَدُنْيًا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كَرِيْمُ
Artinya: “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku meminta tolong, hanya kepada-Mu aku berpasrah. Tuhanku, tundukkanlah bagiku segala kesulitan urusanku, mudahkan untukku hambatan perjalananku, anugerahkanlah aku sebagian dari dari kebaikan melebihi apa yang kuminta, palingkan diriku dari segala kejahatan. Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkan urusanku. Ya Allah, aku meminta penjagaan dan menitipkan diriku, agamaku, keluargaku, kerabatku, dan semua yang telah Kauberikan kepadaku, baik kebaikan ukhrawi maupun duniawi. Lindungilah kami dari segala kejahatan, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.”
Setelah doa tersebut dipanjatkan dan seseorang bersiap untuk berangkat, ia dianjurkan membaca doa yang biasa dibaca Rasulullah SAW sebelum memulai perjalanan, yaitu:
اَللهم إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَبِكَ أَعْتَصَمْتُ، اَللهم اكْفِنِيْ مَا هَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ لَهُ، اَللهم زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ، وَوَجِّهْنِيْ لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ
Artinya: “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menghadap dan hanya kepada-Mu aku berlindung. Tuhanku, cukupilah aku dari segala yang membuatku bimbang dan segala yang tidak kubimbangkan. Tuhanku, bekalilah diriku dengan takwa, ampunilah dosaku, dan hadapkan diriku pada kebaikan di mana saja aku menghadap.”
Demikianlah panduan praktis pelaksanaan shalat sunnah safar beserta dalil dan keutamaannya. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan setiap perjalanan yang kita tempuh, melimpahkan keberkahan, serta menjaga kita dari segala bentuk mara bahaya selama di perjalanan hingga akhirnya kembali ke rumah dengan kondisi selamat. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb. (A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed. Hakim)