Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Paradigma Islam

Salman Al-Farisi, Bangsa Persia, dan Karakter Keteguhan Imannya

10 menit baca 3.426 dibaca
Salman Al-Farisi, Bangsa Persia, dan Karakter Keteguhan Imannya
Foto: AI Modified/Gemini
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Apa yang kita saksikan belakangan ini; ketika Iran berani berdiri menghadapi tekanan geopolitik dari Amerika Serikat dan Israel, hakikatnya bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba tanpa akar sejarah.

Jika ditarik ke belakang, bangsa Iran adalah kelanjutan dari bangsa Persia, sebuah bangsa yang sejak dahulu dikenal memiliki karakter kuat. Merekah tangguh menjaga kehormatan, teguh dalam prinsip, dan tidak mudah tunduk pada tekanan luar.

Karakter tersebut bisa dinilai sebagai konstruksi modern. Tapi lebih dari itu, ini adalah jejak panjang yang telah terpatri dalam sejarah mereka, bahkan sejak sebelum mereka memeluk Islam.

Dalam khazanah Islam, figur sahabat yang paling menonjol dari bangsa Persia adalah Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu. Sosok ini lebih dari sekadar sahabat biasa. Salman adalah simbol pencarian kebenaran yang panjang, melelahkan, dan penuh pengorbanan.

Baca juga: Keteguhan Iman Muslim Persia dan Isyarat Tafsir Surat Muhammad

Dalam riwayat panjang yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, sebagaimana dicatat dalam Sirah Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa Salman sendiri pernah menceritakan asal-usulnya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَحَدَّثَنِي سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ، وَأَنَا أَسْمَعُ مِنْ فِيهِ، قَالَكُنْتُ رَجُلًا فَارِسِيًّا مِنْ أَهْلِ أَصْبَهَانَ مِنْ قَرْيَةٍ يُقَالُ لَهَا جَيُّ، وَكَانَ أَبِي دِهْقَانَ قَرْيَتِهِ، وَكُنْتُ أَحَبَّ خَلْقِ اللَّهِ إلَيْهِ، لَمْ يَزَلْ بِهِ حُبُّهُ إيَّايَ حَتَّى حَبَسَنِي فِي بَيْتِهِ كَمَا تُحْبَسُ الْجَارِيَةُ، وَاجْتَهَدْتُ فِي الْمَجُوسِيَّةِ حَتَّى كُنْتُ قَطْنَ النَّارِ الَّذِي يُوقِدُهَا، لَا يَتْرُكُهَا تَخْبُو سَاعَةً

“Aku adalah seorang lelaki Persia dari penduduk Isfahan, dari sebuah desa bernama Ji. Ayahku adalah kepala desa kami. Aku adalah orang yang paling ia cintai. Kecintaannya kepadaku begitu besar hingga ia mengurungku di rumah sebagaimana seorang gadis dikurung. Aku bersungguh-sungguh dalam agama Majusi hingga aku menjadi penjaga api yang terus menyala, tidak pernah membiarkannya padam walau sesaat.” (Sirah Ibnu Hisyam [Kairo: Musthofa al-Bab al-Halabi wa Auladuhu], juz 1, h. 214)

Kelanjutan kisah ini akan membuat kita tercenung, menaruh hormat atas keteguhannya dalam mencari kebenaran.

Pemuda Persia yang Tangguh Mencari Kebenaran

Kisah Salman al-Farisi adalah kisah panjang tentang kegelisahan seorang pencari kebenaran yang tidak pernah puas dengan warisan semata. Kisah ini secara utuh bisa dilihat dalam Sirah Ibnu Hisyam.

Salman berasal dari Persia, tepatnya dari Isfahan, dari sebuah desa bernama Jayy. Ayahnya adalah tokoh “kepala desa” sekaligus sosok yang sangat mencintainya, sampai-sampai ia merasa “dikurung” di rumah sebagaimana seorang gadis dijaga ketat.

Dalam lingkungan itu, Salman tumbuh sebagai penganut Majusi yang taat, bahkan dipercaya menjaga api suci agar tidak pernah padam.

Namun, takdir membawanya keluar dari lingkaran sempit itu. Suatu hari, ketika ia diperintahkan ayahnya pergi ke kebun, ia malah penasaran melewati sebuah gereja dan mendengar lantunan ibadah kaum Nasrani. Rasa ingin tahu yang selama ini terpendam tiba-tiba menyala. Ia masuk, melihat, lalu terpikat.

Ketika itu, dalam hatinya, ia merasa bahwa apa yang ia saksikan terasa lebih benar daripada keyakinan yang ia warisi. Lalu sejak saat itu, benih kegelisahan berubah menjadi tekad. Ia pulang dengan membawa keyakinan baru. Tetapi ayahnya menolak keras, bahkan membelenggu dan mengurungnya agar tidak terpengaruh.

Di titik inilah jalan panjang itu benar-benar dimulai. Salman tidak tunduk pada tekanan. Ia diam-diam menjalin hubungan dengan orang-orang Nasrani dan akhirnya melarikan diri menuju Syam. Di sana, Salman belajar agama dari seorang uskup, tetapi ia segera menyadari bahwa tidak semua yang berlabel agama itu jujur. Uskup tersebut ternyata menyalahgunakan amanah.

Salman tidak berhenti di situ. Ia terus berpindah dari satu guru ke guru lain. Perjalanannya diteruskan dari Mosul, ke Nusaybin, hingga ke Amuriyah. Semua ini dilakukannya demi mencari sosok yang benar-benar lurus, yang hidupnya selaras dengan ajarannya.

Dalam setiap persinggahan, sembari belajar, Salman juga menguji, mengamati, dan menimbang. Hingga akhirnya, dari seorang alim yang terakhir, ia mendapatkan kabar yang menentukan arah hidupnya, bahwa akan datang seorang nabi di tanah Arab, membawa ajaran Ibrahim yang lurus.

Baca juga: Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia

Tanda-tanda seorang nabi yang dimaksud oleh seorang alim tersebut jelas terpatri di ingatannya. Salman mencatat bahwa sosok nabi yang digambarkan itu tidak menerima hadiah, tidak memakan sedekah, dan memiliki tanda kenabian di punggungnya.

Bekal informasi itu cukup untuk membuat Salman menempuh risiko besar. Ia menuju Tanah Arab, tetapi di tengah perjalanan ia dikhianati dan dijual sebagai budak.

Takdir menentukannya berakhir di Madinah, sebuah tempat yang ternyata kelak akan ditemuinya sosok nabi dengan ciri-ciri sesuai dengan yang telah disebutkan oleh seorang alim kepadanya.

Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, Salman tidak gegabah. Tekadnya menguji dengan cermat. Ia membawa makanan sedekah, dan ternyata Nabi SAW tidak memakannya. Tidak berhenti di sini, Salman lalu mencoba membawakan hadiah, dan ternyata Nabi memakannya bersama para sahabat.

Puncaknya, Salman memastikan tanda terakhir. Dan ternyata benar-benar ditemukan tanda kenabian di punggung Nabi SAW. Akhirnya, di titik ini, pencarian panjangnya berakhir. Salman tidak lagi ragu. Ia menangis, memeluk, dan bersaksi kepada Nabi Muhammad SAW.

Masuk Islam bukan akhir perjuangan. Salman masih seorang budak. Namun, di bawah bimbingan Nabi SAW, ia menebus kemerdekaannya dengan kerja keras, dibantu para sahabat. Bahkan Nabi sendiri ikut menanam pohon-pohon kurma untuknya hingga ia benar-benar bebas.

Sejak itu, Salman menjadi bagian dari barisan pembela kebenaran. Ia ikut dalam berbagai perjuangan, termasuk Perang Khandaq.

Kisah ini menunjukkan adanya transformasi jiwa yang tangguh. Salman bergerak dari keyakinan warisan menuju keyakinan yang diperjuangkan, dari kenyamanan menuju pengorbanan, dari kebingungan menuju kepastian.

Salman tidak dilahirkan dalam Islam, tetapi ia sampai kepada Islam dengan kesungguhan, kejujuran, dan keberanian menanggung konsekuensi.

Dari sini kita bisa melihat keutamaannya. Namun demikian, sekalipun ia dan kaumnya (Persia) pernah dipuji ketangguhannya oleh Nabi, tapi pada hakikatnya kemulian itu tidak terletak hanya pada asal-usulnya, melainkan pada keteguhan langkahnya dalam mencari dan memegang teguh kebenaran.

Bangsa Persia dan Peradaban Besarnya

Bangsa Persia adalah bangsa yang teguh pendirian dan tangguh dalam menjadi prinsip hidupnya. Jika dikaji lebih dalam mengenai karakternya, maka akan ditemukan dalam banyak literatur klasik gambaran mengenai hal itu.

Dalam Mu’jam al-Buldan, wilayah فارس (Persia) tidak digambarkan sebagai negeri biasa, melainkan sebagai salah satu poros besar peradaban dunia lama. (Lihat Mu’jam al-Buldan [Beirut: Dar Shadir], juz 4, h. 226-228).

Bentangnya luas, dari Irak hingga Kirman, dari pesisir Laut India hingga wilayah Sind, menjadikannya kawasan yang strategis sekaligus subur dalam sejarah Timur. Bahkan namanya sendiri, yang berasal dari kata فرس, “Fars”, menunjukkan bagaimana identitasnya terbentuk dari percampuran bahasa, sejarah, dan tradisi yang panjang, hingga dalam sebagian riwayat disambungkan kepada keturunan Nabi Nuh melalui jalur Sam.

Struktur wilayahnya kokoh dan teratur. Dengan pusat di Shiraz, Persia terbagi dalam distrik-distrik penting seperti Istakhr, Darabjird, dan Arrajan. Lanskapnya keras. Dipenuhi pegunungan, benteng-benteng yang nyaris tak tertembus, serta sungai-sungai besar yang menopang kehidupan.

Wilayah tersebut menunjukkan tidak sekadar wilayah agraris belaka, tetapi juga benteng militer dan pusat kekuatan politik. Tak heran jika penaklukannya dalam sejarah Islam berlangsung panjang, dimulai sejak masa Umar ibn al-Khattab dan disempurnakan pada masa Usman ibn Affan.

Lalu di dalam tubuh besar Persia itu, ada satu organ yang paling hidup dan paling kompleks, yaitu اصبهان (Isfahan). Kota ini pada satu sisi besar secara ukuran, tapi juga kaya dalam lapisan makna. Selain itu, dikenal juga sebagai “tanah para tentara”, yang mencerminkan watak militernya yang kuat, sejalan dengan posisinya di kawasan pegunungan yang strategis. (Lihat Mu’jam al-Buldan [Beirut: Dar Shadir], juz 5, h. 78).

Di sisi lain, wilayah ini juga subur dan indah. Dialiri sungai jernih, menghasilkan saffron dan madu, serta memiliki kualitas tanah yang bisa dianggap istimewa.

Akan tetapi, sebagaimana sering terjadi pada pusat peradaban besar, Isfahan tidak pernah sederhana. Isfahan adalah kota yang penuh kontradiksi. Di satu sisi melahirkan kemegahan dan ilmu, di sisi lain menyimpan catatan tentang kekikiran, konflik sosial, bahkan pertikaian antarkelompok yang merusak dirinya sendiri.

Kota ini berubah dari Jayy menjadi kawasan Yahudiyyah setelah perpindahan penduduk pascapenaklukan Baitul Maqdis oleh Nebukadnezzar II, lalu masuk ke dalam dunia Islam melalui futuhat (penaklukan) yang memadukan kekuatan dan negosiasi.

Semua ini menunjukkan satu hal, bahwa Isfahan adalah cermin nyata dari dinamika Persia itu sendiri, yang kuat, kaya, tetapi di saat yang sama tidak lepas dari retakan internal.

Meski demikian, dari tanah yang keras dan penuh gejolak itulah lahir tradisi ilmu yang besar. Kota ini melahirkan ulama seperti Abu Nu’aim al-Isfahani dan banyak ahli hadis dengan sanad tinggi, misalnya Imam Bukhari (w. 256 H/870 M) imam besar dalam ilmu hadis, begitu juga Imam Muslim (w. 261 H/875 M).

Baca juga: Titik Damai Antara Ilmu Agama dan Ilmu Sains

Selain kota ini, banyak kota lainnya di Persia yang melahirkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah keilmuan dunia. Sebut saja, misalnya, Ibnu Sina (w. 428 H/1037 M) sebagai tokoh besar kedokteran dan filsafat, al-Khawarizmi (w. 232 H/847 M) pelopor aljabar dan matematika, ar-Razi (w. 313 H/925 M) ahli kedokteran dan kimia, al-Biruni (w. 440 H/1048 M) ilmuwan ensiklopedis dalam astronomi dan geografi, Omar Khayyam (w. 517 H/1123 M) penyair, matematikawan dan astronom terkemuka, Nashiruddin at-Tusi (w. 672 H/1274 M) ahli astronomi dan filsafat, dan Abdurrahman as-Sufi (w. 376 H/986 M) ahli astronomi klasik.

Selain itu, ada juga al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) tokoh teologi, filsafat, dan tasawuf, al-Farabi (w. 339 H/950 M) filsuf besar dalam logika dan politik, Sibawayh (w. 180 H/796 M) pelopor ilmu nahwu (gramatikal bahasa Arab), Mulla Sadra (w. 1050 H/1640 M) filsuf besar dalam metafisika Islam, dan masih banyak lainnya.

Dari berbagai fakta ini, seolah-olah sejarah hendak menegaskan bahwa kompleksitas dan konflik tidak selalu menghancurkan. Dalam konteks tertentu justru darinya bisa lahir kedalaman intelektual.

Karakter Keteguhan Iman Muslim Persia

Di sini, kembali dalam konteks membaca sosok Salman al-Farisi menjadi sangat bermakna. Salman tidak lahir dari peradaban yang sederhana. Ia ditempa dari lingkungan yang besar sekaligus penuh pertentangan.

Persia memberinya watak yang tangguh, tahan uji, dan tidak mudah tunduk. Namun, watak itu sendiri sebenarnya netral. Artinya bisa menjadi kekuatan duniawi, atau diarahkan menjadi kekuatan iman. Salman memilih jalan yang lebih berat, dirinya melampaui lingkungannya.

Salman tidak mewarisi kebenaran, tetapi mencarinya. Ia meninggalkan kenyamanan, menentang tekanan keluarga, berpindah dari satu negeri ke negeri lain, hingga rela menjadi budak demi menemukan kebenaran yang hakiki.

Salman al-Farisi menjadi representasi nyata dari makna hadis Nabi SAW:

سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ

“Salman adalah bagian dari kami, Ahlul Bait (keluarga Nabi).” (HR al-Hakim)

Hadis ini bisa ditemukan dalam kitab Al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Abdillah. Riwayat ini jelas mengisyaratkan pengakuan atas kualitas iman Salman yang ditempa oleh perjuangan.

Baca juga: Solidaritas Kita pada Iran

Lebih jauh lagi, ketika Allah berfirman dalam surat Muhammad ayat 38 tentang kemungkinan digantinya suatu kaum dengan kaum lain yang lebih layak, penjelasan at-Thabari menegaskan bahwa pengganti itu adalah mereka yang benar-benar menegakkan agama tanpa kikir dan tanpa setengah hati. (Lihat dalam Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an [Kairo: Dar Hajr], juz 21, h. 232)

Dan ketika para sahabat bertanya siapa mereka, Nabi SAW menunjuk Salman, bahkan menyertakan nisbah kaumnya (Persia).

عَنْ ‌أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: تَلَا رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَيَوْمًا هَذِهِ الْآيَةَ (وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ) قَالُوا: وَمَنْ يُسْتَبْدَلُ بِنَا؟ قَالَ: فَضَرَبَ رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَلَى مَنْكِبِ سَلْمَانَ، ثُمَّ قَالَهَذَا وَقَوْمُهُ، هَذَا وَقَوْمُهُ.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW membaca ayat ini: ‘Dan jika kalian berpaling, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan kaum yang lain, kemudian mereka tidak akan seperti kalian.’ (QS. Muhammad: 38). Lalu para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang akan menggantikan kami?’ Kemudian Rasulullah SAW menepuk pundak Salman Al-Farisi seraya bersabda: ‘Orang ini dan kaumnya, orang ini dan kaumnya.’” (HR Tirmidzi)

Ini adalah sebuah isyarat tegas bahwa dari tanah Persia yang penuh dinamika itu akan lahir manusia-manusia yang mampu melampaui batas-batasnya.

Bahkan juga ditegaskan oleh Nabi, bahwa jika iman berada di bintang Tsurayya, orang-orang Persia akan bertekad meraihnya.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الإِيمَانُ مَنُوطًا بِالثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ رِجَالٌ مِنْ فَارِسَ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman itu tergantung di bintang Tsurayya, niscaya akan diraih oleh orang-orang dari Persia.” (HR Tirmidzi)

Ini adalah pengakuan terhadap etos, ada ketekunan, daya tahan, dan kesungguhan yang tersirat dalam pribadi sosok Salman al-Farisi itu sendiri. Dan pada saat yang sama juga menarik latar belakang bangsanya, Persia.

Maka, kiranya tidak berlebihan jika dianggap seakan-akan kondisi geografis Persia yang keras, penuh gunung dan benteng, tercermin dalam karakter manusianya. Jika mereka telah mengarah pada kebenaran, mereka tidak mudah dipalingkan.

Rangkaian gambaran ini menunjukkan satu kesimpulan bahwa Persia adalah peradaban besar. Lalu Isfahan menjadi salah satu wajah kompleksnya, dan Salman al-Farisi adalah puncak transformasinya.

Dari negeri yang kuat dan penuh kontradiksi ini, lahir seorang manusia yang menembus semua batas itu. Salman al-Farisi menjadi bukti bagian dari sejarah Persia. Dan di saat yang sama menjadi bukti bahwa kebenaran itu menuntut untuk dicari, diperjuangkan, dan dimenangkan.