Foto: AI Modified
Jakarta, MUI Digital — Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Seperti ibadah lainnya, puasa tidak sah tanpa adanya niat. Karena itu, persoalan niat selalu menjadi pembahasan penting saat bulan suci Ramadhan.
Salah satu topik yang kerap dibicarakan adalah mengenai praktik berniat puasa untuk satu bulan penuh sekaligus, dengan mengikuti pendapat Imam Malik.
Pembahasan ini dianggap penting lantaran mayoritas umat Islam di Indonesia berpegang pada mazhab Syafi’i. Dalam mazhab ini, niat puasa Ramadhan tidak cukup dilakukan sekali di awal bulan saja, melainkan harus diperbarui setiap malam untuk puasa keesokan harinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Dr. Wahbah Az-Zuhaili (wafat 1436 H) dalam ensiklopedi fiqihnya:
يُشْتَرَطُ فِي النِّيَّةِ مَا يَأْتِي: تَبْيِيتُ النِّيَّةِ، أَيْ إِيقَاعُهَا لَيْلًا، وَهُوَ شَرْطٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، لِلْحَدِيثِ السَّابِقِ: مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ، وَلِأَنَّ النِّيَّةَ عِنْدَ ابْتِدَاءِ الْعِبَادَةِ كَالصَّلَاةِ
“Disyaratkan dalam niat beberapa hal sebagai berikut: Menetapkan niat pada malam hari, yaitu melaksanakannya pada waktu malam. Hal ini merupakan syarat yang disepakati, berdasarkan hadis yang telah disebutkan sebelumnya: Barang siapa tidak menetapkan niat puasa sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya, karena niat harus ada pada permulaan ibadah, sebagaimana dalam shalat.” (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu [Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir], vol. 3, h. 1671)
Ketentuan tersebut berlandaskan pada pemahaman bahwa setiap hari puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang berdiri sendiri. Karenanya, masing-masing hari membutuhkan niat tersendiri, sebagaimana shalat wajib lima waktu yang juga memerlukan niat secara terpisah. Dengan demikian, jika seseorang hanya berniat pada malam pertama untuk berpuasa selama satu bulan penuh, maka menurut mazhab Syafi’i niat tersebut hanya berlaku untuk hari pertama saja.
Meski begitu, sebagian kalangan Syafi’iyyah tetap menganjurkan seseorang untuk berniat puasa satu bulan penuh pada malam pertama Ramadhan. Anjuran tersebut sebagai langkah antisipasi. Tujuannya, apabila suatu hari ia lupa berniat pada malam hari, maka ia dapat bertaqlid kepada pendapat Imam Malik yang membolehkan niat puasa Ramadhan dilakukan sekali untuk satu bulan penuh.
Akan tetapi, praktik taqlid lintas mazhab seperti ini harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Seseorang harus benar-benar mengikuti ketentuan mazhab yang dijadikan rujukan, agar tidak terjerumus pada ibadah yang menurut keyakinannya sendiri dianggap tidak sah. Syekh Nawawi al-Bantani (wafat 1316 H) dalam kitabnya menuturkan:
قَالَ الزَّيَادِيْ: فَلَوْ نَوَى لَيْلَةَ أَوَّلِ رَمَضَانَ صَوْمَ جَمِيْعِهِ لَمْ يَكْفِ لِغَيْرِ الْيَوْمِ الْأَوَّلِ، لَكِنْ يَنْبَغِيْ لَهُ ذَلِكَ لِيَحْصُلَ لَهُ صَوْمُ الْيَوْمِ الَّذِيْ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيْهِ عِنْدَ مَالِكٍ، كَمَا يُسَنُّ لَهُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ الْيَوْمِ الَّذِيْ نَسِيَهَا فِيْهِ لِيَحْصُلَ لَهُ صَوْمُهُ عِنْدَ أَبِيْ حَنِيْفَةَ، وَوَاضِحٌ أَنَّ مَحَلَّهُ إِنْ قَلَّدَ وَإِلَّا كَانَ مُتَلَبِّسًا بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فِي اعْتِقَادِهِ وَهُوَ حَرَامٌ
“Imam Az-Zayadi berkata: ‘Seandainya seseorang berniat pada malam pertama Ramadhan untuk berpuasa sepanjang bulan, maka niat itu tidak mencukupi selain untuk hari pertama saja. Namun, sebaiknya ia tetap melakukannya agar ia mendapatkan sahnya puasa pada hari yang ia lupa berniat menurut pendapat Imam Malik. Sebagaimana disunnahkan pula baginya untuk berniat pada awal hari yang ia lupa berniat, agar puasanya tetap sah menurut pendapat Imam Abu Hanifah. Dan jelas bahwa hal ini berlaku apabila ia bertaqlid kepada pendapat tersebut. Jika tidak, maka ia dianggap melakukan ibadah yang rusak menurut keyakinannya sendiri, dan hal itu hukumnya haram.’” (Kasyifah as-Saja Syarh Safinah an-Naja [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah], h. 244)
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami, bahwa niat puasa di malam pertama bulan Ramadhan untuk sebulan penuh bukanlah pengganti kewajiban niat harian dalam mazhab Syafi’i, melainkan hanya sebagai bentuk kehati-hatian jika sewaktu-waktu lupa membaca niat pada malam hari. Karena amalan niat dengan bertaqlid pada Imam Malik tersebut bermanfaat pada tetap sahnya puasa ketika suatu hari lupa berniat.
Adapun lafaz niat puasa Ramadhan untuk satu bulan penuh dengan bertaqlid kepada Imam Malik adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti Imam Malik, sebagai wujud melakukan fardhu karena Allah Taala”
Jadi, pada dasarnya menurut pandangan mazhab Syafi’i niat puasa Ramadhan tetap harus dilakukan setiap malam. Sementara niat puasa satu bulan penuh yang dilakukan sekali di malam pertama Ramadhan hanya bersifat anjuran sebagai bentuk antisipasi, dengan syarat dilakukan dalam kerangka taqlid yang benar.
Adapun sikap yang lebih berhati-hati adalah tetap memperbarui niat setiap malam, seraya memanfaatkan kemudahan pendapat lain secara proporsional ketika memang dibutuhkan. Dan menggabungkan niat sebagaimana uraian di atas adalah salah satu alternatif terbaiknya. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb. (A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed. Hakim)