Belajar Agama Melalui Algoritma Pasti Menyesatkan, Berikut Penjelasannya
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Infokom KH Masduki Baidlowi mengingatkan umat mengenai bahayanya belajar agama melalui algoritma. Kiai Masduki menilai belajar agama melalui algoritma sudah pasti menyesatkan.
Kiai Masduki menjelaskan algoritma memiliki sisi gelap yang harus diwaspadai karena ada fenomena bias echo chamber yang oleh penerima informasi tidak dilakukan crosschek dan ballance terhadap informasi.
Echo Chamber atau ruang gema yaitu fenomena ketika seseorang hanya terpapar informasi atau pandangan yang sesuai dengan keyakinan dan pandangan mereka sendiri.
Kondisi ini, kata dia, dapat memperkuat bias pribadi, membatasi sudut pandang, dan menyulitkan individu untuk
mempertimbangkan perspektif yang berlawanan, terutama di era digital yang dipengaruhi algoritma media sosial.
"Tidak kalah penting, ada fenomena algoritma religius. Jadi orang beragama hanya mengandalkan gerak algoritma di dalam internet, Google, ChatGPT atau apapun," kata Kiai Masduki usai Forum Group Discussion (FGD) Ketahanan Digital di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2025) lalu.
Juru Bicara Wakil Presiden ke-13 RI ini menjelaskan algoritma memiliki keterbatasan karena biasanya mengambil teks agama secara parsial, tidak dalam konteks dan tidak ada sanad keilmuan.
"Jadi kalau kita berguru kepada algoritma pasti menyesatkan. Kenapa? Karena dia tidak ada konteks itu. Keilmuan tanpa sanad itu, kata ulama, bisa ada setan masuk di dalamnya. Itu sangat berbahaya," ungkapnya.
Apalagi, lanjutnya, dalam algoritma menafsirkan Alquran dengan pendapatnya algoritma. Kiai Masduki menambahkan penafsiran Alquran dengan pendapat pribadi pun dilarang. Hal ini sebagaimana sebuah hadist:
عن ابن عباس قال رسول الله من قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار
Artinya, “Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda ‘Barang siapa yang berpendapat pada Alquran dengan akalnya maka hendaknya ia ambil tempatnya di neraka.’” (HR Turmudzi).
Kiai Masduki mengatakan MUI diisi oleh banyak ulama. Sementara ulama dikatakan dalam sebuah hadist, al-‘ulama’ waratsatul anbiya, ulama adalah pewarisnya para nabi.
Dalam sistem algoritma, ungkapnya, tidak banyak muncul orang-orang alim. Sehingga, Kiai Masduki menegaskan, posisi AI dalam mempelajari dan memperdalam agama hanya sebagai pengayaan, bukan rujukan. Sebab, rujukan dalam belajar agama tetap pada guru dan ulama.
Melalui FGD ini, MUI akan merumuskan langkah strategis terkait masa depan sistem digital yang akan dipakai MUI untuk berdakwah ke depan.
"Ini akan menjadi rumusan yang menjadi kesimpulan Munas XI MUI. Munas adalah keputusan tertinggi MUI, sehingga nanti muara dakwah ke depan adalah dakwah digital," kata Kiai Masduki.
FGD ini digelar oleh Komisi Infokom MUI bersama Komisi E (Khusus) Munas XI MUI terkait Ketahanan Digital.
Narasumber dalam FGD ini adalah Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Cholil Nafis, Analis Drone Emprit Rizal Nova Mujahid dan Kasubdit 2 Ditressiber Polda Metro Jaya Kompol Muhammad Fajar.
Selaim itu, hadir dalam FGD ini antara lain Wasekjen MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Arif Fahruddin, Ketua Komisi Infokom MUI KH Mabroer MS, Wakil Ketua Komisi Infokom MUI Idy Mujayyad, dan Sekretaris Komisi Infokom MUI Iroh Siti Zahroh. (Sadam, ed: Muhammad Fakhruddin)