Arab Pra Islam tak Sepenuhnya Jahiliyah, Ini 6 Akhlak Mulia yang Diwariskan Turun Menurun
Admin
Penulis
Foto: freepik
JAKARTA, MUI.OR.ID – Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab Jahiliyah hidup dengan kondisi sosial, ekonomi, dan akhlak yang khas.
Jalur perdagangan menjadi urat nadi kehidupan mereka, namun di balik itu tersimpan pula berbagai penyimpangan moral yang mengakar kuat.
Dari sisi ekonomi, perdagangan merupakan sarana utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jalur perdagangan yang menghubungkan Jazirah Arab dengan wilayah lain hanya bisa aman dilalui pada bulan-bulan suci.
Pada masa itu, masyarakat Arab membuka pasar-pasar besar seperti Ukazh, Dzi Majaz, dan Majinnah. Selain berdagang, sebagian masyarakat juga mengembangkan kerajinan seperti menjahit dan menyamak kulit, terutama di wilayah Yaman, Hirah, dan Syam.
Meski demikian, kondisi ekonomi kerap diwarnai oleh kemiskinan, peperangan, dan kelaparan.
Kekayaan yang dimiliki kabilah tertentu bisa menimbulkan perebutan dan pertempuran, sementara sebagian masyarakat lain hanya bergantung pada pertanian serta penggembalaan ternak.
Dari sisi akhlak, kehidupan Arab Jahiliyah dipenuhi hal-hal yang tercela seperti amoralitas, perpecahan, dan minuman keras. Namun, di balik itu mereka juga memiliki sejumlah akhlak terpuji yang menjadi ciri khas masyarakatnya.
Beberapa akhlak positif tersebut antara lain:
1. Kedermawanan, yang membuat mereka rela mengorbankan harta untuk menjamu tamu, meski sering berlebihan hingga menimbulkan pemborosan
2. Memenuhi janji, yang mereka anggap sama pentingnya dengan melunasi utang
3. Menjaga kemuliaan jiwa, disertai sikap pantang menerima kehinaan, meski seringkali berlebihan hingga menimbulkan peperangan
4. Pantang mundur, ketika menginginkan sesuatu yang dianggap mulia
5. Kelemahlembutan dan suka menolong orang lain, meski sifat ini terkadang tertutup oleh sikap keras mereka
6. Kesederhanaan hidup kaum badui, yang ditandai dengan kejujuran, dapat dipercaya, dan menjauhi pengkhianatan.
Dalam kitabnya Sirah al-Nabawiyah, Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa meskipun bangsa Arab Jahiliyah tenggelam dalam praktik kemaksiatan, mereka tetap memiliki potensi akhlak mulia.
“Akhlak-akhlak itu, meskipun sebagian mengarah pada kejahatan, pada dasarnya merupakan modal berharga yang jika mendapat sentuhan perbaikan akan membawa manfaat besar bagi umat manusia,” tulisnya.
Islam datang bukan hanya untuk menghapus tradisi jahiliyah yang buruk, melainkan juga untuk menyempurnakan akhlak mulia yang telah ada agar menjadi dasar peradaban yang adil dan berkeadaban.(Miftahul Jannah, ed: Nashih)