JAKARTA, MUI.OR.ID—Wahyu merupakan salah satu hal penting dalam ajaran Islam yang menghubungkan antara Allah SWT dengan hamba-Nya yang terpilih.
Dalam bahasa Arab, kata "wahyu" berasal dari akar kata wahy yang berarti memberitahukan dengan cepat dan rahasia.
Secara istilah, wahyu adalah pemberitahuan Allah SWT kepada para nabi dan rasul-Nya melalui berbagai cara yang telah Allah SWT tentukan.
Wahyu bukan sekadar informasi biasa, melainkan petunjuk ilahi yang mengandung kebenaran mutlak dan menjadi pedoman hidup bagi umat manusia.
Melalui wahyu inilah Allah menyampaikan syariat, hukum-hukum, kisah-kisah masa lalu, kabar tentang hal ghaib, serta berbagai petunjuk yang diperlukan manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Namun pernahkah kita menyadari, bagaimana cara Allah menyampaikan wahyu kepada para nabi-Nya? Apakah selalu dengan cara yang sama, ataukah ada variasi dan tingkatan yang berbeda-beda?
Ternyata, cara turunnya wahyu kepada para nabi memiliki keragaman yang menakjubkan. Mulai dari yang paling sederhana berupa mimpi yang benar, hingga yang paling mulia yaitu komunikasi langsung dengan Allah tanpa perantara.
Keragaman ini menunjukkan keagungan Allah dalam berkomunikasi dengan hamba-Nya yang terpilih, sekaligus memperlihatkan gradasi spiritual yang berbeda-beda sesuai dengan kedudukan dan kondisi masing-masing nabi.
Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zaad al-Ma’ad fi Hady Khair al-‘Ibad, telah mengklasifikasikan cara turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad menjadi tujuh tingkatan, sebagaimana dikutip Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah. Berikut adalah tujuh tingkatan tersebut:
1. Mimpi yang Hakiki (Ru'ya Shadiqah)
Tingkatan pertama ini merupakan permulaan wahyu yang turun kepada Nabi. Mimpi yang hakiki atau ru'ya shadiqah adalah mimpi yang benar-benar terjadi dan mengandung petunjuk dari Allah. Nabi tidak pernah bermimpi kecuali mimpi tersebut terjadi seperti fajar yang menyingsing.
Mimpi semacam ini berbeda dengan mimpi biasa yang dialami manusia pada umumnya. Mimpi wahyu memiliki kejelasan, ketajaman, dan selalu terbukti kebenarannya. Ini menjadi persiapan jiwa Nabi untuk menerima wahyu dalam bentuk yang lebih sempurna di kemudian hari.
2. Inspirasi ke dalam Jiwa dan Hati (Nafts fi ar-Ru')
Tingkatan kedua adalah apa yang disusupkan Allah ke dalam jiwa dan hati Nabi tanpa beliau melihat malaikat atau mendengar suara tertentu. Wahyu jenis ini berupa inspirasi atau ilham yang langsung ditanamkan Allah dalam hati Rasulullah ﷺ.
Sebagaimana yang dikatakan Nabi :"Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah meniupkan ke dalam jiwaku bahwa seseorang tidak akan mati sebelum sempurna ajalnya dan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah cara meminta (rezeki), dan janganlah kelambatan datangnya rezeki membuat kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak dapat diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada-Nya."
3. Malaikat dalam Wujud Manusia
Tingkatan ketiga adalah ketika malaikat Jibril muncul di hadapan Nabi dalam rupa seorang laki-laki, kemudian berbicara dengan beliau sehingga Nabi dapat langsung memahami apa yang disampaikannya.
Dalam tingkatan ini, terkadang para sahabat juga dapat melihat sosok yang sedang berbicara dengan Nabi, meskipun mereka tidak tahu bahwa itu adalah malaikat Jibril.
Contoh terkenal dari jenis wahyu ini adalah hadits Jibril yang panjang, ketika Jibril datang dalam wujud seorang laki-laki yang
sangat putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya untuk mengajarkan tentang Islam, iman, dan ihsan.
4. Wahyu Menyerupai Gemerincing Lonceng
Pada tingkatan keempat, wahyu datang dengan suara yang menyerupai gemerincing lonceng yang sangat keras. Dalam kondisi ini, malaikat tidak tampak oleh pandangan Nabi, namun wahyu tetap sampai dengan jelas.
Beratnya wahyu jenis ini dapat dilihat dari dampak fisiknya terhadap Rasulullah. Dahi beliau berkerut dan berkeringat meskipun dalam cuaca yang sangat dingin. Jika beliau sedang menunggang hewan, maka hewan tersebut akan merosot ke tanah karena tidak kuat menahan beban spiritual yang luar biasa.
5. Malaikat dalam Wujud Aslinya
Tingkatan kelima adalah ketika Nabi dapat melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya yang sesungguhnya, kemudian Jibril menyampaikan wahyu sesuai kehendak Allah. Pengalaman luar biasa ini hanya terjadi dua kali selama masa kenabian, sebagaimana disebutkan Allah dalam Surah An-Najm ayat 13-18:
وَلَقَدۡ رَاٰهُ نَزۡلَةً اُخۡرٰىۙ ١٣ عِنۡدَ سِدۡرَةِ الۡمُنۡتَهٰى ١٤ عِنۡدَهَا جَنَّةُ الۡمَاۡوٰىؕ ١٥ اِذۡ يَغۡشَى السِّدۡرَةَ مَا يَغۡشٰىۙ ١٦ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَمَا طَغٰى ١٧ لَقَدۡ رَاٰى مِنۡ اٰيٰتِ رَبِّهِ الۡكُبۡرٰى ١٨
"Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." (QS An-Najm: 13-18)
6. Wahyu di Atas Langit saat Isra Mi'raj
Tingkatan keenam adalah wahyu yang Allah sampaikan kepada Nabi ketika beliau berada di atas lapisan-lapisan langit pada malam Isra Mi'raj. Dalam peristiwa luar biasa ini, nabi menerima berbagai wahyu penting, termasuk kewajiban shalat lima waktu dan berbagai petunjuk lainnya.
Mi'raj merupakan perjalanan spiritual yang menakjubkan, di mana Nabi dibawa menembus lapisan-lapisan langit hingga sampai ke tempat yang sangat tinggi. Di sana beliau menerima wahyu langsung dari Allah dengan cara yang berbeda dari biasanya, sesuai dengan keagungan tempat dan peristiwa tersebut.
7. Allah SWT Berfirman Langsung Tanpa Perantara
Tingkatan ketujuh adalah yang paling mulia, yaitu ketika Allah berfirman secara langsung dengan Nabi tanpa menggunakan perantara apapun. Ini adalah tingkatan tertinggi dalam penerimaan wahyu, sebagaimana yang juga dialami oleh Nabi Musa.
Berdasarkan nash Alquran, cara komunikasi langsung ini pasti terjadi pada Nabi Musa, sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 164.
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
"Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (QS An-Nisa: 164).
Demikian tujuh tingkatan cara wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Keragaman cara tersebut menunjukkan bagaimana keagungan Allah yang dapat berkomunikasi dengan berbagai cara sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. (Rozi, ed: Nashih)