Lewati ke konten utama
Kamis, 30 Juli 2026 / 15 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Apresiasi Buku 'Tiga Tokoh Berpengaruh Fatwa MUI', Prof Niam: Ditulis dengan Penjiwaan dan Persaksian Langsung

3 menit baca 48 dibaca
1000532984
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital--Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH  Asrorun Niam Sholeh, memberikan apresiasi terhadap peluncuran buku "Fatwa MUI dan Tiga Berpengaruh di Baliknya: Prof KH Ibrahim Hosen, Prof KH Ma'ruf Amin dan Prof KH Asrorun Niam Sholeh".

Menurutnya, buku tersebut memiliki kekuatan narasi yang sangat kuat karena ditulis dengan penjiwaan mendalam serta berdasarkan persaksian langsung atas dinamika di dalam MUI.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof Niam saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran dan bedah buku karya Redaktur Senior MUI Digital, Azharun Niam, yang digelar di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2026).

"Tulisannya memiliki penjiwaan. Di samping naluri seorang jurnalis yang muncul, ada juga persaksian langsung mengenai bagaimana proses-proses pembahasan fatwa itu dilaksanakan, tidak hanya pada aspek fatwanya saja, tetapi juga dinamika di dalam MUI," ujar Prof Niam.

Baca juga: Melampaui Usianya, Kiprah Prof Asrorun Niam Sholeh Dinilai Jadikan Fatwa MUI Penggerak Peradaban

Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta ini menjelaskan bahwa kedalaman isi buku ini tidak lepas dari latar belakang penulisnya yang terlibat langsung dalam liputan serta diskusi-diskusi kelembagaan di lingkungan MUI. 

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini menilai penulis tidak sekadar mengutip dokumen atau fatwa yang sudah jadi, melainkan merekam proses perdebatan, pertimbangan hukum syariat, hingga suasana di balik perumusan keputusan.

Riset yang memakan waktu cukup panjang tersebut dinilai berhasil memotret perjalanan fatwa MUI secara utuh dan teratur, mulai dari masa sebelum MUI berdiri, dinamika era kepemimpinan Prof Ibrahim Hosen, pembaruan metodologi di era Kiai Ma'ruf Amin, hingga perkelindanan fatwa dengan kebijakan publik di era modern.

Baca juga: Fatwa MUI Jadi Sorotan Riset Mendalam Peneliti Mancanegara

"Sungguhpun penulisnya masih relatif muda, karya ini menunjukkan riset yang matang dan pemahaman yang mendalam tentang sejarah serta metodologi fatwa di Indonesia," tambahnya.

Lebih jauh, Prof Niam menilai kehadiran buku ini sangat penting bagi publik dan kalangan akademisi karena membuka tabir perjalanan 50 tahun MUI dalam mengawal hukum Islam yang adaptif namun tetap memegang teguh prinsip-prinsip syariat (tsawabit).

Buku ini tidak hanya menyoroti sosok para tokoh kunci, tetapi juga merekam bagaimana MUI menavigasi berbagai isu besar bangsa, mulai dari perdebatan independensi di era Buya Hamka, kontroversi SDSB pada era 1990-an, transformasi sertifikasi halal menjadi lifestyle global, hingga respons hukum Islam di masa pandemi Covid-19.

"Buku ini hadir tidak hanya berisi soal fatwa, tetapi juga menggambarkan perjalanan MUI bahkan dari sebelum berdirinya. Bagaimana ulama-ulama melibatkan diri dalam diskusi, menjaga independensi, hingga melahirkan keputusan-keputusan yang menjadi pedoman umat," kata Prof Niam.