Khutbah Idul Fitri: Antara Identitas Keislaman dan Komitmen terhadap Syariat
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: Ahmad Jamil, M.A., Ph.D, Pengurus KPK MUI Pusat/Pimpinan Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Khutbah I
الله
أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله
أكبر، الله أكبر، كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لاإله إلا الله
والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
ٱلْحَمْدُ
لِلَّهِ ٱلَّذِي بَلَّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، وَمَنَّ عَلَيْنَا فِيهِ
بِٱلطَّاعَاتِ وَٱلْقُرُبَاتِ، وَفَتَحَ لَنَا فِيهِ أَبْوَابَ ٱلتَّوْبَةِ
وَٱلرَّحْمَاتِ، وَجَعَلَ خِتَامَهُ عِيدًا لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ
رَبُّنَا ويَرْضَي، حَمْدًا الّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي لَانَبِيَّ وَلَا رَسُوْلَ
بَعْدَهُ.
ٱللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ
آلِهِ كُلٍّ وَصَحْبِهِ كُلٍّ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ ٱللَّهِ، أُوصينى نفسي وإياكم
بتقوى الله وطاعته لعلكم تُرحمون حيث قال تبارك وتعالى: يآأَيُّهَا الَّذِيْنَ
أَمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حقَّ تُقاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إَلَّا وأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ. وقال الرسول صلى الله عليه وسلم اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا
الله
أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Hari
ini kita berhari raya, merayakan kemenangan
dan kebahagiaan. Tapi pada hakikatnya, hari raya itu bukan hanya hari
bergembira, tetapi juga merupakan hari untuk bertanya kepada diri sendiri,
untuk bermuhasabah dan berkontemplasi: Adakah yang tersisa dari Ramadhan dalam
hati dan hari-hari kita setelah Ramadhan
ini?
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ramadhan
sebagai bulan yang menghidupkan jiwa, bulan yang membuat kita menangis dalam
sujud, bulan yang membuat kita merasa dekat dengan Allah, kini telah berlalu.
Tetapi,
ketahuilah saudaraku, Allah tidak pernah pergi. Dia akan terus ada sampai kapan
pun. Dialah Al-Khaliq
(Yang Maha Mencipta) dan Al-Mudabbir (Yang Maha Mengatur) yang
menggenggam jiwa dan hari-hari kita.
Allah-lah
yang me-manage semua urusan, karir, bisnis, usaha, impian, target dan
masa depan kita. Dialah Dzat yang mengatur segala urusan hamba-Nya dari langit
sampai bumi. Dia mengatur segala daur, kejadian, dan segala hal yang terjadi.
Kemudian, pada Hari Kiamat kelak Allah akan mengembalikan semua itu kepada-Nya.
Demikianlah ketetapan dan kepastian dalam kuasa-Nya.
Allah SWT
berfirman:
يُدَبِّرُ
ٱلْأَمْرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍ
كَانَ مِقْدَارُهُۥٓ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ
Artinya: “Dia
mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya
dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. As-Sajdah: 5)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Walillahil Hamd.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Tugas dan
kewajiban kita untuk menyembah-Nya tidak terbatas hanya di bulan Ramadhan saja,
tapi sepanjang hayat kita, bahkan hingga maut menjemput kita.
وَٱعْبُدْ
رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
Artinya:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”
(QS. Al-Hijr: 99)
Ingatlah, saudaraku, kala Allah SWT memanggil kita (orang yang beriman) dengan nada lembut dan memerintahkan kita untuk berpuasa dengan struktur kata yang sangat indah. Allah SWT berfirman:
يَا
أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى
ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS.
Al-Baqarah: 183)
Ayat
ini tidak berhenti pada kewajiban, tetapi mengarah kepada tujuan atau goal
yang ditargetkan Allah bagi kita sebagai orang yang beriman.
Adapun
terkait lafaz لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ , agar kalian bertakwa, para ulama tafsir
menjelaskan kandungan maknanya. Dalam Tafsir al-Quran al-‘Adhim Ibnu
Katsir menjelaskan:
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ أي: بالصيام؛ فإنه فيه تزكية للنفوس، وتطهير لها من الأخلاط الرديئة،
والأخلاق الرذيلة، وفيه تضييق مسالك الشيطان
“‘Agar kalian bertakwa’, maksudya yaitu melalui puasa; karena di dalam
puasa terdapat penyucian jiwa, pembersihan dari berbagai kotoran dan akhlak
yang buruk, serta di dalamnya juga terdapat penyempitan (penutup) jalan-jalan
setan.”
Senada dengan penjelasan tersebut, Imam
at-Thabari dalam tafsirnya, Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, mengungkapkan:
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ: لكي تتقوا الله بأداء فرائضه، واجتناب معاصيه
“Agar kalian bertakwa’, yaitu supaya kalian bertakwa kepada Allah dengan
cara melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya dan menjauhi maksiat-maksiat
kepada-Nya.”
Begitu
juga yang disampaikan oleh Imam al-Qurthubi, kurang lebih substansinya sama.
Dalam tafsrinya, Imam al-Qurthubi mengatakan:
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ أي: لتكونوا من المتقين، لأن الصوم يكسر الشهوات، ويضعف دواعي المعاصي
“‘Agar kalian bertakwa’, yaitu agar kalian menjadi orang-orang yang
bertakwa; karena puasa dapat mematahkan syahwat dan melemahkan dorongan untuk
melakukan maksiat.”
Dari
seluruh penjelasan tersebut, kita memahami bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar
ritual tahunan, bukan sekadar tradisi keagamaan, dan bukan pula sekadar menahan
lapar dan haus. Tetapi ia adalah proses pendidikan ruhani (tarbiyah ruhiyyah),
latihan pengendalian diri (self-regulation) dan pembentukan
karakter takwa (character building). Maka, Ramadhan sejatinya bukan
tujuan akhir. Ia adalah madrasah kehidupan. Ia adalah proses pembentukan jiwa,
dan merupakan jembatan menuju istiqamah.
Sekarang
mari kita renungkan. Jika Ramadhan telah berlalu, apakah takwa itu masih
tersisa dalam diri kita? Ataukah ia ikut pergi bersama berlalunya Ramadhan?
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Walillahil Hamd.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Jujur saja, ketika kita melihat realitas umat hari ini, kita menemukan sesuatu yang memprihatinkan. Banyak yang mengenal Islam, tetapi belum menjadikannya sebagai komitmen hidup. Banyak yang mengaku mencintai Allah, tetapi belum taat sepenuhnya kepada-Nya.
Dalam kajian sosial keagamaan, fenomena ini disebut sebagai kesenjangan antara iman dan praktik/amaliah. Dalam perspektif sosiologi agama modern, fenomena ini
disebut sebagai Religious Identity vs Religious Practice Gap
Artinya
apa? Islam hadir dalam identitas, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam
kehidupan.
Data menunjukkan, berdasarkan penelitian Pew
Research Center (2017), hanya sekitar 42% Muslim dunia yang konsisten shalat lima
waktu. Begitu pula hasil penelitian dari PPIM UIN Jakarta (2022), menunjukkan
adanya kesenjangan signifikan antara identitas Islam dan praktik ibadah
Kiranya,
ada baiknya kita perhatikan juga perkataan Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullahu
yang termaktub dalam kitab Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam, karya Ibn Rajab,
sebagaimana berikut:
لَيْسَ
الْإِيمَانُ بِالتَّمَنِّي وَلَا بِالتَّحَلِّي، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي
الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ
“Iman bukan sekadar angan-angan… tetapi yang tertanam di hati dan
dibuktikan dengan amal.”
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Walillahil Hamd.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Mari
kita jujur pada diri kita: Berapa jumlah shalat yang mungkin kita tinggalkan? Berapa
kewajiban yang kita tunda? Berapa perintah Allah yang kita abaikan? Dan berapa banyak dosa yang telah kita
lakukan?
Padahal
kita mengaku beriman dan Rasulullah SAW menegaskan agar kita tidak meninggalkan
shalat sebab akan jatuh ke dalam lembah kekufuran. Shalat itu bukan sekadar
ibadah ritual, tetapi identitas keimanan seorang muslim.
Rasulullah
SAW bersabda:
ٱلْعَهْدُ
ٱلَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ ٱلصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Artinya:
“Perjanjian yang membedakan antara kami (kaum muslimin) dan mereka adalah
shalat. Maka barang siapa meninggalkannya, sungguh ia telah jatuh kepada
kekufuran.” )HR Tirmidzi)
بَيْنَ
الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
Artinya:
“Sungguh, yang memisahkan antara seorang laki-laki dengan kesyirikan dan
kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim)
Hadis
ini bukan sekadar ancaman tetapi penegasan identitas iman. Sebagaimana
Imam an-Nawawi menjelaskannya dalam kitab syarah Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn
al-Hajjaj.
الصلاة
عماد الإسلام، وهي الفارقة بين المسلم والكافر
“Shalat adalah tiang agama, dan hal itu (shalat) adalah pembeda antara
muslim dan kafir”
Di sini Imam al-Nawawi juga menegaskan bahwa shalat
adalah tiang agama, indikator keimanan dan pembeda paling jelas antara iman dan
kekufuran.
Barang siapa yang meninggalkan shalat karena
malas dihukumi tidak kafir secara akidah, tapi dosa besar. Adapun yang
meninggalkannya karena mengingkari, dihukumi kafir secara ijma’. Maka sungguh meninggalkan
shalat bukan sekadar dosa kecil, tetapi tanda rapuhnya iman
Berikutnya, tentang seorang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya namun dengan
sengaja tidak berpuasa di bulan Ramadhan, ia mengabaikan perintah puasa tanpa
udzur syar’i dan tanpa sakit yang ia derita. Maka dalam hal ini Rasulullah SAW
menegaskan:
مَنْ
أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ
صِيَامُ ٱلدَّهْرِ كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ
“Barang siapa berbuka (tidak berpuasa) satu hari di bulan Ramadhan tanpa
uzur dan tanpa sakit, maka ia tidak akan mampu menggantinya walaupun ia
berpuasa sepanjang masa.” (HR Abu Dawud)
Walaupun
sanad hadis ini diperselisihkan, para ulama sepakat bahwa meninggalkan
puasa tanpa uzur adalah dosa besar. Ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar
ibadah formal, tetapi bentuk
ketaatan total kepada Allah.
Lalu
selanjutnya tentang saudara kita yang dianugerahi kecukupan harta benda dan
masuk kategori muzakki, harta bendanya melebihi nishab dan haul, namun tidak
mengeluarkan zakatnya. Maka sungguh ia telah berbuat dosa dan Allah mengancamnya
dengan azab yang pedih. Allah berfirman:
وَٱلَّذِينَ
يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ
فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Artinya:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di
jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka azab yang pedih.” (QS
At-Taubah: 34)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Walillahil Hamd.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ramadhan
telah pergi, tetapi kewajiban beribadah masih harus kita lakukan sepanjang
hayat. Pintu-pintu masjid masih terbuka lebar untuk kita tetap shalat berjamaah,
mengaji dan i’tikaf di dalamnya.
Mushaf
Alquran masih ada di rak-rak masjid dan rumah kita agar selalu kita baca,
pelajari dan tadabburi.
Fakir miskin masih banyak di sekitar kita; untuk kita yang berkelebihan, bisa terus sedekah dan menunaikan zakat.
Majelis-majelis
ilmu masihlah banyak; medan dakwah masih sangat luas. Intensitas ibadah mungkin
berkurang, tetapi kewajiban tidak pernah berkurang.
Jika
kita hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan, maka sungguh hakikatnya kita belum
mengenal-Nya dengan benar. Namun jika kita mampu istiqamah setelahnya, itulah
tanda Allah menerima kita,
Maka
hari ini adalah hari kembali. Bagi yang meninggalkan shalat, segera kembalilah!
bertaubatlah dengan taubatan nashuha, shalatlah yang rajin sebab shalat adalah
pembeda kita dengan kekufuran dan shalat adalah amal yang pertama dihisab kelak
di akhirat.
Bagi
yang meremehkan puasa, kembalilah! Mohon ampunlah kepada Allah, bayarlah dan
berniat untuk berpuasa full di Ramadhan yang akan datang.
Bagi
yang belum menunaikan zakat, kembalilah! Tunaikanlah segera zakatnya, sebab itu
adalah tanda ketaatannya dan harta yang dizakati itu hakikatnya akan menjadi
bersih setelah hak saudara kita di dalam harta itu diberikan.
Dan
janganlah sekali-kali berputus asa. Sebab Allah SWT berfirman:
قُلْ
يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن
رَّحْمَةِ ٱللَّهِ
Artinya:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka
sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az Zumar:
53)
أقول
قولي هذا، فاستغفروا الله العظيم لى ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين
والمؤمنات فاستغفروه هو الغفور الرحيم
Khutbah II
الله
أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، كَبِيْرًا
وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله
ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ
وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ
الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ
المُناَفِقُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ
وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ
الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ
الغُرَرِ.
أَمَّا
بَعْدُ، فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ
فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ
أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ
المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى
النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ
الراَحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ
مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ
انْصُرْأُمَّةَ سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ.
اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا
هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ
قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى
عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ
وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ
ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ
المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيِنَ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ
وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ
سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا
رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ
الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيِنَ.