Panduan Lengkap Shalat Idul Fitri
A Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Penulis
Hakim
Editor
Jakarta, MUI Digital — Usai sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan, umat Islam menyambut hari kemenangan, yaitu Hari Raya Idul Fitri.
Pada tanggal 1 Syawal, kaum muslimin sangat
dianjurkan untuk melaksanakan shalat ‘Id secara berjamaah sebagai bentuk syukur
atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Shalat ini termasuk ibadah sunnah
muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan.
Syekh Abu Syuja’ al-Asfihani (wafat 593 H)
dalam kitabnya menjelaskan tata cara dasar pelaksanaan shalat ‘Id sebagai
berikut:
وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ
مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى
تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ
الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا،
وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا
“Shalat dua hari raya (Idul Fitri dan
Idul Adha) hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Shalat
ini terdiri dari dua rakaat. Pada rakaat pertama, dilakukan tujuh kali takbir
selain takbiratul ihram, dan pada rakaat kedua dilakukan lima kali takbir
selain takbir bangkit berdiri. Setelah itu, disampaikan dua khutbah. Pada
khutbah pertama dibuka dengan sembilan kali takbir, dan pada khutbah kedua
dengan tujuh kali takbir.” (Matan al-Ghayah wa
at-Taqrib [Beirut: Alam al-Kutub], vol. 1, h. 12)
Adapun waktu pelaksanaan shalat ‘Id dimulai sejak matahari terbit setinggi satu tombak, yaitu sekitar 15–20 menit setelah terbitnya matahari (sekitar pukul 06.00–07.00 waktu setempat), hingga masuk waktu Dzuhur. Di Indonesia, umumnya shalat ‘Id dilaksanakan antara pukul 06.15 hingga 06.30 WIB.
Baca juga: Bacaan Lengkap Takbiran Idul Fitri: Arab, Latin, dan Artinya
Pada dasarnya, tata cara shalat ‘Id mirip
dengan shalat biasa namun memiliki kekhususan berupa tambahan takbir pada
setiap awal rakaat.
Agar pelaksanaannya lebih mudah dipahami,
berikut urutan tata cara shalat Idul Fitri secara lengkap:
1. Niat
Salah satu rukun dalam shalat adalah niat.
Oleh karena itu, ketika hendak melaksanakan shalat ‘Id, seseorang perlu
menghadirkan niat di dalam hati. Adapun melafazkannya dengan lisan hanya
bertujuan untuk membantu memantapkan niat tersebut.
Berikut ini lafaz niat shalat ‘Id pada Hari
Raya Idul Fitri, baik sebagai imam maupun makmum:
Niat sebagai imam:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ
رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatan li’idil fiṭri
rak’ataini imāman lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Aku berniat melaksanakan
shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat seraya menjadi imam karena Allah Ta’ala.”
Niat sebagai makmum:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ
رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatan li’idil fiṭri
rak’ataini ma’mūman lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Aku berniat melaksanakan
shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat seraya menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”
2. Takbiratul Ihram
Takbiratul ihram dilakukan dengan
mengucapkan kalimat “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan. Pada saat
yang sama, niat dihadirkan dalam hati sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Jadi,
langkah pertama (niat) dan kedua (takbiratul ihram sambil mengangkat kedua
tangan) dilaksanakan secara bersamaan.
3. Membaca Doa Iftitah
Setelah melaksanakan takbiratul ihram,
tahap selanjutnya adalah membaca doa iftitah sebagaimana dalam shalat biasa,
yang mana hukumnya adalah sunnah.
Berikut lafaz doa Iftitah:
إِنِّيْ
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا
وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي
وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ
وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Inni wajjahtu
wajhiya lilladzī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfan musliman wa mā anā
minal-musyrikīn. Inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi
rabbil-‘ālamīn. Lā syarīka lah, wa bidhālika umirtu wa anā minal-muslimīn.
Artinya: “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan berserah diri, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim.”
Baca juga: Empat Amalan Menjelang Shalat Idul Fitri yang Disunnahkan Nabi Muhammad SAW
4. Takbir Tujuh Kali pada Rakaat Pertama
Usai takbiratul ihram dan membaca doa
iftitah, langkah berikutnya adalah mengucapkan takbir sebanyak tujuh kali
sambil mengangkat tangan.
Setiap selesai satu takbir, dianjurkan
membaca dzikir. Mayoritas ulama mengatakan bahwa lafaz dzikir yang dibaca
adalah sebagaimana berikut:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ
وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha
illallāh, wallāhu akbar.
Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji
bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.”
Selain doa tersebut, Imam as-Shaidilani
menukil dari sebagian ulama bahwa doa yang dibaca adalah berikut:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka
lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu biyadihil khair wa huwa ‘alā kulli syai’in
qadīr.
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah
semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya
segala puji. Di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu.”
Sementara itu, Imam Ibn ash-Shabbagh
menyatakan bahwa apabila seseorang membaca bacaan yang lazim diamalkan oleh
masyarakat, maka hal tersebut juga baik. Adapun bacaan yang dimaksud adalah:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَصَلَّى
اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَثِيرًا
Allāhu akbar kabīrā, walḥamdu lillāhi
katsīrā, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā, wa shallallāhu ‘alā Muḥammad wa
ālihi wa sallama katsīrā.
Artinya: “Allah Maha Besar, segala puji
hanya bagi Allah, Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari, semoga Allah
melimpahkan shalawat dan salam yang banyak kepada Nabi Muhammad dan
keluarganya.”
Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya
menjelaskan bahwa berbagai bacaan doa setiap selesai takbir tersebut
diperbolehkan dan semuanya baik untuk diamalkan:
قَالَ الْأَكْثَرُونَ: يَقُولُ:
(سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ
أَكْبَرُ) وَلَوْ زَادَ، جَازَ. قَالَ الصَّيْدَلَانِيُّ عَنْ بَعْضِ
الْأَصْحَابِ: يَقُولُ: (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ) . وَقَالَ ابْنُ الصَّبَّاغِ: لَوْ قَالَ مَا اعْتَادَهُ النَّاسُ:
(اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ
بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَسَلَّمَ
كَثِيرًا) كَانَ حَسَنًا
“Mayoritas ulama mengatakan bahwa bacaan
yang dibaca adalah: Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu
akbar. Dan jika ditambah, maka hal itu diperbolehkan. as-Shaidilani menukil
dari sebagian ulama bahwa dibaca: Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah,
lahul mulku wa lahul ḥamdu biyadihil khair wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.
Ibn ash-Shabbagh berkata: jika seseorang membaca sebagaimana yang biasa dibaca
oleh Masyarakat yakni: Allāhu akbar kabīrā, walḥamdu lillāhi katsīrā, wa subḥānallāhi
bukratan wa aṣīlā, wa shallallāhu ‘alā Muḥammad wa ālihi wa sallama katsīrā,
maka hal itu baik.” (Raudhah at-Thalibin wa
Umdah al-Muftiyin [Beirut: al-Maktab al-Islami], vol. 2, h. 71)
5. Membaca Surat Al-Fatihah
Membaca surat Al-Fatihah merupakan salah
satu rukun shalat. Sehingga, dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri, surat Al-Fatihah
wajib dibaca.
6. Membaca Surat Pendek
Setelah membaca surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat-surat pendek. Menurut Imam as-Shan’ani (wafat 1182 H), berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim, surat yang dianjurkan dibaca pada rakaat pertama adalah surat Al-A’la, sedangkan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ghasyiah.
Menurut beliau, kedua surat tersebut memuat
peringatan tentang kehidupan akhirat, janji, dan ancaman, sehingga sesuai
dibaca pada shalat yang dihadiri banyak orang. Namun, terdapat pula riwayat
lain yang menyebutkan anjuran membaca surat Qaf pada rakaat pertama dan Al-Qamar
pada rakaat kedua:
وَلَهُ أَيْ لِمُسْلِمٍ (عَنْ
النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَقْرَأُ) أَيْ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ (فِي الْعِيدَيْنِ) الْفِطْرِ،
وَالْأَضْحَى أَيْ فِي صَلَاتِهِمَا (وَفِي الْجُمُعَةِ) أَيْ فِي صَلَاتِهَا
بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّك الْأَعْلَى أَيْ: فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى بَعْدَ
الْفَاتِحَةِ (وَهَلْ أَتَاك حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) أَيْ فِي الثَّانِيَةِ
بَعْدَهَا... وَفِي سُورَةِ سَبِّحْ، وَالْغَاشِيَةِ مِنْ التَّذْكِيرِ
بِأَحْوَالِ الْآخِرَةِ، وَالْوَعْدِ، وَالْوَعِيدِ مَا يُنَاسِبُ قِرَاءَتَهُمَا
فِي تِلْكَ الصَّلَاةِ الْجَامِعَةِ، وَقَدْ وَرَدَ فِي الْعِيدَيْنِ أَنَّهُ
كَانَ يَقْرَأُ بِقَافٍ وَاقْتَرَبَتْ
“Dan dalam riwayat Muslim, dari
an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Rasulullah SAW
membaca pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) yakni dalam shalat
keduanya, dan juga pada shalat Jumat: Sabbihisma rabbikal a’lā, yaitu pada
rakaat pertama setelah bacaan al-Fatihah, dan Hal atāka ḥadītsul ghāsyiyah,
yaitu pada rakaat kedua setelahnya. Dalam kedua surah tersebut terdapat
peringatan tentang keadaan akhirat, janji dan ancaman, yang sesuai dibaca pada
shalat yang mengumpulkan banyak orang seperti itu. Dan juga diriwayatkan bahwa
pada shalat dua hari raya, Nabi SAW pernah membaca surah Qaf dan Iqtarabat
(as-Sā’ah).” (Subul as-Salam Syarh Bulugh
al-Maram [Kairo: Dar al-Hadis], vol. 2, h. 407)
7. Rukuk dan Sujud
Setelah membaca surat tersebut, shalat
dilanjutkan seperti biasa, yaitu dengan rukuk, i’tidal, sujud pertama, duduk di
antara dua sujud, kemudian sujud kedua.
8. Takbir Lima Kali pada Rakaat Kedua
Usai sujud kedua, kemudian berdiri dan
mengucapkan takbir sebanyak lima kali. Di sela-sela setiap takbir, dianjurkan
membaca doa sebagaimana dijelaskan pada langkah keempat.
9. Menyempurnakan Shalat
Sesudah takbir lima kali pada rakaat kedua,
selanjutnya shalat dilanjutkan seperti biasa, mulai dari membaca surat Al-Fatihah
hingga diakhiri dengan salam.
10. Mendengarkan Khutbah
Selepas menyelesaikan rangkaian shalat
tersebut, jamaah dianjurkan untuk tidak langsung pulang, melainkan tetap duduk
dan menyimak dengan khidmat khutbah Idul Fitri. Khutbah ini biasanya terdiri
dari dua bagian dan berisi nasihat serta wasiat ketakwaan.
Demikianlah panduan lengkap yang bisa
dijadikan rujukan dalam melaksanakan shalat ‘Id.
Pada dasarnya shalat Idul Fitri merupakan
salah satu syiar Islam yang penuh makna. Selain menjadi bentuk ibadah, shalat
ini juga menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur atas keberhasilan menjalani
puasa di bulan suci Ramadhan.
Dengan memahami tata cara, niat, serta bacaan yang dianjurkan, diharapkan setiap muslim dapat melaksanakan shalat Idul Fitri dengan lebih khusyuk dan sesuai tuntunan syariat, sehingga memperoleh keberkahan di hari kemenangan. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.