Khutbah Jumat: Cara Islam Turut Berkontribusi dalam Merawat Lingkungan
Admin
Penulis
Foto: freepik
Oleh : Drs KH Abdullah Tholib MM, Wakil Ketua Umum MUI Kota Tangerang
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِى السَّمٰوَاتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا، وَخَلَقَ لَكُمْ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهِ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اَلَّذِيْ يَغْفِرُ مَنْ تَابَ ذُنُوْبَهُ جَمِيْعًا، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَ حَبِيْبَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْمُرْسِلِيْنَ وَإِمَامُ الْاُمَمِ فِى الْعَالَمِ جَمِيْعًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالٰى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
صدق الله العظيم
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah
Untaian rasa syukur yang mendalam kepada Allah merupakan suatu keniscayaan bagi kita semua atas anugerah yang telah Allah karuniakan. Salah satu karunia-Nya adalah Allah telah menganugerahkan kehidupan di dunia dengan berbagai macam fasilitasnya yang bisa dinikmati.
Di antara fasilitas tersebut adalah lingkungan hidup di sekitar kita yang diciptakan untuk berbagai kebutuhan dan kemudahan hidup. Menjaga dan melestarikannya merupakan salah satu wujud syukur kita kepada-Nya.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada panutan dan suri tauladan umat dalam menjaga lingkungan, yakni Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat dan para umatnya yang setia mengikuti jejaknya.
Pada kesempatan ini pula khatib mengajak kepada para jamaah untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-perintah-Nya yang di antaranya adalah menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya yang salah satunya adalah berbuat kerusakan di muka bumi.
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Menjaga dan melestarikan lingkungan memiliki nilai yang penting dalam ajaran Islam. Islam mengajarkan konsep keberlanjutan dan tanggung jawab manusia sebagai kholifah di bumi ini dengan cara menjaga kelestarian bumi untuk kemaslahatan kehidupan manusia. Allah SWT telah memberikan mandat kepada manusia untuk mengexploitasi semua isi perut bumi dengan tujuan untuk memberi kehidupan yang layak kepada setiap makhluk yang hidup di bumi. Hal ini telah Allah firmankan dalam surat Al-Baqarah [ 2 ] ayat 29:
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ....
“Dia ( Allah ) menciptakan untuk kamu apa yang ada di bumi seluruhnya.”
Agar manusia dapat mengolah bumi dengan mudah dan dapat memanfaatkan serta mendayagunakan apa yang ada di bumi dan bahkan di langit untuk kelangsungan kehidupan mereka, maka Allah menundukkannya untuk para hamba-Nya sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Jatsiyah [ 45 ] ayat 13:
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗ.......
“Dan Dia ( Allah ) yang telah menundukkan untuk kamu segala yang ada di langit dan di bumi. Semua bersumber dari-Nya.”
Untuk itu sebagai khalifah di bumi, manusia dilarang membuat kerusakan segala apa yang ada di bumi yang hanya bertujuan untuk memuaskan nafsunya tanpa memikirkan tentang kerusakan yang diakibatkan oleh ulahnya.
Fenomena yang terjadi saat ini adalah begitu banyak manusia yang dengan sengaja mengeksploitasi isi perut bumi menebang kayu-kayu sebagai resapan air dengan tujuan untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan kerusakan yang terjadi seperti longsor, banjir dan merusak lingkungan sekitarnya yang tidak bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia telah Allah gambarkan dalam firman-Nya di surat Ar-Rum [ 30 ] 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. ( Melalui hal itu ) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari ( akibat ) perbuatan mereka agar mereka kembali ( ke jalan yang benar.) “
Karena itulah Allah telah melarang manusia untuk membuat kerusakan segala apa yang ada di bumi yang pada gilirannya akan memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan makhluk-makhluk Allah yang hidup di bumi. Allah berfirman dalam surat al-‘Araf [ 7 ] 56 :
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Rasul shollallahu alaihi wa sallam, punya kepedulian yang sangat atas kelestarian lingkungan hidup. Hal ini terbukti dengan sebuah peristiwa di mana ada salah satu sahabat beliau membakar sarang semut, Rasul memperingatkan kepada sahabat tersebut untuk tidak membakar sarang semut karena akan mengganggu kehidupan makhluk yang lain. Pada suatu perjalanan Rasul melihat sarang semut terbakar, beliau pun bersabda :
فَقَالَ: مَنْ حَرَّقَ هٰذِهِ ؟ قُلْنَا: نَحْنُ، قَالَ : إِنَّهُ لَا يَنْبَغِى اَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ اِلَّا رَبُّ النَّارِ
“Siapakah yang membakar ini ? Sahabat menjawab,:”kami Ya, Rasulullah. Beliau menjawab,”Tidak boleh menyiksa dengan api. Kecuali Tuhan yang menciptakan api.” ( HR Abu Dawud )
Hadits tersebut secara lugas menjelaskan bagaimana pengrusakan ekosistem melalui pembakaran sangat dilarang oleh Rasulullah SAW. Jangankan membakar hutan yang memilki atau di dalam hutan itu hidup berbagai macam makhluk , sarang semut saja tidak tidak diperbolehkan.
Hal ini menjadi perhatian kita semua sebagai khalifah Allah di bumi harus menjaga lingkungan yang bisa memberi kehidupan kepada kita semua. Allah telah memberikan amanat kepada kita untuk diperbolehkan mengeksploitasi bumi dan laut tetapi harus tetap memperhatikan dan menjaga kelestarian alam yang dibutuhkan setiap makhluk yang hidup di bumi dan di laut.
Tetapi jika proses eksploitasi hanya digunakan untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya tanpa memperhatikan makhluk yang lain, maka yang terjadi, sesuai yang kita saksikan, banjir, longsor, bergesernya tanah dan lain-lain yang berakibat menyengsarakan manusia yang lain atau bahkan hewan yang butuh makanan dan keteduhan dalam menjalani kehidupannya.
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Dalam sebuah Hadits musalsal dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash, Rasulullah memerintahkan kita semua untuk selalu menebarkan rahmah, kasih sayang dalam arti yang sangat luas. Orang- orang yang selalu menebarkan kasih sayang dan perdamaian di bumi ini akan mendapatkan kasih sayang dari makhluk yang berada di langit. Rasulullah bersabda:
اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ تَبَارَكَ وَتَعَالٰى، اِرْحَمُوْا مَنْ فِى الْاَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
“Orang-orang yang welas asih ( menebarkan kasih sayang ) akan dikasih sayangi oleh Zat Yang Maha Pengasih, Maha Suci dan Mahatinggi. Sayangilah makhluk yang ada di muka bumi ( penduduk bumi ), niscaya makhluk yang ada di langit akan mengasihi kalian.” ( HR Tarmidi dan Abu dawud ).
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Nashoihul Ibad hal 4 memberikan uraian tentang apa yang dimaksud dengan orang-orang yang mengasihi makhluk yang ada di muka bumi. Beliau berkata :
وَالْمَعْنَى اَلرَّاحِمُوْنَ لِمَنْ فِى الْاَرْضِ مِنْ اٰدَمِيٍّ وَحَيَوَانٍ لَمْ يُؤْمَرْ بِقَتْلِهِ بِالْاِحْسَانِ اِلَيْهِمْ يُحْسِنُ الرَّحْمٰنُ اِلَيْهِمْ. اِرْحَمُوْا مَنْ تَسْتَطِيْعُوْنَ اَنْ تَرْحَمُوْهُ مِنْ اَصْنَافِ مَخْلوْقَاتِهِ تَعَالٰى وَلَوْ غَيْرَ عَاقِلٍ بِالشُّفْقَةِ عَلَيْهِمْ.
“Maknanya adalah orang-orang yang mengasihi makhluk yang ada dimuka bumi, berupa manusia dan hewan yang kita tidak diperintahkan untuk membunuhnya, dengan cara yang baik kepada mereka, maka Allah Yang Maha Pengasih akan berbuat baik kepada mereka. Kasih sayangilah kepada makhluk yang mampu engkau sayangi dari berbagai jenis makhluk-makhluk Allah, meski tidak berakal dengan cara menyayangi mereka.”
Penjelasan Syekh Nawawi di atas memberikan pemahaman yang lebih luas tentang menebarkan kedamaian, kasih sayang, menyayangi dan mengasihi bukan hanya kepada makhluk berupa manusia, tetapi juga kepada hewan selama tidak membahayakan dan bahkan lebih jauh lagi kita semua harus menyayangi makhluk yang tidak berakal, baik itu tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita, pohon-pohon yang tumbuh di tanah luas, yang biasa kita sebut hutan.
Perintah menyayangi berimplikasi kepada makna yang lebih luas, yaitu menjaga, melestarikan dan meciptakan lingkungan bersih yang dibutuhkan oleh setiap makhluk yang hidup di muka bumi.
Mereka bisa menghirup oxygen, udara yang bersih dan dapat membentuk taman yang asri, indah dan mempesona. Juga kepada setiap hewan apapun jenisnya kita diperintahkan untuk menyayanginya selama tidak membahayakan kehidupan kita.
Hal ini pernah dilakukan Nabi SAW, ketika itu memerintahkan untuk membunuh anjing apapun jenisnya, tetapi kemudian beliau mengecualikan anjing yang digunakan untuk berburu, menjaga ternak, menjaga kebun dan sawah.
Berikutnya beliau melarang untuk membunuh anjing dari jenis apapun kecuali anjing hitam pekat yang mempunyai tanda dua titik putih di jidatnya, yang menurut Rasul SAW adalah setan. ( Imam Muslim, 1570, 1571 dan 1572).
Menjaga, melestarikan dan menciptakan lingkungan hidup yang bersih, asri dan bermanfaat bagi setiap makhluk yang hidup di muka bumi ini merupakan sebuah keniscayaan bagi kita semua.
Dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup, mari kita semua, tidak terkecuali, untuk selalu mejaga, merawat dan menciptakan lingkungan yang bersih tanpa ada polusi dan pencemaran.
Dengan lingkungan yang baik akan tercipta sebuah kehidupan yang sehat. Kesehatan, yang merupakan salah satu nikmat dari Allah SWT, kita dapat melakukan ibadah kepada-Nya dan melakukan amal-amal saleh.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمِاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ