Khutbah Jumat: Ajaran Islam Menyerukan Penghormatan Guru Sebagai Pendidik dan Sumber Ilmu
Admin
Penulis
Foto: freepik
Oleh: KH DR A Bahrul Hikam, MA, anggota Komisi Fatwa MUI Kot Tangerang
لسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةاُللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْعَلِيْمِ الْحَكِيْمِ، اَلْبَرِّ الرَّؤُوْفِ الرَّحِيْمِ، اَلَّذِيْ أَخْرَجَ عِبَادَهُ إِلَى النُّوْرِ مِنَ الظُّلُمَاتِ وَالْجَهْلِ الْبَهِيْمِ، وَأَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيْمِ، لِيُعَلِّمَ النَّاسَ بِالْقَلَمِ عَلَى النَّهْجِ الْقَوِيْمِ، وَيُوْصِلَهُمْ بِرَحْمَتِهِ إِلٰى جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَجَعَلَ مَقَامَ وَرَثَةِ الْأَنْبِيَاءِ مَقَامَ تَعْظِيْمٍ وَتَكْرِيْمٍ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ، شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ مِنْ عَذَابِ الْجَحِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيْمِ، الْمُعَلِّمُ الْأَعْظَمُ بِالتَّعْلِيْمِ وَالتَّفْهِيْمِ، وَالْمُرَبِّي الْأَكْرَمُ بِالتَّوْجِيْهِ السَّلِيْمِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى هٰذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، صَاحِبِ الْقَلْبِ السَّلِيْمِ، وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلٰى يَوْمٍ عَظِيْمٍ، وَعَلٰى كُلِّ مُعَلِّمٍ لِلْخَيْرِ صَابِرٍ حَلِيْمٍ، وَكُلِّ مُرَبٍّ لِلنُّفُوْسِ صَادِقٍ أَمِيْنٍ كَرِيْمٍ.
. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ، بِاِمْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hadhirin jamaah Jumat rahimakumullah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas berkat Rahmat, Inayah dan karunia-Nya, Allah kumpulkan kita bersama pada hari yang mulia ini, di rumah-Nya yang mulia ini untuk melaksanakan Ibadah Shalat Jumat, mudah-mudahan shalat Jumat kita dan apapun ibadah yang kita lakukan ini diterima oleh Allah SWT dan mudah-mudahan semua ibadah-ibadah itu dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Amiin
Hadhirin jamaah Jumat rahimakumullah...
Jika kita membuka lembaran sejarah Islam, kita akan menemukan bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dimulai dengan perintah "Iqra" – Bacalah! Ini adalah sebuah revolusi pemikiran yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama. Dan dalam proses transfer ilmu pengetahuan inilah, peran guru menjadi sentral dan tidak tergantikan. Allah SWT berfirman dalam Alquran:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadalah: 11)
Ayat ini dengan gamblang menunjukkan kemuliaan orang yang berilmu. Seorang guru adalah orang yang berilmu dan yang menyebarkan ilmunya. Dialah yang menjadi sebab mengangkat derajat banyak orang. Bayangkan, betapa banyak pahala yang mengalir kepada seorang guru yang ikhlas, setiap kali muridnya menggunakan ilmunya untuk kebaikan, hingga akhir zaman. Inilah investasi akhirat yang tiada habisnya.
Islam, sebagai agama yang meninggikan akal dan ilmu, menempatkan para pengajar—para guru, dosen, ustadz, dan kiai—pada kedudukan yang sangat terhormat. Mereka adalah penerang di tengah kegelapan kebodohan, penyiram di tengah kekeringan jiwa, dan pembangun fondasi peradaban. Tanpa guru, kita akan tersesat. Tanpa ilmu, sebuah bangsa akan runtuh.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.
"Jika seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya." (HR Muslim)
Seorang guru yang mendidik dengan ikhlas, ilmunya akan terus mengalirkan pahala meskipun ia telah tiada. Setiap murid yang menjadi baik, setiap kebaikan yang dilakukan murid karena bimbingannya, semua itu adalah amal jariyah yang tidak pernah putus.
Mari kita renungkan sejenak. Siapa yang pertama kali mengajari kita membaca "Bismillahirrahmanirrahim"? Siapa yang dengan sabar membimbing kita mengenal huruf hijaiyah? Siapa yang mengajarkan kita shalat, wudhu, dan rukun Islam? Mereka adalah guru-guru kita. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya, pahlawan yang membentuk akidah, akhlak, dan intelektualitas kita.
Hadhirin jamaah Jumat rahimakumullah...
Jika kita bertanya, siapakah teladan guru yang paling sempurna? Jawabannya adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau sendiri pernah bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus untuk menjadi seorang guru." (HR Ibnu Majah)
Pengakuan ini menunjukkan betapa mulianya profesi mengajar. Misi kenabian yang begitu agung pun diringkas oleh Rasulullah dalam satu kata: mu'allim, seorang guru. Bagaimana Rasulullah SAW mengajar?
Beliau mengajar dengan keteladanan (Uswah Hasanah). Sebelum menyuruh para sahabatnya untuk jujur, beliau adalah Al-Amin (yang terpercaya). Sebelum memerintahkan untuk dermawan, beliau adalah orang yang paling pemurah. Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya: mengajar bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan seluruh jiwa dan raga.
Beliau mengajar dengan kasih sayang dan kelembutan. Beliau tidak pernah mencela atau mempermalukan muridnya yang berbuat salah. Sebaliknya, beliau menasihati dengan penuh hikmah. Ingatlah kisah seorang Arab Badui yang kencing di dalam masjid. Para sahabat hendak memarahinya, tetapi Rasulullah mencegah dan menasihatinya dengan lembut. Hasilnya? Orang itu jatuh cinta pada Islam.
Beliau mengajar dengan metode yang dialogis dan mudah dipahami. Beliau sering menggunakan perumpamaan, bertanya jawab, dan menyesuaikan bahasa dengan tingkat pemahaman lawan bicaranya.
Tugas seorang guru modern sejatinya meneladani metode Rasulullah ini. Tugas mereka bukan hanya transfer of knowledge (memindahkan pengetahuan), tetapi yang lebih penting adalah transfer of value (memindahkan nilai) dan character building (pembentukan karakter). Guru yang hebat tidak hanya membuat muridnya pintar secara akademis, tetapi juga mulia secara akhlak.
Inilah yang membedakan antara sekadar pengajar dan seorang pendidik (murabbi). Pengajar mungkin hanya mengisi otak, tetapi seorang pendidik menyentuh hati, membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs), dan membentuk kepribadian Islami. Mereka adalah pewaris para Nabi dalam tugas yang mulia ini. Rasulullah SAW bersabda:
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
Artinya: "...dan sesungguhnya para ulama (orang-orang berilmu) adalah pewaris para Nabi." (HR. Abu Daud & Tirmidzi)
Para pendidik inilah yang melanjutkan tugas kenabian sebagaimana yang dijelaskan dalam Alquran:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." (QS al-Baqarah: 129)
Hadhirin jamaah Jumat rahimakumullah
Setelah kita memahami betapa mulianya kedudukan seorang guru, kini saatnya kita bertanya pada diri kita sendiri: Sudahkah kita memuliakan mereka? Sudahkah kita menunaikan hak-hak mereka?
Sejarah peradaban Islam yang gemilang dibangun di atas fondasi penghormatan yang luar biasa kepada para guru. Mari kita lihat bagaimana para ulama besar terdahulu memperlakukan guru-guru mereka.
Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah, seorang mujtahid besar, menunjukkan adab yang luar biasa kepada gurunya, Imam Malik Rahimahullah. Beliau bercerita, "Dahulu, aku membuka lembaran kitab di hadapan Malik dengan sangat lembut, agar beliau tidak mendengar suaranya (karena khawatir mengganggu)."
Bayangkan, sekadar suara lembaran kertas pun beliau perhatikan agar tidak mengganggu sang guru. Bandingkan dengan kondisi hari ini. Betapa sering kita mendengar murid yang melawan gurunya, orang tua yang memarahi guru karena menegur anaknya, atau masyarakat yang meremehkan profesi guru. Jika fondasi penghormatan ini runtuh, maka tunggulah keruntuhan ilmu dan adab pada generasi mendatang.
Maka dari itu, ada beberapa hal yang harus menjadi tanggung jawab kita bersama:
Bagi para murid dan mahasiswa: Muliakanlah guru-gurumu. Dengarkanlah nasihat mereka dengan penuh perhatian. Rendahkan hatimu di hadapan mereka, karena kerendahan hati adalah kunci membuka pintu ilmu. Doakan kebaikan untuk mereka di setiap shalatmu. Ingatlah perkataan bijak: "Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat," dan salah satu maksiat terbesar adalah durhaka kepada guru.
Bagi para orang tua: Ajarkan anak-anak kita untuk menghormati guru mereka melebihi menghormati Anda sebagai orang tua dalam urusan ilmu. Jangan mudah menyalahkan guru ketika anak kita ditegur atau diberi sanksi edukatif.
Bekerjasamalah dengan guru untuk mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.
Bagi masyarakat dan pemerintah: Hargailah profesi guru. Berikan apresiasi yang layak, baik secara moril maupun materiil. Kesejahteraan seorang guru adalah investasi bagi masa depan bangsa. Jika para guru hidup dalam kesejahteraan dan kehormatan, mereka akan lebih fokus dalam mencurahkan segenap jiwa dan raga mereka untuk mendidik generasi penerus.
Hadhirin jamaah Jumat rahimakumullah..
Islam memuliakan guru antara lain melalui konsep sanad, Setiap guru terhubung dengan mata rantai keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW. Inilah yang dalam tradisi Islam disebut sanad ilmu. Ketika seorang guru mengajarkan ilmu, dia bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi meneruskan estafet keberkahan yang bersambung hingga sumber utama - Nabi Muhammad SAW.
Di lain sisi, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa guru adalah "dokter spiritual" yang bertugas mengobati penyakit jiwa manusia. Layaknya dokter yang memahami kondisi pasiennya, guru harus memahami karakter setiap murid, memberikan "resep ilmu" sesuai kemampuan, dan bersikap lembut dalam membimbing. Sabda Rasulullah yang berbunyi: "Sesungguhnya aku diutus sebagai guru yang memudahkan," menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam pendidikan.
Islam juga menempatkan guru sebagai murabbi yang tidak hanya mentransfer ilmu (ta'lim), tetapi juga membersihkan hati dan membentuk akhlak. Investasi terbesar peradaban Islam adalah melalui pendidikan. Khalifah Al-Ma'mun membangun Baitul Hikmah dengan gaji guru setara dengan pejabat tinggi negara. Sultan Malik Syah dari Dinasti Seljuk mendirikan Nizamiyah University dengan sistem tunjangan kehidupan untuk guru. Ini membuktikan bahwa kemajuan peradaban Islam dibangun melalui komitmen nyata dalam memuliakan dan mensejahterakan para pendidik.
Hadhirin Jamaah Jumat rahimakumullah..
Peringatan Hari Guru adalah momentum kebangkitan kita untuk kembali memuliakan ilmu dan para ahlinya. Maju mundurnya sebuah bangsa, cerah suramnya masa depan umat, sangat bergantung pada kualitas para pendidiknya dan bagaimana umat ini memperlakukan mereka. Jika para guru mulia di mata kita, maka mulialah generasi yang akan mereka lahirkan. Sebaliknya, jika para guru kita rendahkan, maka jangan heran jika generasi mendatang adalah generasi yang rapuh, tanpa arah, dan kehilangan adab.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kesehatan, dan keikhlasan kepada seluruh guru di Indonesia. Semoga Allah mengangkat derajat mereka di dunia dan di akhirat, dan semoga kita semua dijadikan sebagai murid-murid yang tahu berterima kasih dan senantiasa berada dalam naungan ridha-Nya. amin allahumma amin
Ya Allah, Ya Tuhan kami. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa guru-guru kami. Sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi dan mendidik kami di waktu kecil.
Ya Allah, muliakanlah para guru kami. Berikanlah mereka kesehatan yang sempurna, rezeki yang berkah, keluarga yang sakinah, dan hati yang selalu ikhlas dalam mendidik generasi bangsa kami. Bagi guru-guru kami yang telah wafat, lapangkanlah kubur mereka, ampunilah segala kesalahan mereka, dan tempatkanlah mereka di Jannah-Mu yang tertinggi.
Ya Allah, jadikanlah kami dan anak cucu dan keturunan kami sebagai generasi yang cinta ilmu, ta’zim pada guru, dan berakhlak mulia.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقَوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ