Oleh: Ustadz Mulki Sobri, Sekretaris MUI Kota Tangerang
اَلسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَدَّى الْأَمَانَةَ، وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَنَصَحَ لِلْأُمَّةِ، وَجَاهَدَ فِي اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ : فَيَآعِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى ا للّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ تَعَالٰى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurāt: 10)
Jamaah Jumat rahimakumullah..
Agama Islam adalah agama yang menanamkan semangat persaudaraan di antara sesama umat manusia, khususnya sesama kaum Muslimin. Persaudaraan (ukhuwah) adalah ikatan hati dan jiwa yang dibangun di atas dasar keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurāt: 10)
Allah SWT menegaskan bahwa keimanan melahirkan persaudaraan, dan persaudaraan menuntut kita untuk saling memperbaiki, mendamaikan, serta menegakkan kasih sayang di antara sesama.
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Saudara seiman bukan sekadar teman atau kerabat. Ia memiliki hak-hak yang wajib kita tunaikan. Rasulullah SAW telah menegaskan hal ini dalam hadis sahih:
اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzhalimi, tidak menghinakan, tidak mendustakan, dan tidak merendahkannya.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga bersabda yang artinya :
“Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: Jika engkau bertemu dengannya, ucapkan salam; jika ia mengundangmu, penuhilah undangannya; jika ia meminta nasihat, berilah nasihat; jika ia bersin dan memuji Allah, doakanlah; jika ia sakit, jenguklah; dan jika ia meninggal dunia, iringilah jenazahnya.” (HR Muslim)
Makna dari hadits tersebut adalah bahwa ukhuwah bukan sekadar hubungan perasaan, tetapi harus diwujudkan dengan tindakan nyata. Oleh karena itu kita harus menjaga hak-hak sesama saudara seiman seperti :
1. Hak untuk dihormati dan dijaga kehormatannya.
Seorang Muslim tidak boleh menghina, mencela, atau mempermalukan saudaranya. Rasulullah SAW pernah bersabda :
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
Artinya : “Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama Muslim.” (HR Muslim).
2. Hak untuk ditolong dalam kebaikan.
Bila saudara kita dizalimi atau dalam kesulitan, kita wajib menolongnya sesuai kemampuan. Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya : “Tolonglah saudaramu, baik ia berbuat zalim maupun dizalimi.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tahu bagaimana menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zalim?” Beliau menjawab, “Dengan mencegahnya dari kezaliman, itulah cara menolongnya.” (HR. Bukhari)
3. Hak untuk dimaafkan dan tidak disimpan dendam.
Allah memuji orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Ialah) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ali Imran: 134)
4. Hak untuk dijaga dari ghibah dan fitnah.
Jangan bicarakan aib saudara kita di belakangnya. Hal ini sangat dilarang oleh Allah SWT, bahkan orang yang menggibah saudaranya disamakan dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati. Allah SWT berfirman dalam surah Al Hujuraat ayat 12 :
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)
5. Hak untuk didoakan dan disayangi.
Nabi SAW bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
. رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ وَمُسْلِمٌ
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Jamaah rahimakumullah...
Umat Islam hanya akan kuat bila persaudaraan di antara mereka terjalin erat. Sebaliknya, umat akan lemah bila di antara mereka muncul saling curiga, iri, dan perpecahan. Allah memperingatkan kita dalam firman-Nya :
وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ
“Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfal: 46)
Maka dari itu, hendaklah kita senantiasa menjaga ukhuwah, saling memaafkan, menutup aib saudara, dan menolong mereka dalam kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللّٰهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَة
“Barang siapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim)
Jamaah yang dimuliakan Allah..
Mari kita perkuat tali persaudaraan dengan saling menebar salam, membantu yang membutuhkan, mendoakan yang sakit, dan menjaga lisan dari keburukan.
Semoga Allah menanamkan kasih sayang di hati kita dan menjadikan kita termasuk golongan yang disebut dalam hadits:
اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ تَبَارَكَ وَتَعَالٰى، اِرْحَمُوْا مَنْ فِى الْاَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
“Orang-orang yang welas asih ( menebarkan kasih sayang ) akan dikasih sayangi oleh Zat Yang Maha Pengasih, Maha Suci dan Maha Tinggi. Sayangilah makhluk yang ada di muka bumi ( penduduk bumi ), niscaya makhluk yang ada di langit akan mengasihi kalian.” ( HR Tarmidi dan Abu dawud ).
Jika kita menjaga persaudaraan, maka Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi. Namun jika kita saling bermusuhan, maka rahmat Allah akan dijauhkan dari kita. Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ، فَيُعْرِضُ هَذَا، وَيُعْرِضُ هٰذَا، وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ .
“Tidak halal bagi muslim memutuskan persahabatan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seseorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR Bukhari, no 6077 dan Muslim, no 2560)
Maka jangan biarkan permusuhan merusak ukhuwah. Segeralah berdamai, meminta maaf, dan memberi maaf, karena itulah tanda hati yang lapang dan iman yang kokoh.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.