Dari Sarung hingga Batik, Kemnaker Dorong Produk Santri Kuasai Pasar Ekspor Lewat Inkopontren
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) berkomitmen penuh mendorong produk-produk kreatif hasil karya santri di berbagai pondok pesantren seluruh Indonesia untuk menembus pasar internasional (go global).
Melalui kolaborasi strategis dengan Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren), produk lokal khas pesantren mulai dari kain batik hingga sarung ditargetkan mampu menguasai pasar ekspor dan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Ditjen PHI dan Jamsos) Kemnaker, Indah Anggoro Putri, mengungkapkan langkah ini selaras dengan arah kebijakan Presiden melalui Asta Cita ketiga, yakni meningkatkan lapangan kerja dan melanjutkan pembangunan infrastruktur.
Baca juga: Badan Silaturahim Ulama Pesantren Madura Surati Menhaj, Minta Patuhi Fatwa MUI Soal Dam
"Ibaratnya, alhamdulillah sekali mendayung tiga pulau terlampaui. Kita tidak hanya melatih keterampilan santri, tetapi juga membangun infrastruktur ekonomi dan sekaligus membuka jalan bagi mereka untuk menjadi pemain global," kata Indah dalam Rakernas Inkopontren di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Upaya masif ini merupakan bagian dari target besar pemerintah untuk mendorong rasio wirausaha nasional hingga menyentuh angka 4 persen, yang menjadi salah satu syarat mutlak bagi Indonesia untuk bertransformasi menjadi negara maju.
Saat ini, grafik kewirausahaan di Indonesia menunjukkan tren positif yang sangat signifikan. Target rasio wirausaha yang semula berada di angka 3,1 persen kini melesat hingga mencapai 3,9 persen.
"Saat ini total wirausaha kita sudah mencapai 56 juta jiwa. Ini adalah angka tertinggi dalam sedekade terakhir. Capaian yang membanggakan ini memperkuat komitmen Kemnaker untuk terus berkolaborasi dengan Inkopontren," ungkapnya.
Baca juga: Gandeng Tiga Kementerian, Inkopontren Tingkatkan Kualitas SDM dan Inkubasi Bisnis Pesantren
Sebagai modal utama pencetakan SDM berkualitas ekspor, Kemnaker memaksimalkan keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas.
Tercatat sejak tahun 2019, Kemnaker telah membangun sedikitnya 3.000 BLK Komunitas yang tersebar di lingkungan pesantren di seluruh penjuru Indonesia.
Infrastruktur fisik yang sudah matang ini kini memasuki fase optimalisasi. Sesuai dengan arahan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Kemnaker menitipkan pengelolaan dan pengaktifan struktur BLK ini secara intensif kepada Inkopontren agar program kerja yang dijalankan tepat sasaran.
Di dalam BLK Komunitas tersebut, para santri tidak hanya mendapatkan pendidikan vokasi dan berbagai macam keahlian (skill), tetapi juga dibekali dengan sertifikat kompetensi resmi. Sertifikasi inilah yang menjadi modal krusial bagi para santri untuk menjadi embrio pelaku ekspor di masa depan melalui ekosistem yang inklusif.
Kemnaker menyadari bahwa untuk melahirkan eksportir baru dari kalangan pesantren, pelatihan saja tidak cukup. Oleh karena itu, pemerintah telah menyiapkan program Tenaga Kerja Mandiri (TKM) sebagai stimulus modal usaha pascapelatihan.
Pertama, bantuan modal sebesar Rp 3 juta kepada santri pasca-pelatihan di BLK Ponpes untuk memulai usaha mereka. Kedua, bantuan modal Rp 15 juta jika usaha yang dirintis menunjukkan performa yang bagus dan berkembang, pelaku usaha santri dapat mengajukan TKM Lanjutan.
Indah menambahkan, ekosistem yang terintegrasi, mulai dari pelatihan bersertifikat di BLK, suntikan modal bertahap, hingga agregasi produk oleh Inkopontren, produk potensial pondok pesantren seperti batik, sarung, dan kerajinan lainnya kini berada di jalur yang tepat untuk merambah pasar dunia.