Bocoran Media: Israel dan AS akan Kembali Serang Iran dalam Waktu Dekat
Dhea Oktaviana
Penulis
Admin
Editor
TEL AVIV— Israel dan Amerika Serikat bersiap untuk kembali terlibat dalam pertempuran dengan Iran. Pesawat-pesawat AS tambahan telah mendarat di Israel.
Di tengah gencatan senjata yang rapuh pasca-konfrontasi militer yang berlangsung selama 40 hari, tanda-tanda persiapan untuk babak baru antara Amerika Serikat dan Iran semakin jelas.
Ini dengan mobilisasi timbal balik yang mencerminkan perlombaan untuk membangun kembali kemampuan serta memanfaatkan jeda waktu untuk memulihkan apa yang telah dihancurkan oleh perang, pada saat Israel menerima sekitar 6.500 ton amunisi Amerika dalam 24 jam, melalui pelabuhan Ashdod dan Haifa, sebagai bagian dari jembatan laut dan udara yang bertujuan untuk mengganti persediaan yang habis selama perang.
Dilansir Aljazeera, Senin (5/5/2026), saluran TV Israel Channel 12 - mengutip sumber militer - mengatakan tentara memantau perkembangan di wilayah tersebut, dan tetap dalam keadaan siaga dan waspada.
Sumber tersebut menyatakan sistem pertahanan udara dan kemampuan serangan berada pada tingkat kesiapan tertinggi tanpa perubahan sejak keputusan gencatan senjata.
Saluran televisi Israel tersebut menambahkan— mengutip sumber keamanan— bahwa tidak ada perubahan dalam instruksi komando front dalam negeri saat ini, serta tidak ada perubahan pada prosedur Bandara Ben Gurion, sementara aktivitas operasional tetap berjalan normal.
Perkembangan ini terjadi setelah Uni Emirat Arab menjadi sasaran serangan rudal pada Senin, di mana Kementerian Pertahanan UEA mengumumkan bahwa tiga rudal yang diluncurkan dari Iran telah berhasil dicegat, sementara rudal keempat jatuh ke laut.
Surat kabar Israel Hayom - mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah ini - melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Israel sedang melakukan konsultasi intensif untuk membahas cara-cara menanggapi Iran.
Menurut sumber-sumber tersebut, opsi yang dipertimbangkan meliputi serangan presisi yang menargetkan platform peluncuran rudal dan sasaran militer yang mengancam navigasi di Selat Hormuz, atau melancarkan serangan paralel terhadap fasilitas energi di dalam Iran.
Surat kabar tersebut menambahkan bahwa Israel tidak diharapkan untuk mengambil inisiatif tindakan militer preventif terhadap Iran, kecuali jika menerima permintaan eksplisit dari Washington.
Menurut Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab, sistem pertahanan udara berhasil mencegat 12 rudal balistik, 3 rudal jelajah, serta 4 pesawat tak berawak.
Kementerian tersebut menjelaskan bahwa serangan tersebut mengakibatkan 3 korban luka yang digambarkan sebagai luka sedang.
Peningkatan tingkat kesiapsiagaan Dalam konteks ini, surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa militer Israel berada dalam keadaan siaga tinggi menyusul eskalasi di Teluk.
Dia menyebutkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah melakukan konsultasi keamanan secara terus-menerus sepanjang hari ini, serta menegaskan kesiapan untuk menghadapi segala kemungkinan.
Israel Hayom mengutip sumber keamanan yang menyatakan bahwa situasi dengan Iran memburuk dengan cepat, dan ketegangan mungkin berlanjut selama beberapa hari atau lebih.
Sementara itu, Jerusalem Post mengutip seorang pejabat Israel yang mengatakan bahwa Netanyahu telah mengadakan beberapa konsultasi keamanan hari ini terkait perkembangan di Teluk, dan menyatakan bahwa mereka siap menghadapi semua skenario.
Trump mengancam Dalam konteks terkait, Presiden AS Donald Trump -dalam wawancara dengan Fox News- mengatakan bahwa Iran akan dihancurkan dari muka bumi jika menyerang kapal-kapal AS yang berpartisipasi dalam "Operasi Kebebasan", sambil menyoroti berlanjutnya pengerahan militer AS di kawasan tersebut.
Dia menambahkan bahwa AS memiliki senjata dan amunisi yang lebih banyak dan dengan kualitas jauh lebih tinggi daripada yang kami miliki sebelumnya.
Dia menegaskan Teheran harus menandatangani kesepakatan dengan itikad baik atau operasi militer akan dilanjutkan, sambil menggambarkan penyebaran angkatan laut yang sedang berlangsung sebagai salah satu gerakan militer terbesar dalam sejarah.
Sebelumnya, Presiden AS telah mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memulai upaya untuk membebaskan kapal-kapal yang tertahan di Selat Hormuz, Senin kemarin, sambil menyoroti berlanjutnya "perundingan positif" dengan Iran, di tengah penegasan Komando Pusat AS (CENTCOM) mengenai partisipasinya dalam operasi tersebut.