Ketika Baqi dan Ma’la Menegur Keangkuhan Dunia
Rizkayadi Sjukri
Penulis
Fatmawati Hilal (Guru Besar UIN Alauddin Makassar/Pengurus Komisi PRK MUI Sulsel)
Makkah Al-Mukarramah,muisulsel.or.id – Madinah dan Makkah bukan hanya kota suci tempat umat Islam menunaikan ibadah, tetapi juga ruang perenungan yang menghidupkan kesadaran tentang sejarah, perjuangan, dan hakikat kehidupan. Salah satu agenda wisata ziarah jamaah Kloter UPG 5 Gowa adalah mengunjungi pemakaman Baqi di Madinah serta pemakaman Ma’la atau Jannatul Mu’alla di Makkah.
Saat rombongan tiba di pemakaman Baqi, pembimbing ibadah Kloter UPG 5, H. Zulkifli Hijaz, menjelaskan tentang para tokoh besar Islam yang dimakamkan di tempat tersebut. Baqi dikenal sebagai salah satu kompleks pemakaman paling mulia dalam sejarah Islam. Di tempat itu dimakamkan isteri-isteri Rasulullah saw., para sahabat, tabi’in, serta keluarga Nabi saw.
Di hadapan hamparan makam sederhana tanpa kemewahan itu, manusia seperti diingatkan bahwa setiap jiwa pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.
Di Mekkah, ziarah dilakukan di pemakaman Ma’la, yang juga dikenal dengan nama Jannatul Mu’alla. Tempat ini menyimpan jejak sejarah keluarga Rasulullah saw. Di sanalah dimakamkan Sayyidah Khadijah ra., isteri Rasulullah saw. yang begitu setia mendampingi perjuangan dakwah beliau. Di tempat itu pula dimakamkan dua putra Rasulullah, Qasim dan Abdullah, serta paman beliau, Abu Thalib.
Di depan pemakaman Ma’la, jamaah kembali merenungi makna hakiki ziarah kubur. Ziarah bukan sekadar melihat makam, melainkan menghidupkan kesadaran tentang kefanaan dunia, sebagai tadzkiratul maut -pengingat akan kematian. Di tempat itu manusia melihat bahwa orang kaya dan miskin akhirnya sama, penguasa dan rakyat akhirnya sama. Semua gelar, jabatan, kemegahan, dan kemewahan dunia berhenti di liang kubur. Yang tersisa hanyalah amal. Ziarah kubur bukan untuk kultus, tetapi untuk mengambil ibrah dan pelajaran kehidupan.

Ziarah makam di Indonesia dan di Mekkah-Madinah menghadirkan suasana yang berbeda. Di Indonesia, perempuan dapat melangkah langsung ke area pemakaman, berdiri dekat pusara, menabur doa sambil menatap batu nisan dengan leluasa. Sedangkan di Makkah dan Madinah, perempuan hanya dapat memandang dari balik dinding yang tinggi dan pagar pembatas. Tubuh kecil seperti saya pun harus berjingkrak agar bisa melihat samar-samar area pemakaman itu.
Sejenak aku terdiam. Mataku nanar mencari serpihan batu nisan di Ma’la, meski kutahu tak mungkin kutemukan nama kakak H. Abd. Khalik Siaman, seorang kakak senior pramuka UIN Alauddin Makassar yang berpulang ke Rahmatullah pada hari Jum’at, 29 Agustus 2025 di Mekkah. Dari putranya, Farhan, kudapatkan informasi makam ayahnya di pemakaman Sharaya. Tempat yang jauh dari lokasiku mukim menunggu jadwal puncak Arafah. Sambil menunduk, lamat-lamat kulangitkan doa untuk kak H. Abd. Khalik Siaman. Sambil membisikkan kalimat dengan derai kecil air mata, “Kak, meski ragamu tak di sini, aku datang menziarahimu dengan doa.” Semoga Allah membahagiakanmu di alam sana bersama para orang-orang mulia yang wafat di tanah haram.
Usai melangitkan doa, aku berbalik ke rombongan dan memimpin doa bersama. Memberi salam kepada para penghuni kubur, dan penegasan bahwa kami semua pasti akan menyusul kembali ke pangkuan Sang Khaliq.
Dari ziarah kita belajar memangkas kesombongan ego dan keangkuhan dunia. Ziarah mengajarkan kerendahan hati, menghidupkan semangat memperbanyak amal, mempersiapkan diri menghadapi kematian, menguatkan kecintaan kepada Rasulullah saw., keluarga beliau, dan para sahabat yang telah berjuang menegakkan Islam dan pengorbanan yang besar, dan yang tak kalah penting, ziarah mengingatkan bahwa hidup sejatinya adalah perjalanan singkat menuju akhirat. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan kampung yang abadi adalah kehidupan setelah kematian.
Manusia yang sering merasa kuat, kaya, atau mulia akan sadar bahwa pada akhirnya seluruh manusia kembali ke tanah. Ketika melihat deretan makam, seseorang akan bertanya pada dirinya sendiri: amal apa yang akan dibawa ketika dipanggil Allah SWT. Mempersiapkan diri menghadapi kematian adalah sebuah keharusan. Sebab kematian tidak mengenal usia, jabatan, maupun keadaan. Semua hanyalah sementara.
Di tengah padatnya aktivitas ibadah dan perjalanan haji, ziarah Baqi dan Ma’la menjadi momen sunyi yang menyentuh hati jamaah. Di hadapan makam-makam sederhana itu, manusia belajar tentang arti kehidupan, hakikat penghambaan, dan pentingnya meninggalkan jejak amal saleh sebelum tiba waktunya kembali kepada Allah SWT.(Irfan Suba Raya)