Mengukur Kemabruran, Prof Niam: Bukti Nyata Haji Ada pada Kesalehan Sosial di Tanah Air
Redaksi
Penulis
Makkah, MUI Jatim
Keberhasilan ibadah haji seorang muslim tidak semata-mata diukur dari tuntasnya rangkaian ritual fisik di Tanah Suci. Indikator utama kemabruran justru lebih mudah dinilai dari dampak nyata jemaah terhadap relasi sosialnya sekembalinya ke Tanah Air.
Hal tersebut ditegaskan oleh Musyrif Diny sekaligus Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof. KH Asrorun Niam Sholeh, dalam keterangannya di Makkah, Rabu (3/6/2026).
Prof. Niam menjelaskan bahwa ibadah haji yang mabrur memang menjanjikan balasan surga. Meskipun ganjaran tersebut bersifat kualitatif dan menjadi rahasia Allah SWT, tanda-tanda kemabruran tetap dapat diukur dan dilihat secara kasat mata melalui perubahan perilaku jemaah di kehidupan sehari-hari.
“Yang lihat siapa? Ya yang lihat orang lain seiring dengan perubahan pra dengan pascanya,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah tersebut.
Sebagai contoh sederhana, Prof. Niam menyebutkan aspek konsistensi dalam beribadah. Seseorang yang sebelum berangkat haji cenderung kurang disiplin, lalu sekembalinya ke Tanah Air berubah menjadi rajin dan mampu menjaga ritme ibadahnya secara kontinu, merupakan sinyal kuat dari kemabruran.
Lebih lanjut, Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta ini menguraikan dua aspek utama kemabruran bagi jemaah haji:
– Komitmen Meninggalkan Keburukan: Adanya tekad kuat dari jemaah untuk memutus kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering dilakukan sebelum berhaji, dan menggantinya dengan tradisi kebaikan.
– Dawamul Ihsan (Konsistensi Berbuat Baik): Berakar dari kata al-birr yang bermakna husnul khuluk (akhlak yang baik), jemaah haji dituntut memiliki komitmen untuk terus-menerus memproduksi kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.
“Haji itu hal yang bersifat personal dan spiritual, tetapi dia bisa menjelma dan ditandai keterterimaannya lewat aktivitas kepribadian jemaah di dalam relasi sosial,” tegasnya.
Menurut Ketua Umum Majelis Alumni IPNU ini, karakteristik tersebut tidak hanya berlaku eksklusif untuk haji. Seluruh arsitektur ibadah dalam Islam mulai dari salat, puasa, hingga zakat selalu didesain dengan pelaksanaan yang bersifat personal, namun sasaran tembak akhirnya adalah kesuksesan sosial di tengah masyarakat.
Layaknya ibadah puasa yang dianggap berhasil jika mampu menumbuhkan kesetiakawanan sosial, ibadah haji juga akan terlihat kemabrurannya pada tingkah polah keseharian jemaah.
Menutup keterangannya, Prof. Niam mengingatkan bahwa perubahan spiritual dan sosial ini bukanlah sesuatu yang instan. Ini merupakan proses transformasi jangka panjang yang harus terus dirawat oleh setiap jemaah haji sepanjang hayatnya.