Lewati ke konten utama
Kamis, 17 September 2026 / 5 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Hukum Pernikahan dalam Kondisi Murtad
Foto: Pinterest
Tuntunan Ibadah

Bagaimana Hukum Pernikahan dalam Kondisi Murtad? Simak Penjelasan Komisi Fatwa MUI Ini

Bagaimana Hukum Pernikahan dalam Kondisi Murtad? Simak Penjelasan Komisi Fatwa MUI Ini

/ 28 Syawal 1447 H 2 menit baca 2.812 dibaca

Jakarta, MUI Digital — Anggota Komisi Fatwa MUI, KH Fatihun Nada, menjawab pertanyaan di rubrik Ulama Menjawab mengenai hukum pernikahan dalam kondisi murtad.

Mayoritas ulama mengatakan bahwa pernikahan seorang muslim yang dilangsungkan pada saat ia murtad tidak dianggap sah (tidak diperbolehkan), sehingga ia harus melangsungkan akad nikah baru  ketika kembali masuk Islam.

Hal ini berdasarkan pada keterangan dalam banyak literatur keislaman, di antaranya berikut ini:

فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ - الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ عَلَى الصَّحِيحِ وَالْحَنَابِلَةُ وَقَوْلٌ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ - إِلَى أَنَّ نِكَاحَ الْكُفَّارِ غَيْرِ الْمُرْتَدِّينَ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ صَحِيحٌ

“Jumhur fuqaha’—ulama Hanafiyah, ulama Syafi’iyah menurut pendapat yang sahih, ulama Hanabilah, dan sebuah pendapat dalam kalangan ulama Malikiyah—berpendapat bahwa pernikahan orang-orang kafir selain orang-orang yang murtad adalah sah.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, juz 41, h. 319)

Hal ini menjelaskan bahwa pernikahan seseorang yang dilangsungkan pada saat ia kafir (belum masuk Islam) hukumnya sah, sedangkan pernikahan seseorang yang dilangsungkan pada saat ia murtad (keluar dari Islam) hukumnya tidak sah.

Selain keterangan di atas, keterangan ini juga terdapat dalam kitab Al-Umm karya Imam Syafi’i, sebagaimana berikut:

وَلَا يَجُوزُ لِلْمُرْتَدِّ أَنْ يَنْكِحَ قَبْلَ الْحَجْرِ وَلَا بَعْدَهُ مُسْلِمَةً لِأَنَّهُ مُشْرِكٌ وَلَا وَثَنِيَّةً لِأَنَّهُ لَا يَحِلُّ لَهُ إلَّا مَا يَحِلُّ لِلْمُسْلِمِينَ وَلَا كِتَابِيَّةً لِأَنَّهُ لَا يُقِرُّ عَلَى دِينِهِ

“Dan tidak diperbolehkan bagi orang murtad untuk menikahi seorang wanita muslimah, baik sebelum atau setelah ia dijatuhi hukuman (hajr) karena dia adalah seorang musyrik. Begitu pula tidak diperbolehkan menikahi wanita penyembah berhala (watsaniyah) karena tidak halal bagi orang murtad atas penyembah berhala, kecuali apa yang halal bagi orang-orang muslim. Begitu juga orang murtad tidak boleh menikahi wanita dari Ahli Kitab karena orang murtad tidak tetap pada agamanya.” (A-Umm, juz 6, h. 177)

“Hal ini menjelaskan bahwa seseorang yang murtad tidak diperbolehkan menikah dengan seorang muslim, seorang penyembah berhala, dan seorang ahli kitab,” tegas KH Fatihun Nada.

slot gacorhttps://kencang77-on.com/https://kencang77.net/
BAGIKAN: