Menurutnya, aspek yang pertama adalah aspek kurasi. Tim media MUI, khususnya dari Komisi Infokom, setiap minggu melakukan seleksi atau pemilihan narasi konten apa yang penting untuk dipublikasikan.
Aspek kedua, lanjutnya, produksi konten. Konten bisa dalam bentuk tulisan, video, infografis, maupun lainnya yang nanti outputnya (hasilnya) dipublikasikan di media MUI.
"Diharapkan berbagai produksi konten terkonsolidasikan melalui media MUI. Supaya kita semakin kuat, subscribe dan views makin besar, itu lebih baik dibandingkan masing-masing berkreasi membuat platform," kata Asrori dalam Standardisasi dan Optimalisasi Media MUI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI, Jakarta Pusat, Kamis (19/6/2025).
Kegiatan ini digelar oleh Komisi Infokom MUI dengan mengundang seluruh Komisi, Badan, dan Lembaga (KBL) MUI.
Lebih lanjut, dia menyampaikan, produksi konten baik yang sudah jadi maupun setengah jadi, bisa dikoordinasikan dan dikolaborasikan dengan tim media MUI untuk dipublikasikan.
Kiai Asrori menerangkan, apabila ada produksi konten dalam bentuk video, bisa dikoordinasikan dengan tv maupun medsos. Sementara artikel, naskah news maupun non news seperti khutbah jumat, bisa disampaikan ke tim website MUI.
Kemudian, aspek ketiga yakni distribusi atau amplifikasi konten-konten yang diproduksi tersebut dengan melibatkan networking KBL MUI secara nasional.