Pernikahan tak Sekadar Ibadah, Mengapa Kursus Pra Nikah Strategis? Ini Kata Wasekjen MUI
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PDPAB) bekerja sama dengan Kementerian Agama Jakarta Pusat menggelar Seminar Pra-Nikah Akhlak Bangsa angkatan kedua.
Kegiatan ini bertujuan membekali generasi muda, khususnya kalangan milenial dan Gen Z, sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Seminar dikemas dalam bentuk kursus calon pengantin (catin) dengan materi seputar kesiapan akhlak, mental, dan spiritual.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Arif Fahrudin, menegaskan urgensi program tersebut.
“Mengapa kursus calon pengantin ini strategis? Karena yang menjadi sasarannya adalah usia Gen Z dan milenial. Mereka perlu mendapatkan ash-shibghah al-Islāmiyyah atau celupan Islami dari para ulama, sehingga dakwah Islam bisa masuk pada level generasi muda ini,” ujarnya saat membuka seminar di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta, Ahad (21/9/2025).
Menurut Kiai Arif, pernikahan dalam Islam tidak sekadar ibadah, melainkan juga pintu masuk menuju lahirnya peradaban.
Kiai Arif mencontohkan beberapa negara maju yang mengalami penurunan populasi meski memiliki teknologi tinggi.
“Negara seperti Jepang teknologinya maju, peradabannya tinggi, tetapi populasinya menurun. Kalau populasi berkurang, teknologi itu mubazir. Karena itu, kami sangat gembira PDPAB fokus menyasar milenial dan Gen Z melalui program ini,” jelasnya.
Selain itu, isu pencegahan pernikahan usia anak juga menjadi perhatian penting. MUI menekankan perlunya kedewasaan mental dan kesiapan batin sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
“Walaupun undang-undang sudah menetapkan batas usia nikah, sebisa mungkin harus ada keselarasan dengan perspektif syariat. Tujuannya sama, agar pernikahan dilakukan dengan kesiapan mental dan spiritual. Kalau mentalnya siap, insya Allah lahir generasi Indonesia yang berkualitas,” tegasnya.
Kiai Arif juga menekankan bahwa program ini harus berkelanjutan agar dampaknya terasa luas di kalangan anak muda.
“Harus rutin, karena program strategis itu butuh keberlanjutan. Intervensi ulama dalam menyapa generasi muda sangat penting supaya mereka sejak awal terarah dan matang menghadapi isu-isu kehidupan,” ungkapnya.
Lebih jauh, dia berharap program ini dapat memperkuat rasa syukur generasi muda terhadap syariat Islam dalam semua aspek kehidupan.
Harapannya, kata dia, anak-anak muda Gen Z dan milenial semakin merasakan nikmatnya beragama, nikmatnya syariat Islam, terutama dalam aspek pernikahan. Islam itu lengkap, dari bangun tidur sampai tidur lagi, termasuk urusan ibadah, pernikahan, bahkan sains dan teknologi. “Kami ingin mereka merasakan indahnya panduan Islam dalam kehidupan,” ujar dia. (Latifahtul Jannah, ed: Nashih)