JAKARTA, MUI.OR.ID - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Hasyim Asy'ari mengingatkan hakikat Pemilu sejatinya menjadi sarana konflik untuk meraih suatu bentuk kekuasaan. Sebagai sarana konflik, dia tidak ingin Pemilu muncul ke permukaan dengan bentuk kekerasan.
Hal itu ia sampaikan dalam acara Silaturrahim Nasional dan Deklarasi Pemilu Damai oleh ormas dan majelis lintas agama di Indonesia. Kegiatan itu berlangsung di Grand Sahid, Jl. Jenderal Sudirman No. 86, Karet Tengsin, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta pada Selasa (16/1/2023).
"KPU mengajak kita semua untuk memaknai Pemilu sebagai arena konflik untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan yang dianggap legal dan sah," kata Hasyim di Jakarta (16/01).
Dia tidak ingin Pemilu sebagai arena konflik perebutan kekuasaan bisa muncul ke permukaan dengan bentuk kekerasan, baik berupa fisik atau kekerasan verbal.
Sejauh ini, kata dia, hampir setiap gelaran Pemilu diwarnai dengan kekerasan verbal. Belakangan yang banyak terjadi berupa penyebaran berita hoax dan penyebaran fitnah.
"Padahal kita sebagai umat beragama cukup memahami, utamanya orang Islam, sebagaimana disebutkan dalam Alquran kalau fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Pesan inilah yang harus kita sebarkan untuk memegang teguh ciri-ciri kemanusiaan," ucapnya.
Dengan itu, Hasyim meminta masyarakat untuk tidak menggunakan aib seseorang atau pasangan calon tertentu sebagai instrumen elektoral untuk meraup suara rakyat.