Khutbah Jumat: Maulid Nabi Muhammad SAW, Anugerah Terbesar dalam Sejarah Umat Manusia
Admin
Penulis
Foto: Freepik
Oleh: Drs KH Abdullah Tholib MM, Wakil Ketua Umum MUI Kota Tangerang
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِىْ شَرَّفَ الْأَنَامَ بِصَاحِبِ الْمَقَامِ الْمَحْمُوْدِ
وَكَمَّلَ السُّعُوْدَ بِاِكْرَامِ الْمَوْلُوْدِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِالْحُجَّةِ الْبَالِغَةِ وَحُسْنِ الْبَيَانِ وَدَعَا اِلٰى رَبِّهِ بِالرَّحْمَةِ الْوَدُوْدِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
قاَلَ تَعَالٰى، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Jamaah shalat Jumat yang berbahagia...
Mensyukuri nikmat Allah SWT dengan cara mendayagunakan setiap nikmat itu dalam rangka beribadah kepada-Nya merupakan suatu keniscayaan yang harus dilakukan oleh setiap hamba Allah, jika ingin agar nikmat-nikmat tersebut menjadi bertambah.
Shalawat teriring salam semoga selalu tercurah kepada manusia sempurna nan agung dan tiada manusia yang bisa memberikan suri teladan yang terbaik untuk ummat seluruh dunia kecuali dia, Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya, sahabatnya dan setiap umat yang setia mengikutinya.
Dalam kesempatan ini khatib ingin berwasiat, khususnya diri khotib dan umumnya kita semua untuk selalu berusaha semaksimal mungkin meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Semoga dengan demikian Allah mencatat kita sebagai bagian hamba-hamba yang bertakwa sampai kita dipanggil oleh-Nya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...
Bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang akan selalu dikenang oleh umat Islam di seluruh dunia. Dalam bulan tersebut lahir manusia paripurna, kekasih dan menjadi Nabi dan Rosul Allah SWT. Kelahiran Nabi merupakan anugerah terbesar sepanjang sejarah bagi umat Islam.
Dialah yang telah diberikan kemampuan oleh Allah SWT mengubah dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang. Beliau telah membawa risalah yang telah memberikan pencerahan bagi umat yang asal mula tidak mengenal Allah, bahkan tidak percaya kepada-Nya, menjadi umat yang tidak sekadar beriman kepada Allah tetapi juga menjalankan setiap perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya.
Nabi Muhammad sebagai utusan Allah terakhir dengan risalah yang dibawanya merupakan perwujudan nyata dari sifat Rahman dan Rahim Allah SWT terhadap para hamba-Nya. Proses dakwah yang dilakukan oleh Nabi selalu menggunakan pendekatan kasih sayang dengan diiringi perilaku yang baik. Karena itulah maka kehadirannya di muka bumi ini menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hal ini sesuai apa yang telah difirmankan Allah dalam surat Al-Anbiya, 107 :
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk ( menjadi ) rahmat bagi semesta alam.”
Ayat di atas memberikan pengertian kepada kita, bahwa Nabi Muhammad adalah sosok manusia paripurna yang di dalam dirinya terdapat untaian mutiara hikmah sebagai obor penerang dalam hidup dan kehidupan bagi sekalian penghuni alam. Kehadirannya sebagai juru selamat yang mengantarkan kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat.
Kelahiran beliau harus kita syukuri dan kita sambut dengan kegembiraan yang mendalam sebagai starting point bagi umat manusia dalam konteks peningkatan pengabdian dan ketaatan kepada Khaliq sebagai Zat yang telah menyempurnakan kenikmatan-Nya. Allah SWT berfirman dalam surat Yunus ayat 58 :
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Merupakan suatu keniscayaan bagi seluruh umat Nabi Muhammad SAW mengekspresikan syukur dan kegembiraan mereka atas kelahirannya untuk mengadakan peringatan maulid dalam rangka meneladani sosok manusia yang membawa rahmah bagi seluruh alam.
Dalam pada itu umat juga mengadakan kegiatan social kemasyarakatan yang kemanfaatannya bisa dinikmati oleh masyarakat sebagai bentuk manifestasi dari mencontoh Rasul yang selalu menolong kepada sesama.
Dalam sejarah telah dicatat, bahwa kehadiran Nabi di dunia ini membawa kebenaran dan sekaligus membawa kabar gembira bagi umat yang mengikutinya dengan setia. Beliau juga memberikan peringatan kepada umat manusia untuk tidak mengingkari Allah dan Rasul-Nya agar tidak celaka di kelak kemudian hari. Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam surat al-Fathir, ayat 24:
اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا ۗوَاِنْ مِّنْ اُمَّةٍ اِلَّا خَلَا فِيْهَا نَذِيْرٌ
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.”
Berdasarkan ayat di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa seandainya Allah SWT tidak mengutus Nabi Muhammad SAW, bisa jadi masyarakat pada masa itu semakin rusak dan tertimbun malapetaka kejahilan, kesesatan, kemusyrikan, kemunafikan dan kemungkaran.
Keberadaan Nabi Muhammad SAW dengan membawa syariat yang benar, dapat mengubah masyarakat yang kafir, selalu berbuat kemungkaran dan kesesatan menjadi sebagian masyarakat yang beriman, berbudaya dan mejauhkan mereka dari kesesatan serta kemungkaran.
Beliau juga sebagai sosok pribadi yang mampu menyatukan umat manusia, khususnya bangsa Arab pada waktu itu dalam satu wadah dan panji kebenaran, yaitu Islam. Pada saat yang sama beliau juga dalam waktu yang tidak lama mampu mengubah masyarakat yang bejat, tidak bermoral, yang kuat menindas yang lemah dan merusak tatanan sosial menjadi masyarakat yang berbudaya, beretika, bermoral dan beradab, hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW :
اِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus ( sebagai Rasul ) untuk menyempurnakan akhlak” ( HR. Bukhari )
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Peran Nabi Muhammad SAW dalam mengubah tatanan sosial secara revolusioner dari kegelapan menjadi terang benderang, dari ketidak teraturan menjadi teratur, tertib, saling menghargai dan hukum menjadi rujukan utama yang berkeadilan untuk seluruh umat. Sejarah telah mencatat betapa Nabi Muhammad pemimpin yang tiada banding dalam membawa umatnya dari kemaksiatan menjadi ketaatan.
Nabi pembawa risalah dan sekaligus menjadi perwujudan rahman dan rahimnya Allah SWT, sehingga setiap umat yang mentaatinya berarti mereka mentaati Allah SWT dan terpelihara dari kesesatan. Allah berfirman dalam surat An-Nisa, ayat 80 :
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ
“Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling dari ( ketentuan itu ), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”
Demikian juga jika manusia mentaati, mencintai dan mengikuti Rasul, maka mereka tergolong manusia akan dicintai oleh Allah SWT, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 31. :
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ ...
Katakanlah: “Jika kamu ( benar-benar ) mencintai Allah’ ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Dalam momentum hari kelahiran Nabi, mari kita sebagai umatnya selalu mengenang bukan hanya sosok pribadi Nabi tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mengamalkan ajaran-ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari, baik ucapan, perbuatan dan ketetapan-ketetapan beliau.
Ajaran-ajaran beliau menjadi rujukan kedua setelah Alquran, baik dalam hukum halal haram, muamalah, jual beli, nikah dan lain-lain. Karena itu, maka barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasulnya akan benar-benar menjadi orang-orang yang sangat beruntung sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 71:
..... وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
Di akhir khutbah ini, khatib ingin mengutip sebuah ungkapan yang indah dari Abdullah bin Abas yang mengatakan bahwa :
اِنَّ الْفَضْلَ الْعِلْمَ وَالرَّحْمَةَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya karunia, baik berupa ilmu dan rahmah ( kasih sayang ) adalah Nabi Muhamad SAW.” ( Syekh Al-Alusi, Tafsir Ruhul Ma’ani, juz 8/41 )
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ