Syawal Menguji Konsistensi dan Mendidik Generasi
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Fenomena berulang pasca Ramadhan atau awal-awal Syawal banyak orang tiba-tiba masuk rumah sakit. Ada yang sakit bawaannya kambuh seperti asam urat, maag akut, hipertensi, diabetes. Sebagian ada yang jantungnya berdebar-debar, perut kembung, dan badan nyeri semuanya. Padahal selama puasa Ramadhan sebelum penuh bisa menahan diri dan tidak ada keluhan sakit yang berarti.
Entah balas
dendam makan tanpa perhitungan, makan apa saja yang selama ini menjadi
pantangan dari dokter. Mungkin juga pencernaan kaget dengan aneka ragam makanan
dan minuman yang harus diolah sehingga keceriaan Lebaran berubah ke ruang
dokter atau rumah sakit.
Sebagian lagi ada yang belum move on karena merasa kehilangan Ramadhan dan belum siap menjalani hari-hari Syawal yang sangat berbeda suasananya dengan Ramadhan. Suasananya tidak seindah Ramadhan, malamnya tidak semudah Ramadhan untuk bangun shalat malam, angin sorenya tidak sesejuk Ramadhan untuk menunggu buka puasa.
Baca juga: Khutbah Jumat: Meraih Pahala Berlimpah dengan Puasa Syawal
Syawal yang berjarak menit, jam, dan hari dari Ramadhan adalah pembuktian yang riil bagi keimanan seseorang. Ramadhan terasa karena memang setan dibelenggu, neraka ditutup rapat-rapat dan surga dibuka lebar-lebar sehingga menghadirkan ketaatan yang jelas. Orang mudah bertaat beramai-ramai dalam ibadah. Ada euforia dan sedikit sentuhan FOMO (Fear of Missing Out) dalam beribadah.
Syawal, sebagian
orang sudah kembali ke mode default (setelan pabrik). Berpuasa sunnah
enam hari di bulan Syawal terasa berkali-kali lipat lebih berat karena tak ada
lagi teman yang menahan lapar bersama.
Bangun shalat
malam terasa berbeda karena suasananya tak sehangat sahur Ramadhan. Tilawah
berlembar-lembar Alquran tidak senikmat di bulan Ramadhan. Itulah ujian Syawal,
apakah akan bertahan membawa napas amal Ramadhan di hari selanjutnya, atau
menyerah pada suasana.
Dalam sebuah hadis
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا
مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: “Siapa
saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan
Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim)
Ketika seorang beriman melanjutkan puasa Ramadhan dengan puasa enam hari Syawal, itu menunjukkan komitmennya untuk tetap istiqamah dalam amal saleh. Hanya orang-orang berkomitmen kepada keistiqamahan yang bertahan di Syawal, dan itu salah satu hikmah syariat 6 hari puasa sunnah.
Baca juga: Hikmah Syawal, Prof Sudarnoto: Takwa Berarti Harus Membela Kemanusiaan
Pertumbuhan iman
tidak selalu terlihat dan dirayakan, tapi dibuktikan. Di saat mayoritas orang
bersorak ria di hari raya, orang-orang takwa memilih bertumbuh dalam sepi,
menunaikan puasa sunnah, menyambung kembali tilawahnya dan menjaga sunnah nawafil-nya.
Di sinilah kita
menemukan irisan benang merah antara makna bulan Syawal dan proyek besar
melahirkan generasi yang istiqamah. Rasulullah SAW mencetak generasi Rabbani
selama 23 tahun. Lengkap dengan keringat, luka, darah, air mata, intimidasi,
boikot, embargo dan serba-serbi peristiwa yang menempa karakter kuat.
Dalam membangun
sebuah sistem atau generasi, tantangan terbesar adalah penurunan motivasi
setelah sebuah proyek besar selesai. Puasa Syawal mengajarkan bahwa ketaatan
tidak berakhir ketika perayaan (Idul Fitri) datang.
Puasa enam hari di bulan Syawal berfungsi sebagai instrumen pengunci (locking mechanism) agar nilai-nilai kebaikan tidak luntur begitu saja.
Baca juga: Hikmah Syawal, Kiai Ni'am: Ramadhan Ajarkan Disiplin Hingga Kejujuran
Ramadhan bersifat
wajib (komunal), sedangkan Syawal bersifat sunnah (personal). Membangun
generasi yang istiqamah membutuhkan transisi dari melakukan sesuatu karena “aturan”
menjadi melakukan sesuatu karena “kesadaran diri”.
Ketika seorang
anak muda memilih tetap berpuasa di saat orang lain sedang dalam euforia
makan-makan, ia sedang melatih independensi moral. Inilah akar dari istiqamah:
tetap teguh meskipun lingkungan tidak lagi mewajibkannya secara formal.
Istiqamah
memerlukan daya tahan. Syawal sering kali diisi dengan undangan silaturahmi dan
jamuan makan. Menjalankan puasa di tengah godaan tersebut adalah latihan
pengendalian diri yang sangat tinggi bagi individu yang memiliki grit
atau keteguhan hati. Mereka tidak mudah goyah oleh arus lingkungan dan mampu
menjaga prinsip di tengah situasi yang kontradiktif.
Kita harus mengoreksi miskonsepsi sebagian umat yang hanya duduk termangu menunggu kedatangan Imam Mahdi, tanpa melakukan persiapan apa-apa. Ada sebuah kaidah sejarah yang pasti, bahwa perubahan itu berproses perlahan-lahan, lalu mewujud secara tiba-tiba.
Baca juga: Hikmah Syawal, Rektor IPB Sampaikan Empat Nilai Utama Ramadhan yang Penting Dipertahankan
Jika memimpikan lahirnya generasi kader muslim dan kejayaan Islam, tugas kita hari ini adalah menanamkan
komitmen gradual tersebut. Pertama, mendidik keluarga dan anak-anak dengan
literasi tauhid yang benar. Kedua, terus bersuara dan menggalang kepedulian dengan
dunia muslim di tengah kejenuhan informasi. Ketiga, membangun kemandirian
ekonomi, militansi dan survival.
Apakah ini
gerakan instan? Tidak. Ini adalah jalan sunyi yang perlahan, menjemukan, dan
jauh dari tepuk tangan. Namun, amal-amal yang konsisten inilah yang akan
melahirkan titik suddenly (kemenangan tak terduga) di masa depan.
Syawal adalah ujian dan pembuktian konsistensi kita dalam beramal. Semoga yang membaca tulisan ini sudah selesai atau sedang menyelesaikan puasa Syawal enam hari.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.