Mendidik Anak: Tafsir Parenting dalam Kisah Nabi Musa dan Khidir
Oleh: Ahmad Yani, M.A
Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ada satu kegelisahan yang hampir tak pernah absen dalam hati orang tua: mengapa anak tidak selalu memahami maksud baik kita? Mengapa keputusan yang diambil dengan penuh pertimbangan justru dibalas dengan penolakan, bahkan perlawanan?
Pada titik inilah kisah Nabi Musa dan
Khidir dalam surat Al-Kahfi (60–82) menemukan maknanya yang paling hidup. Bukan
sekadar kisah tentang ilmu, tetapi cermin tentang parenting yang berjalin
antara kesabaran, hikmah, dan keterbatasan manusia dalam membaca masa depan.
Kisah itu dimulai dengan sebuah pelajaran mendasar, kerendahan hati. Nabi Musa, seorang rasul besar, diperintahkan untuk belajar kepada Khidir.
Baca juga: Tafsir Peradaban atas Doa Nabi Nuh
Dalam tafsir klasik, Ibnu Katsir menegaskan
bahwa ini adalah bentuk pendidikan adab bahwa tidak ada manusia yang berhak
merasa paling tahu.
Dalam dunia parenting, pesan ini terasa
sangat relevan. Orang tua sering kali terjebak dalam posisi “otoritas absolut”,
padahal setiap anak adalah dunia yang unik, yang tidak selalu bisa dipahami
dengan pendekatan tunggal.
Dalam perspektif pendidikan modern, gagasan ini sejalan dengan pendekatan “constructivism” yang dikembangkan oleh Jean Piaget.
Anak bukanlah “gelas kosong” yang tinggal
diisi, melainkan subjek aktif yang membangun pemahamannya sendiri. Orang tua,
seperti halnya guru, bukan pusat pengetahuan, melainkan fasilitator proses
belajar. Dengan kata lain, mendidik anak menuntut kerendahan hati untuk terus
belajar, bahkan dari anak itu sendiri.
Namun, perjalanan Musa bersama Khidir
segera memasuki wilayah yang lebih kompleks, tentang kesabaran menghadapi hal
yang belum dipahami.
Sejak awal, Khidir telah mengingatkan bahwa
Musa tidak akan mampu bersabar. Dan benar, setiap peristiwa yang terjadi terasa
mengguncang logika. Perahu dilubangi, seorang anak dibunuh, dan dinding
diperbaiki tanpa imbalan. Semua tampak tidak masuk akal.
Di sinilah letak pelajaran penting bagi orang tua. Fakhruddin ar-Razi membaca ketidaksabaran Musa sebagai cerminan naluri manusia yang ingin segera memahami segala sesuatu. Padahal, dalam proses pendidikan, tidak semua makna hadir seketika. Ada fase di mana anak dan juga orang tua harus melewati ketidakpahaman.
Baca juga: Menyoal Orang Tua yang Mengeluarkan Anak dari Ahli Waris
Dalam teori pendidikan modern, hal ini
beririsan dengan konsep “delayed gratification” yang dipopulerkan oleh
Walter Mischel melalui eksperimen “marshmallow test”. Anak yang mampu
menunda kepuasan terbukti memiliki capaian hidup yang lebih baik dalam jangka
panjang. Namun, kemampuan ini tidak lahir secara instan; ia dibentuk melalui
lingkungan yang konsisten, penuh kesabaran, dan memberi contoh nyata.
Bukankah dalam kehidupan sehari-hari, orang
tua sering berada di posisi Khidir, mengambil keputusan yang tidak selalu
disukai anak? Melarang pergaulan tertentu, membatasi penggunaan gawai, atau
menunda keinginan mereka.
Di mata anak, itu mungkin terasa sebagai
“ketidakadilan”. Namun, dalam banyak kasus, justru di situlah letak perlindungan
jangka panjang. Sebagaimana perahu yang dilubangi, kerugian kecil hari ini bisa
menjadi penyelamat dari kerusakan yang lebih besar di masa depan.
Sayyid Qutb dalam tafsirnya, Fi Dhilal
al-Qur’an, melihat kisah ini sebagai pelatihan jiwa untuk menerima proses
hidup yang tidak selalu linier. Pendidikan, dalam pandangannya, bukanlah proyek
instan yang bisa diukur dalam hitungan cepat. Ia adalah perjalanan panjang yang
menuntut kesabaran, bahkan ketika hasilnya belum tampak.
Peristiwa paling mengguncang dalam kisah
ini tentu adalah ketika Khidir membunuh seorang anak. Dalam tafsirnya, al-Qurthubi
menjelaskan bahwa tindakan itu merupakan perintah langsung dari Allah, karena
anak tersebut kelak akan menyeret orang tuanya ke dalam kesesatan.
Ini bukan tentang tindakan literal, melainkan tentang pesan mendalam bahwa masa depan anak mengandung kemungkinan yang tidak selalu bisa diprediksi oleh manusia.
Baca juga: Jangan Meninggalkan Anak dalam Keadaan Lemah! Simak Pesan Serius Ayat Alquran Ini
Dalam perspektif parenting, ini mengarah
pada pentingnya “preventive education”, yaitu pendidikan yang tidak hanya
reaktif, tetapi juga antisipatif. Orang tua tidak bisa menunggu hingga anak
“jatuh terlalu jauh” baru bertindak. Pembentukan karakter, nilai, dan
lingkungan sejak dini menjadi kunci.
Teori “social learning” dari Albert
Bandura memperkuat hal ini. Anak belajar bukan hanya dari instruksi, tetapi
dari observasi, melihat, meniru, dan menginternalisasi perilaku di sekitarnya.
Dengan demikian, proteksi terbaik bukan
hanya larangan, tetapi juga keteladanan. Apa yang dilakukan orang tua sering
kali lebih berpengaruh daripada apa yang mereka katakan.
Pelajaran berikutnya hadir dalam kisah
dinding yang diperbaiki Khidir. Di bawahnya tersimpan harta anak yatim, dan
sebab perlindungan itu bukan karena usaha mereka, melainkan kesalehan ayahnya.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa amal saleh orang tua dapat menjadi sebab penjagaan
Allah terhadap anak-anaknya.
Di sini, parenting menemukan dimensi
spiritualnya. Pendidikan bukan sekadar soal teknik atau metode, tetapi juga
tentang kualitas diri orang tua.
Dalam istilah pendidikan modern, ini dapat dikaitkan dengan konsep “hidden curriculum”, nilai-nilai yang tidak diajarkan secara eksplisit, tetapi tertanam melalui sikap, kebiasaan, dan atmosfer keluarga.
Baca juga: Menafsir Ulang Makna Kepemimpinan Suami, Tanggung Jawab, dan Etika Kuasa dalam Rumah Tangga
Akhirnya, setelah semua kegelisahan dan
pertanyaan, Khidir menjelaskan seluruh peristiwa itu. Tidak di awal, tetapi di
akhir perjalanan. Al-Qurthubi melihat ini sebagai metode pendidikan di mana
tidak semua hal harus dijelaskan saat itu juga. Ada waktu yang tepat ketika
pemahaman menjadi mungkin.
Ini sejalan dengan teori “scaffolding” dari Lev Vygotsky, yang menekankan bahwa bantuan atau penjelasan harus diberikan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Terlalu cepat menjelaskan bisa membuat anak tidak siap; terlalu lambat bisa membuat mereka kehilangan arah. Kuncinya adalah kepekaan membaca waktu.
M. Quraish Shihab menegaskan bahwa
penjelasan pada saat yang tepat akan melahirkan kepercayaan. Anak yang memahami
alasan di balik keputusan orang tua tidak hanya akan patuh, tetapi juga akan tumbuh
dengan kesadaran.
Pada akhirnya, kisah Musa dan Khidir mengajarkan bahwa parenting adalah ruang perjumpaan antara ikhtiar manusia dan rahasia takdir Allah. Orang tua berusaha dengan ilmu, pengalaman, dan cinta, tetapi tetap harus menerima bahwa tidak semua hal bisa dipahami atau dikendalikan.
Baca juga: Literasi Pernikahan: KDRT, Haruskah Memenjarakan Pasangan?
Di tengah derasnya teori dan metode
pendidikan modern, kisah ini mengingatkan bahwa inti dari mendidik anak
tetaplah sama: kesabaran, keteladanan, visi jangka panjang, dan keikhlasan
menerima proses.
Karena pada akhirnya, mendidik anak bukan
hanya tentang membentuk masa depan mereka, tetapi juga tentang mendewasakan
diri kita sebagai orang tua.
Dan mungkin, seperti Musa yang baru
memahami di ujung perjalanan, kita pun akan menyadari bahwa banyak keputusan
yang dulu terasa berat, ternyata adalah bentuk kasih sayang yang paling dalam.
Mendidik anak adalah perjalanan sunyi antara apa yang kita pahami hari ini dan apa yang baru akan kita mengerti di masa depan.