Foto Freepik
Oleh: KH Amin Munawar MA, Ketua I MUI Kota Tangerang
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَفْهَمَناَ بِشَرِيْعَةِ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ ذُوالْجَلَالِ وَالْاِ كْرَامِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَلّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّ يْنِ
أَمَّا بَعْدُ : فَيٰٓاَيُّهَا الْإِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَي اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
قاَلَ تَعَالٰى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ : سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Para hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT...
Alhamdulillah pada kesempatan Jumat yang mulia ini, kita masih diberikan rahmat hidayah serta inayah oleh Allah SWT sehingga kita diberikan kemudahan untuk mengungkapkan rasa syukur dengan melaksanakan rangkaian ibadah shalat Jumat di masjid ini dalam keadaan sehat wal’afiat.
Sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar keimanan dan sebaik-baik ketakwaan, minimal dengan jalan imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi yaitu menjalankan apa pun yang diperintahkan oleh Allah SWT dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi apa pun yang dilarang-Nya dan semoga sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW.
Selanjutnya, melalui mimbar yang mulia ini, khatib mengajak kepada diri khatib sendiri, keluarga, dan semua jamaah yang turut hadir pada pelaksanaan salat Jumat ini, untuk terus berusaha dan berupaya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT., karena hanya dengan modal takwa, kita semua bisa menjadi hamba yang selamat di dunia dengan karunia-Nya, dan selamat di akhirat dengan rahmat-Nya.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT...
Jarum jam senantiasa berputar mengantarkan kita dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, hari bertambah hari dan bertambah bulan hingga tidak terasa kalau kita sudah memasuki Rajab.
Pada Rajab banyak diperingati di mana-mana, di kampung-kampung, di desa sampai ke perkotaan dan lainnya. Ada apa gerangan dengan Rajab, ternyata pada Rajab terjadi sebuah peristiwa penting yang bukan sekadar peristiwa, melainkan ini sebuah peristiwa besar yang disebut sebagai peristiwa Isra Miraj yang menjadi salah satu Mukjizat Nabi Muhammad SAW berupa perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sampai ke Baitul Makmur- Siratul Muntaha-Mustawa untuk menerima wahyu Allah SWT yang mengandung perintah sholat 5 waktu.
Peristiwa Isra Miraj tidak sekadar dilihat dari aspek kejadiannya yang menakjubkan, sehingga disebut mukjizat begitu saja. Akan tetapi harus dibaca dari sudut pandang latar belakang kejadian tersebut sehingga dapat diketahui tujuan besar dan pelajaran berharga yang bisa diambil.
Peristiwa Isra Miraj terjadi pada masa sebelum Rosulullah hijrah dari Makkah ke Madinah persisnya Adalah setelah 10 tahun masa kenabian atau setelah 10 tahun menjadi Nabi Muhammad SAW.
Pada masa dan tahun inilah Nabi mendapatkan duka yang amat dalam dan mengalami kesedihan yang luar biasa hingga tahun ke 10 ini disebut dengan tahun duka cita atau “Amul Hazni”.
Mengapa Rasulullah mengalami kesedihan yang amat mendalam? Karena telah wafat atau ditinggal oleh orang terdekatnya yaitu Abu Thalib sebagai paman yang sangat disegani, dihormati, ditakuti oleh orang-orang kafir Quraisy, dan sangat gigih dalam membela Nabi dalam perjuangan dakwah.
Masih pada tahun yang sama, rasa sedih belum hilang, ibarat air mata belum kering membasahi pipi menyusul Sayyidatina Khadijah istri beliau wafat dipanggil Allah SWT. Keduanya telah wafat, padahal mereka adalah sebagai penyemangat dakwah beliau SAW.
Isra Miraj adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad untuk menjadi obat atas segala cobaan yang dialami sebelum Isra' Mi'raj, sekaligus menjadi harapan besar atas langkah-langkah dakwah setelahnya.
Setelah itu, Nabi mengalami kekerasan dan perlawanan orang Quraisy yang lebih berat terhadap dakwahnya. Sampai Nabi menyampaikan keluh-kesah kepada Allah SWT dalam doa sebagaimana yang diriwayatkan imam Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir, Jilid 14, Halaman 139:
إِلَيْكَ أَشْكُوْ ضَعْفَ قُوَّتِيْ وَقِلَّةَ حِيْلَتِيْ، وَهَوَانٌ عَلَى النَّاسِ
Artinya: "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, Kekurangan daya upayaku di hadapan manusia."
Dari sini, dapat dilihat bahwa Isra' Mi'raj adalah bentuk anugerah dari Allah SWT atas segala cobaan yang dihadapi Nabi sekaligus sebagai harapan baru untuk menelusuri jalan dakwah yang lebih cerah. Allah memberikan pertolongan kepada Nabi sebagaimana firman Allah dalam surat Al-An’am, ayat 34 sebagai berikut:
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُوْذُوْا حَتّٰٓى اَتٰىهُمْ نَصْرُنَا ۚوَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۚوَلَقَدْ جَاۤءَكَ مِنْ نَّبَإِ۟ى الْمُرْسَلِيْنَ
Artinya: "Sungguh rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, lalu mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat Allah. Sungguh, telah datang kepadamu sebagian berita rasul-rasul itu."
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah..
Pelajaran yang harus diambil dari peristiwa Isra Miraj ini adalah bahwa setiap ujian dan kesulitan yang dihadapi akan diganti dengan anugerah dan kemudahan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Syarh, ayat 5 dan 6 sebagai berikut:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (٥) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (٦)
Artinya: "Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan."
Ini adalah bentuk keyakinan seorang yang beriman terhadap Allah yang selalu menolong orang-orang yang beriman. Bahkan ketika seluruh penghuni bumi menyakiti seorang yang beriman, maka seluruh penghuni langit akan turun memberikan pertolongan.
Hal ini tergambar dalam kondisi yang dihadapi oleh Nabi Muhammad ketika menerima tekanan dari penduduk Makkah, kemudian mencoba mencari pertolongan dari penduduk Thaif, tetapi ditolak dan ditentang. Sampai akhirnya ketika Nabi ingin kembali ke Makkah, penduduknya selalu menghalangi kehadiran Nabi Muhammad SAW.
Setelah itu, Allah dan seluruh penduduk langit turun untuk menolong Nabi dan membawa ke langit sebagai bentuk pertolongan dan semangat kepada Nabi untuk melanjutkan perjuangan dakwah. Hal ini sebagaimana substansi sabda Nabi yang diriwayatkan imam Bazzar dalam kitab al-Musnad, Jilid 15, Halaman 327:
إِنَّ الْمَعُوْنَةَ تَأْتِيْ مِنَ اللّٰهِ عَلَى قَدْرِ الْمَؤُوْنَةِ وَإِنَّ الصَّبْرَ يَأْتِيْ مِنَ اللّٰهِ عَلَى قَدْرِ الْبَلَاءِ
Artinya: "Sesungguhnya pertolongan datang dari Allah sesuai kadar kesulitan yang jalani
dan kesabaran datang dari Allah sesuai kadar ujian yang dihadapi."
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah..
Semoga kita dapat mengaktualisasikan pelajaran berharga memperingati Isra' Mi'raj ini dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan meyakini setiap kesulitan dan ujian yang datang kepada kita akan diganti oleh Allah dengan anugerah dan jalan keluar yang indah di dunia dan akhirat. Amin, ya Rabbal Alamin.
Demikian khutbah Jumat perihal ketakwaan dan manfaat yang akan didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa. Semoga bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua, dan digolongkan sebagai hamba yang istiqamah dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ