Jakarta, MUI Digital — Di antara keindahan ajaran Islam adalah bahwa nilai ibadah tidak pernah dipisahkan dari keberkahan hidup. Aktivitas sederhana seperti sahur pun di dalamnya tersirat nilai spiritual. Rasulullah SAW bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa sahur selain berfaedah dalam menyiapkan fisik untuk berpuasa, pada saat yang sama juga merupakan waktu yang dipenuhi rahmat dan kebaikan. Di waktu yang penuh berkah ini seorang mukmin sepantasnya menghidupkan hatinya dengan dzikir, doa, dan istighfar.
Menyangkut keberkahan waktu sahur tersebut, Dr H Masyhuril Khamis, SH, MM, yang terpilih sebagai Ketua Bidang Halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, mengajak umat Islam untuk memperbanyak istighfar, khususnya di bulan Ramadhan.
“Ketika kita membiasakan istighfar, terutama di waktu sahur, ada banyak keberkahan yang Allah berikan. Istighfar itu sesuatu yang luar biasa, apalagi dilakukan di bulan yang mulia,” ujar ketua Bidang Halal kepada MUI Digital, Rabu (25/2/2026).
Ia mengutip surat Ali Imran ayat 17 yang menegaskan keutamaan orang-orang yang sabar, jujur, taat, gemar berinfak, dan beristighfar di waktu sahur.
اَلصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ
Artinya: “(Juga) orang-orang yang sabar, benar, taat, dan berinfak, serta memohon ampunan pada akhir malam.” (QS. Ali Imran: 17)
Menurutnya, terdapat empat nilai utama yang akan tumbuh dalam diri seorang mukmin yang membiasakan istighfar. Pertama, sifat sabar (ash-shabirin) yang semakin kuat dalam menghadapi ujian kehidupan. Kedua, kejujuran (ash-shadiqin) yang semakin meningkat dalam sikap dan perilaku. Ketiga, ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT (al-qanitin) yang semakin kokoh dalam kepatuhan. Keempat, semangat berbagi atau gemar berinfak (al-munfiqin) yang semakin tumbuh dalam kehidupan sosial.
“Keberkahan istighfar itulah yang kita harapkan hadir dalam kehidupan, terutama di bulan Ramadhan. Jangan sia-siakan waktu sahur hanya untuk makan dan minum, tetapi isi juga dengan memohon ampun kepada Allah,” tegasnya.
Dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an atau yang terkenal dengan tafsir Al-Qurthubi, terdapat keterangan yang selaras. Imam al-Qurthubi mengatakan:
والمستغفرين بالاسحار فقال أنس بن مالك: هم السائلون المغفرة. قتادة: المصلون. قلت: ولا تناقض فإنهم يصلون ويستغفرون. وخص السحر بالذكر لأنه مظان القبول ووقت إجابة الدعاء. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في تفسير قوله تعالى مخبرا عن يعقوب عليه السلام لبنيه: سوف أستغفر لكم ربي: إنه أخر ذلك إلى السحر. خرجه الترمذي.
“(dan orang-orang yang memohon ampun pada waktu sahur). Anas ibn Malik berkata: ‘Mereka adalah orang-orang yang memohon ampunan.’ Qatadah ibn Di’amah berkata: ‘Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan shalat.’ Aku (al-Qurthubi) mengatakan: ‘Tidak ada pertentangan antara keduanya, karena mereka melaksanakan shalat sekaligus beristighfar. Waktu sahur disebutkan secara khusus karena saat itu merupakan waktu yang paling memungkinkan dikabulkannya amal dan saat dikabulkannya doa. Rasulullah SAW bersabda dalam menafsirkan firman Allah, mengabarkan tentang Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya: “Kelak aku akan memohonkan ampunan kepada Tuhanku untuk kalian.” Beliau menjelaskan: ‘Nabi Ya‘qub menunda permohonan ampun itu hingga waktu sahur.’ Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.” (Tafsir al-Qurthubi [Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah], juz 4, h. 39)
Dengan semangat istighfar dan penguatan nilai keimanan, Dr. Masyhuril berharap umat Islam tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah personal, tetapi juga membangun tanggung jawab kolektif dalam menjaga kehalalan dan keberkahan kehidupan. (Fitri Aulia Lestari, ed: Hakim)