Bencana Alam, Kerusakan Lingkungan, dan Pengertian Bala' dalam Alquran
Admin
Penulis
Jakarta, MUIDigital— Sejak akhir November, banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra mulai dari Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat dan menyebabkan ribuan warga terdampak. Namun sampai saat ini, pemerintah belum menetapkan situasi di tiga provinsi tersebut sebagai bencana nasional, meskipun berbagai kalangan telah mendesak hal itu.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat 776 orang meninggal akibat rangkaian bencana ekologis itu per-Kamis pagi, 4 Desember 2025, sebagaimana dilaporkan melalui Geoportal Data Bencana Indonesia.
Di sisi lain, kerusakan alam yang dialami manusia kerap dipahami semata-mata sebagai kehendak Allah SWT, sehingga memunculkan ragam penafsiran mulai dari anggapan bahwa Allah SWT tidak peduli hingga menjadikannya sebagai bentuk azab bagi manusia. Benarkah demikian?
Dalam Islam, bencana sering dipahami sebagai musibah atau balā’. Imam Ibn Fāris (wafat 395 H) dalam Mu‘jam Maqāyīs Al-Lughah menjelaskan bahwa istilah balā’ mengandung dua makna utama:
Pertama, kerusakan atau kehancuran suatu hal. Kedua, suatu bentuk ujian atau pemberitahuan yang mengandung pesan tertentu:
البَاءُ وَاللَّامُ وَالوَاوُ وَاليَاءُ، أَصْلَانِ: أَحَدُهُمَا إِخْلَاقُ الشَّيْءِ، وَالثَّانِي نَوْعٌ مِنَ الاِخْتِبَارِ، وَيُحْمَلُ عَلَيْهِ الإِخْبَارُ أَيْضًا
Artinya: “Huruf bā’, lām, wāw, dan yā’ membentuk dua makna pokok: pertama, makna rusaknya sesuatu. Kedua, sejenis ujian dan pemberitahuan juga dihubungkan dengan makna ini.” (Mu‘jam Maqāyīs Al-Lughah [Beirut: Dar Al-Fikr], vol 1, h 152)
Lebih spesifik, Syekh Muḥyiddin Ibn ‘Arabi (wafat 638 H) dalam karyanya menerangkan bahwa balā’ merujuk pada hadirnya rasa sakit atau penderitaan dalam diri seseorang yang sedang mengalami ujian:
فَاعْلَمْ أَنَّ البَلاءَ المُحَقَّقَ إِنَّمَا هُوَ: قِيَامُ الأَلَمِ وَوُجُودُهُ فِي نَفْسِ المُتَأَلِّمِ
Artinya: “Ketahuilah, bahwa balā’ yang sebenarnya adalah hadirnya rasa sakit dan keberadaannya dalam jiwa seseorang yang merasakan sakit itu.” (Al-Futuḥat Al-Makkiyyah, [Kairo: Al-Haiah Al-Mishriyyah] vol 11, h 138)
Rasa sakit tersebut dapat muncul sebagai penderitaan fisik yang dialami oleh tubuh, seperti luka, terbakar, penyakit, dan bentuk-bentuk gangguan lainnya. Ia juga bisa hadir dalam bentuk penderitaan psikis, misalnya kehilangan harta, rasa gelisah dan sedih, atau musibah yang menimpa keluarga maupun anak. Semua ini pada dasarnya menghadirkan rasa perih yang menjadi bagian dari ujian.
Karena itu, syariat menuntun setiap orang yang ditimpa musibah untuk bersabar, menerimanya dengan ridha, serta pasrah kepada Allah, sebab semua itu merupakan takdir yang sedang berlaku atas dirinya. Syekh Muḥyiddin Ibn ‘Arabi menegaskan:
ضَيَاعُ المَالِ، وَالمُصِيبَةُ فِي الأَهْلِ وَالوَلَدِ، وَالتَّوَعُّدُ بِالوَعِيدِ... مِثْلُ هَذِهِ الأُمُورِ فِي العَادَةِ يُوجِبُ الآلَامَ؛ فَيَتَعَيَّنُ شَرْعًا عَلَى المُبْتَلَى بِهَا الصَّبْرُ وَالرِّضَا وَالتَّسْلِيمُ لِجَرَيَانِ الأَقْدَارِ عَلَيْهِ بِذَلِكَ
Artinya: “Hilangnya harta, musibah pada keluarga dan anak, ancaman yang menakutkan, semua hal semacam ini secara umum menimbulkan rasa sakit. Maka secara syar‘i wajib atas orang yang tertimpa hal tersebut untuk bersabar, ridha, dan pasrah, karena takdir yang berlaku atas dirinya.” (Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah.[Kairo: Al-Haiah Al-Mishriyyah] vol 11, h 138)
Jika ditelisik lebih jauh, istilah al-balā’ juga muncul di sejumlah ayat Alquran. Di antaranya, Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)
Lembaga riset kajian keislaman Al-Azhar Kairo, dalam tafsirnya menjelaskan bahwa musibah yang menimpa manusia pada dasarnya merupakan konsekuensi dari dampak negatif kemaksiatan yang mereka lakukan. Meski demikian, ada kalanya sebuah cobaan justru diberikan kepada seorang mukmin sebagai bentuk ujian sekaligus sarana untuk mengangkat derajatnya:
أَيْ: وَمَا نَزَلَ بِكَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ مِنْ بَلِيَّةٍ وَنِقْمَةٍ تَسُوءُكَ فَهِيَ مِنْ عِنْدِ نَفْسِكَ، بِسَبَبِ مَا ارْتَكَبْتَ مِنَ الذُّنُوبِ وَالآثَامِ، أَتَتْكَ وَنَزَلَتْ بِكَ عُقُوبَةً لَكَ عَلَى شُؤْمِ مَعَاصِيكَ، وَقَدْ تَنْزِلُ البَلِيَّةُ بِالمُؤْمِنِ ابْتِلَاءً وَاخْتِبَارًا وَرَفْعًا لِدَرَجَاتِهِ
Artinya: “Yakni: Apa pun musibah dan kesulitan yang menimpamu, wahai manusia suatu bala’ atau hukuman yang membuatmu merasa buruk maka itu berasal dari dirimu sendiri, akibat dosa dan kesalahan yang engkau perbuat. Musibah itu datang dan menimpamu sebagai bentuk hukuman atas dampak buruk maksiatmu. Namun, terkadang suatu cobaan turun kepada seorang mukmin sebagai bentuk ujian dan meninggikan derajatnya.” (At-Tafsīr Al-Wasīṭ Li Al-Qur’ān Al-Karīm [Kairo: Al-Mathba’ah Al-Amiriyyah], vol 2, h 744)
Di sisi lain, terjadinya bencana di bumi dapat dipicu oleh faktor alam seperti gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung berapi maupun oleh tindakan manusia sendiri, misalnya banjir, cuaca ekstrem, dan kebakaran hutan. Dengan demikian, sebagian bencana merupakan akibat dari perilaku manusia yang abai dan tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Alquran:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum: 41)
Imam Asy-Syaukani (wafat 1250 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kerusakan yang dimaksud dalam ayat tersebut bukan hanya berupa kekufuran kepada Allah dan terjerumus dalam berbagai kemaksiatan, melainkan pula mencakup tindakan merusak lingkungan, seperti menebang pepohonan dan mengubah aliran sungai:
نَهَاهُمُ اللهُ سُبْحَانَهُ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوْهِ قَلِيْلًا كَانَ أَوْ كَثِيْرًا وَمِنْهُ قَتْلُ النَّاسِ، وَتَخْرِيْبُ مَنَازِلِهِمْ، وَقَطْعُ أَشْجَارِهِمْ، وَتَغْوِيْرُ أَنْهَارِهِمْ، وَمِنَ الْفَسَادِ فِى الْأَرْضِ الْكُفْرُ بِاللهِ وَالْوُقُوْعُ فِي مَعَاصِيْهِ، وَمَعْنَى بَعْدَ إِصْلَاحِهَا بَعْدَ أَنْ أَصْلَحَهَا اللهُ بِإِرْسَالِ الرُّسُلِ وَإِنْزَالِ الْكُتُبِ وَتَقْرِيْرِ الشَّرَائِعِ
Artinya: “Allah SWT melarang mereka melakukan kerusakan di bumi dalam bentuk apa pun, baik sedikit maupun banyak. Termasuk kerusakan tersebut adalah membunuh manusia, merusak rumah-rumah mereka, menebang pohon-pohon mereka, mengubah aliran sungai-sungai mereka. Termasuk pula kerusakan di bumi adalah kekufuran kepada Allah serta terjerumus dalam maksiat kepada-Nya. Adapun makna setelah Allah memperbaikinya, adalah setelah Allah memperbaiki bumi itu dengan mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab suci, dan menetapkan syariat yang mengatur kehidupan manusia.” (Fath Al-Qadir [Beirut: Dar Ibn Katsir], vol 2, h 243)
Dari berbagai penafsiran di atas, dapat dipahami bahwa bencana baik dalam bentuk banjir, tanah longsor, maupun kerusakan ekologis lainnya tidak dapat dilihat secara monolitik sebagai semata-mata azab atau ketidakpedulian Allah.
Dalam khazanah Islam, balā’ mencakup dua dimensi sekaligus yakni sebagai ujian yang mengandung hikmah bagi hamba-hamba-Nya, dan sebagai konsekuensi dari perbuatan manusia yang lalai menjaga amanah keberlanjutan bumi. Musibah sendiri memiliki ragam makna dan fungsi, bisa menjadi sarana penyucian jiwa, pengangkat derajat, sekaligus peringatan agar manusia kembali kepada jalan kebenaran.
Karena itu, bencana ekologis yang kini menimpa sejumlah wilayah di Sumatera hendaknya menjadi momentum refleksi kolektif, kesabaran dan keteguhan hati merupakan kewajiban spiritual individu, sementara upaya memperbaiki lingkungan dan menghentikan praktik merusak alam adalah tanggung jawab sosial yang tidak dapat ditunda.
Dengan memadukan aspek ikhtiar lahiriyah, kesadaran ekologis, serta ketundukan batin kepada Allah SWT, umat manusia dapat memahami musibah secara lebih arif. Semoga, setiap peristiwa yang telah terjadi menjadi pelajaran berharga yang mengantarkan kita kepada perbaikan diri. (A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed: Nashih)