5 Keutamaan Shalat Dhuha yang Disebutkan Rasulullah SAW
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital- Keutamaan sholat dhuha terbilang banyak. Sejumlah hadis Nabi SAW menguraikan keistimewaan ibadah ini, mulai dari besarnya pahala, limpahan ampunan dosa, hingga perannya yang penting dalam membentuk dan menjaga kehidupan spiritual seorang Muslim.
MUI Digital, merangkum sejumlah keutamaan dari berbagai literatur. Berikut lima keutamaan sholat dhuha:
1. Dibuatkan Istana di Surga
Rasulullah SAW menerangkan bahwa siapa saja yang menunaikan sholat dhuha sebanyak dua belas rakaat akan memperoleh ganjaran yang sangat mulia, yakni dibangunkan sebuah istana di surga. Keutamaan tersebut sebagaimana disampaikan dalam sabda beliau:
مَنْ صَلَّى الضُّحَى اِثْنَتَي عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اَللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ
Artinya: “Barang siapa sholat dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana di surga.” (HR Tirmidzi)
2. Diampuni Dosa-Dosanya
Sholat dhuha juga menjadi salah satu sebab turunnya ampunan atas dosa-dosa, selama dikerjakan secara istiqamah dan berkesinambungan. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:
مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةٍ الضُّحَى غُفِرَلَهُ ذُنُوْبَهُ وَ اِنْ كَانَتْ مِثْلُ زَبَدِ الْبَخْرِ
Artinya: “Barang siapa yang dapat mengamalkan sholat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR. Tirmidzi)
3.Menjadi Sedekah bagi Persendian Tubuh
Rasulullah SAW juga menuturkan bahwa setiap persendian pada tubuh manusia memiliki kewajiban sedekah setiap pagi. Kewajiban itu dapat ditunaikan dengan melaksanakan dua rakaat sholat dhuha, yang nilainya telah mencukupi seluruh sedekah tersebut:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
Artinya: “Ada sedekah atas seluruh tulang (persendian) salah seorang dari kalian. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan dua rakaat sholat dhuha mencukupi semuanya itu.” (HR Muslim)
4. Disebut Sholat Kaum Awwâbîn
Sholat dhuha juga dikenal sebagai sholatnya orang-orang awwâbîn, yakni hamba-hamba yang senantiasa kembali kepada Allah SWT dengan taubat dan berusaha menjaga kedekatan spiritual dengan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi SAW:
لَا يُحَافِظُ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى إِلَّا أَوَّابٌ. قَالَ: وَهِيَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ
Artinya: “Tidak ada yang menjaga sholat dhuha kecuali orang yang kembali kepada Allah (dengan tobat). Sholat dhuha adalah sholat orang-orang yang awwâbîn.” (HR Al-Hakim).
5.Keutamaan Bertingkat Sesuai Jumlah Rakaat
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa keutamaan sholat dhuha bertambah seiring dengan banyaknya rakaat yang ditunaikan. Mulai dari tercatat sebagai orang yang tidak lalai, hingga memperoleh balasan berupa dibangunkannya sebuah rumah di surga bagi mereka yang mengerjakan dua belas rakat:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ، فَقُلْتُ: يَا عَمُّ اقْبِسْنِى خَيْرًا. فَقَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا سَأَلْتَنِي فَقَالَ: إِنْ صَلَّيْتَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لَمْ تُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَإِنْ صَلَّيْتَهَا أَرْبَعًا كُتِبْتَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ، وَإِنْ صَلَّيْتَهَا سِتًّا كُتِبْتَ مِنَ الْقَانِتِينَ، وَإِنْصَلَّيْتَهَا ثَمَانِيًا كُتِبْتَ مِنَ الْفَائِزِينَ، وَإِنْ صَلَّيْتَهَا عَشْرًا لَمْ يُكْتَبْ لَكَ ذَلِكَ الْيَوْمَ ذَنْبٌ، وَإِنْ صَلَّيْتَهَا ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللهِ لَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Aku bertemu Abu Dzar RA., lalu berkata: Wahai paman, berilah aku satu kebaikan. Ia menjawab: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW sebagaimana kamu bertanya kepadaku. Lalu Rasulullah SAW bersabda: Jika kamu sholat dhuha dua rakaat, kamu tidak dicatat sebagai orang lalai, jika empat rakaat dicatat sebagai orang berbuat baik, jika enam rakaat dicatat sebagai orang taat, jika delapan rakaat dicatat sebagai orang beruntung, jika sepuluh rakaat maka pada hari itu tidak dicatat dosa bagimu, dan jika dua belas rakaat maka Allah membangunkan untukmu rumah di surga.” (HR Al-Baihaqi) (A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed: Nashih)