Kawal Kesempurnaan Ibadah, Prof Niam Bina Jamaah di Madinah agar Haji Sesuai Syariah
Sadam Al Ghifari
Penulis
Azharun N
Editor
Madinah, MUIDigital-Sebanyak 32 Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tiba di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, Selasa (12/5/2026) pukul 16.30 Waktu Arab Saudi (WAS).
Musyrif Diny Kemenhaj, Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh memastikan pihaknya siap untuk menjamin kesempurnaan pelaksanaan ibadah haji, sebagai ibadah mahdlah, sesuai dengan tuntunan syariat.
Prof Ni'am, sapaan akrabnya, menambahkan Musyrif Diny akan melakukan pembinaan terhadap jamaah dan penyelenggara haji.
"Pertama, pembinaan langsung di mana di setiap kloter ada pembimbing ibadah haji. Kemudian di setiap rombongan dan juga di setiap regunya, mereka memiliki intensitas pertemuan yang langsung dengan jamaah," kata Prof Ni'am.
Baca juga: Tiba di Madinah, Musyrif Diny Siap Kawal Kesesuaian Syariat Pelaksanaan Haji
Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta ini menambahkan, Musyrif Diny juga akan melakukan bimbingan selama penyelenggaraan ibadah haji agar sesuai dengan syariat.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini menekankan bahwa ibadah haji pada hakikatnya adalah ibadah mahdah.
"Jamaah terfasilitasi untuk mampu melaksanakan ibadah haji lengkap dengan syarat dan rukunnya, sekaligus sunah-sunah dan kesempurnaannya," tegasnya.
Kedatangan Musyrif Diny di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, Arab Saudi, disambut secara hangat oleh Dirjen Pengembangan Ekosistem Haji dan Umrah Kemenhaj Prof Dr Jaenal Effendi.
Dirjen Pengembangan Ekosistem Haji dan Umrah Kemenhaj Prof Dr Jaenal Effendi mengatakan penyambutan ini dilakukan kepada Musyrif Diny karena memiliki peran yang sangat penting dalam kesuksesan pelaksanaan ibadah haji.
"Kedepannnya akan bermanfaat, berguna dan memberikan support yang luar biasa untuk memastikan tujuan pertama dari tri sukses haji," ujarnya.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) melepas keberangkatan 32 Musyrif Diny ke Tanah Suci. Mereka bertugas sebagai pembimbing dalam pelaksanaan ibadah haji 2026.
"Hari ini Selasa 12 Mei 2026 saya melepas 32 Anggota Musyrif Diny untuk bertugas sebagai pembimbing dalam pelaksanaan ibadah haji 2026," kata Gus Irfan dalam akun Instagram pribadinya saat melepas Musyrif Diny di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/5/2026).
Gus Irfan menjelaskan 32 anggota Musyrif Diny terdiri dari berbagai unsur ormas Islam. Gus Irfan memastikan seluruh anggota Musyrif Diny memiliki tingkat keilmuan fikih dan pengetahuan haji yang mumpuni.
"32 anggot Musyrif Diny sendiri terdiri dari berbagai unsur ormas Islam yang tentunya memiliki tingkat keilmuan fikih dan pengetahuan haji yang mumpuni," kata Gus Irfan.
Gus Irfan mengungkapkan, tahun ini jamaah haji asal Indonesia mencapai 221 ribu orang. Mereka berasal dari berbagai aliran dan ajaran Islam di Indonesia.
Melalui bimbingan Musyrif Diny di bawah kepemimpinan KH Cholil Nafis, Gus Irfan berharap seluruh jamaah haji asal Indonesia bisa terwadahi dengan rukun dan fikih haji yang baik dan benar.
"Kami berharap 221 ribu jamaah haji asal Indonesia yang berasal dari berbagai aliran dan ajaran Islam di Indonesia bisa terwadahi dengan rukun dan fikih haji yang baik dan benar," tegasnya.
Menurut Menhaj, kehadiran Musyrif Diny menjadi penguat pilar pertama dalam konsep Tri Sukses Haji, yaitu sukses ritual. Dua pilar lainnya adalah sukses ekosistem ekonomi haji serta sukses peradaban dan keadaban.
Karena itu, Musyrif Diny diharapkan tidak hanya memahami aspek teknis manasik, tetapi juga mampu menghadirkan bimbingan yang mencerahkan, menenteramkan, dan memperkuat kesadaran spiritual jamaah.
Baca juga: Komisi Fatwa MUI Imbau Jamaah Haji Tetap Laksanakan Dam di Tanah Suci
“Dalam Tri Sukses Haji, Musyrif Diny berada di garda penting untuk memastikan sukses ritual. Mereka bertugas menjaga kesucian ibadah, membimbing manasik secara sahih, serta memastikan jamaah memahami kemudahan-kemudahan syariat tanpa kehilangan makna spiritual haji,” katanya.
Menhaj juga menekankan pentingnya penguatan pemahaman fiqh taisir atau fikih kemudahan dalam layanan bimbingan ibadah. Hal ini menjadi sangat penting mengingat kondisi jamaah haji Indonesia yang beragam, termasuk jamaah lanjut usia, jamaah dengan keterbatasan fisik, serta jamaah yang menghadapi kondisi darurat di lapangan.
“Jamaah kita tidak semuanya berada dalam kondisi fisik yang sama. Ada lansia, ada yang memiliki keterbatasan kesehatan, dan ada situasi lapangan yang membutuhkan keputusan cepat. Di sinilah Musyrif Diny harus hadir dengan pemahaman fikih yang kokoh, tetapi tetap adaptif dan memberi solusi,” tegasnya.
Sejumlah skema layanan ibadah seperti safari wukuf khusus, murur di Muzdalifah, dan tanazul di Mina, lanjut Menhaj, memerlukan pendampingan yang kuat dari para pembimbing ibadah.
Skema tersebut harus dijelaskan kepada jamaah secara tepat agar tidak menimbulkan keraguan dalam pelaksanaan ibadah.
“Safari Wukuf, Murur, maupun Tanazul bukan sekadar pengaturan teknis. Di dalamnya ada landasan fikih yang harus dipahami dan disampaikan dengan baik kepada jamaah. Musyrif Diny harus menjadi rujukan yang menenteramkan,” ujarnya.
Menhaj berpesan agar para Musyrif Diny menjaga integritas, kesabaran, dan keikhlasan dalam menjalankan tugas.
Mereka diminta hadir dekat dengan jemaah, menjawab persoalan ibadah dengan ilmu, serta menjadi bagian dari ikhtiar besar pemerintah dalam menghadirkan layanan haji yang semakin ramah, profesional, dan berorientasi pada kemaslahatan jamaah.
“Kami berharap para Musyrif Diny menjadi penguat layanan ibadah di Tanah Suci. Bimbinglah jamaah dengan ilmu, layani dengan hati, dan jadikan setiap pendampingan sebagai bagian dari pengabdian kepada umat,” kata Menhaj.