MUI Didorong Kembangkan “MUI GPT” Berbasis AI untuk Pelayanan Umat
Miftahul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Majelis Ulama Indonesia didorong untuk mengembangkan layanan berbasis artificial intelligence (AI) melalui sistem “MUI GPT” guna memperkuat pelayanan keagamaan dan menjawab kebutuhan umat secara lebih cepat dan modern.
Gagasan tersebut disampaikan Guru Besar Matematika Komputasi dan Sains Data Universitas Indonesia, Prof Alhadi Bustamam, dalam pertemuan bersama jajaran pengurus pusat MUI terkait pengembangan data sains dan AI di Kantor MUI, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Menurut Prof Alhadi, perkembangan teknologi AI, khususnya large language model seperti GPT, dapat dimanfaatkan untuk membantu pelayanan MUI kepada masyarakat dalam berbagai bidang.
“Mungkin bisa kita nanti bersama dengan MUI mengembangkan namanya MUI GPT yang bisa membantu MUI dalam melayani pertanyaan-pertanyaan umat terkait fatwa-fatwa yang ada dari MUI,” ujar Prof Alhadi.
Dia menjelaskan, sistem tersebut nantinya dapat digunakan untuk memberikan informasi maupun rekomendasi kepada masyarakat dan industri, termasuk terkait produk halal dan persoalan keagamaan lainnya secara lebih cepat dan efisien.
Baca juga: Eritrea Jadi Contoh Harmoni Keagamaan, Muslim dan Kristen Hidup Berdampingan Sejak Ribuan Tahun
“Termasuk juga bagaimana nanti MUI memberikan suatu saran kepada masyarakat banyak termasuk juga industri dan sebagainya, misalnya terkait produk-produk halal yang bisa dikerjakan dengan cepat dengan pendekatan artificial intelligence,” katanya.
Prof Alhadi menilai MUI memiliki potensi besar untuk mengembangkan pemanfaatan AI karena banyak aktivitas dan layanan yang berkaitan langsung dengan kemaslahatan umat.
“Dengan MUI ini kita punya banyak potensi yang bisa kita kembangkan untuk membantu MUI. Karena di sini banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan kemaslahatan umat,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan bahwa perkembangan AI saat ini sering disalahpahami oleh masyarakat seolah menjadi teknologi yang dapat melakukan segala hal tanpa batas.
“AI ini lagi booming. Jadi orang banyak juga yang salah persepsi, seolah AI itu seperti alat ajaib,” katanya.
Baca juga: Menhaj Lepas Keberangkatan Musyrif Diny yang Dipimpin Waketum MUI Kiai Cholil Nafis
Karena itu, menurutnya, pengembangan AI perlu diarahkan secara bijak agar memberikan manfaat yang luas dan tetap berada dalam koridor nilai-nilai moral dan keagamaan.
Lebih lanjut, Prof Alhadi berharap kolaborasi antara MUI dan Universitas Indonesia dapat berkembang menjadi pusat pengembangan AI berbasis nilai Alquran atau “Quran AI”.
“Kami berharap nanti kerja sama MUI dengan pihak UI bisa membentuk pusat pengembangan AI berbasis Quran AI, sehingga AI itu tidak liar begitu saja, tetapi terkontrol dan optimal untuk kemaslahatan masyarakat,” ujar dia.
Dalam kesempatan yang sama, PT Mitradatasains Indonesia melalui Direktur perusahaan, Bahri Devi, turut memperkenalkan Vocharu, sebuah platform inovatif berbasis teknologi neuro voice paralinguistik yang mampu memetakan karakter psikologis, potensi, serta perilaku seseorang hanya melalui analisis rekaman suara.
Menurut Bahri Devi, Vocharu dikembangkan untuk menghadirkan metode analisis kepribadian yang cepat, akurat, dan sulit dimanipulasi.
Dosen Psikologi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Prof Hamka (Uhamka), Rahmiati, M Psi, menilai bahwa di era digital saat ini kemampuan mengenali karakter seseorang secara cepat, akurat, dan bersahabat menjadi kebutuhan penting di berbagai bidang.
Menurutnya, Vocharu hadir menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan teknologi berbasis analisis suara yang lebih praktis dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern.
Teknologi tersebut bekerja dengan membaca pola suara pengguna untuk menghasilkan pemetaan karakter yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, hingga kebutuhan asesmen personal.
Vocharu diketahui menjadi salah satu pengembangan teknologi dari startup DSC Universitas Indonesia yang berfokus pada pemanfaatan kecerdasan buatan dan analisis perilaku berbasis suara.