Buya Anwar Abbas Sampaikan Harapan untuk NU dan Nahdliyin di Momentum Muktamar ke-35
Jakarta, MUI Digital— Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 resmi dibuka di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).
Wakil Ketua Umum MUI sekaligus Ketua PP Muhammadiyah Buya Anwar Abbas berharap Muktamar NU kali ini dapat berjalan lancar dan melahirkan program-program yang membawa kemajuan bagi NU, umat Islam, serta bangsa dan negara.
Menurut Buya Anwar, Muktamar juga diharapkan dapat memilih pimpinan NU yang mampu menjalankan amanat Muktamar dengan baik selama lima tahun ke depan.
“Harapan saya semoga Muktamar bisa berjalan dengan baik dan lancar. Di samping itu, Muktamar juga diharapkan akan dapat melahirkan program-program kerja yang akan bisa membuat NU dan umat Islam serta bangsa dan negara kita akan semakin lebih baik dan lebih maju lagi,” ujarnya kepada MUI Digital di Jakarta, Ahad (30/8/2026).
Buya Anwar yang juga merupakan Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan melihat kepemimpinan NU mendatang dapat semakin memperkuat persatuan dan kesatuan di kalangan umat Islam. Menjaga ukhuwah bukan hanya menjadi harapan umat Islam Indonesia, tetapi juga umat Islam di berbagai belahan dunia.
Dia kemudian mengisahkan pengalamannya ketika menjadi bagian dari delegasi MUI yang berkunjung ke Iran pada 2008.
Dalam sebuah pertemuan dengan salah satu tokoh penting dalam hierarki kepemimpinan Iran saat itu, dia mendapat pesan mengenai pentingnya menjaga ukhuwah antara NU dan Muhammadiyah.
“Umat Islam akan kembali memimpin dunia,” kata dia meyakinkan.
Tetapi, kata Buya Anwar, umat Islam yang akan kembali memimpin dunia tersebut bukanlah umat Islam dari Timur Tengah, bukan umat Islam dari Turki dan bukan umat Islam dari Iran, tetapi adalah umat Islam dari Indonesia.
Dalam pertemuan itu, lanjut Buya Anwar, tokoh tersebut kemudian menitipkan satu pesan kepada delegasi Indonesia agar ukhuwah Islamiyah antara NU dan Muhammadiyah terus dijaga.
“Untuk itu, kata sang Ayatullah, saya titip pesan satu: tolong ukhuwah Islamiyah antara NU dan Muhammadiyah dijaga,” katanya.
Baca juga: Muktamar ke-35 NU Rekomendasikan Evaluasi Koperasi Desa, Ini Alasannya
Pesan tersebut, menunjukkan betapa pentingnya persatuan umat Islam Indonesia. Persatuan dan kesatuan, kata dia, merupakan fondasi bagi terjaganya keutuhan, terciptanya kedamaian, serta tercapainya tujuan bersama.
Karena itu, ia mendorong kepemimpinan NU ke depan dapat terus menumbuhkan rasa persatuan, sikap saling menghargai, tolong-menolong, dan empati di antara berbagai elemen umat dan warga bangsa.
Buya Anwar menilai, salah satu cara merawat hubungan antara NU dan Muhammadiyah adalah dengan mengingat kembali keteladanan para tokoh dari kedua organisasi yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk mendekatkan, bukan menjauhkan.
Dia mencontohkan sosok KH A Hasyim Muzadi yang menurutnya memiliki kedekatan dengan warga Muhammadiyah. Hasyim Muzadi disebutnya kerap berkunjung ke kantor PP Muhammadiyah sehingga kehadirannya sangat dirasakan oleh warga Muhammadiyah, termasuk kalangan anak muda.
Kedekatan tersebut bahkan terus dikenang setelah Hasyim Muzadi wafat. Buya Anwar menyebut, sejumlah anak muda Muhammadiyah turut membuat buku berjudul Takziyah Muhammadiyah untuk KH A Hasyim Muzadi yang terbit pada 20 April 2017.
Buku tersebut berjumlah 213 halaman dan tidak kurang dari 20 penulis ikut berkontribusi dalam penulisan buku, dan berhasil diselesaikan dalam rentang waktu 26 hari.
Baca juga: Gus Kikin Ajak Tetap Rukun Meski Pilihan Berbeda di Muktamar NU
Menurut Buya Anwar, Hasyim Muzadi memiliki kemampuan untuk membuat perbedaan antara NU dan Muhammadiyah tidak menjadi sumber kerenggangan. Sebaliknya, perbedaan justru dapat dicairkan melalui dialog dan humor.
Dia kemudian menceritakan salah satu kisah yang pernah disampaikan Hasyim Muzadi mengenai perdebatan antara Pemuda Ansor dan Pemuda Muhammadiyah terkait persoalan sampainya pahala tahlil kepada orang yang telah meninggal.
Dalam cerita tersebut, seorang pemuda Ansor meyakini pahala tahlil sampai kepada orang yang telah meninggal dengan alasan doa yang dikirimkan tidak pernah dikembalikan kepada pengirim.
Seorang pemuda Muhammadiyah kemudian menimpali dengan meminta bukti atau resi penerimaan jika doa tersebut benar-benar sampai.
“Jadi Pak Hasyim bisa membuat perbedaan yang ada antara kedua ormas tersebut tidak menjadi masalah, tapi menjadi rahmat,” ujar Buya Anwar.
Dia menilai, tokoh-tokoh yang mampu merawat persaudaraan di tengah perbedaan seperti Hasyim Muzadi banyak ditemukan baik di NU maupun Muhammadiyah.
Baca juga: Pleno Muktamar ke-35 NU Putuskan Hukum Komersialisasi DNA, Chip Otak, dan Bitcoin
Buya Anwar juga mengenang almarhum Slamet Effendi Yusuf, mantan Ketua Umum GP Ansor dan Wakil Ketua Umum PBNU serta MUI, yang disebutnya sebagai salah satu mentornya.
Ketika Slamet Effendi Yusuf menjadi Ketua Umum GP Ansor dan Din Syamsuddin menjadi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, keduanya pernah ditunjuk oleh Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu, Akbar Tanjung, untuk memimpin delegasi pemuda Indonesia ke Arab Saudi.
Dalam perjalanan tersebut, Buya Anwar kembali melihat bagaimana perbedaan antara NU dan Muhammadiyah dapat menjadi bahan keakraban.
Dia mengisahkan, ketika rombongan melaksanakan shalat Subuh di bandara Riyadh, imam tidak membaca qunut. Para wartawan yang mengetahui hal tersebut kemudian menggoda Slamet Effendi Yusuf. Alih-alih mempermasalahkannya, Slamet justru ikut tertawa.
Momen serupa kembali terjadi ketika rombongan berada di Madinah. Setelah shalat Jumat, Slamet mengingatkan anggota delegasi bahwa mereka berada di kota Nabi dan kemudian menyinggung pelaksanaan azan Jumat yang dilakukan dua kali.
Menurutnya, Din Syamsuddin dan anggota delegasi lainnya turut tertawa mendengar candaan tersebut.
“Hal-hal seperti inilah yang ke depan sangat kita harapkan, di mana perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita tidak menyebabkan hubungan kita semakin renggang dan jauh, tetapi semakin dekat dan akrab,” kata Buya Anwar.
Buya Anwar menilai, terciptanya hubungan yang semakin erat antara NU dan Muhammadiyah sangat bergantung pada sikap para pemimpinnya. Karena itu, dia berharap Muktamar NU ke-35 dapat memilih sosok terbaik yang mampu menakhodai organisasi selama lima tahun mendatang.
Pemimpin yang terpilih, kata Buya Anwar, diharapkan tidak hanya membawa kebaikan bagi NU, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat Islam serta bangsa dan negara.
“Kita berharap agar pemimpin yang dipilih oleh Muktamar tidak hanya baik bagi NU saja, tapi juga bagi umat dan bangsa, sehingga NU dan umat Islam serta negara dan bangsa kita ke depan akan semakin lebih berkibar dan lebih maju lagi,” ujar dia.