Khutbah Jumat: Maulid Nabi dan 4 Sifat Teladan Rasulullah SAW bagi Para Pemimpin
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: Ustadz Achmad Hasanuddin HR, Sekretaris Komisi Fatwa Kota Tangerang
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَنْعَمَ عِبَادَهُ بِالْاِسْلَامِ وَالْاِيْمَانِ
أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَا سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوُجْدَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللّٰهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالٰى وَطَاعَتِهِ بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ
قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Ma’asyirol Muslimin jamaah Shalat Jumat rahimakumullah…
Marilah kita jadikan pelaksanaan shalat Jumat ini sebagai salah satu media untuk meningkatkan kembali kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, dalam arti bagaimana kita berusaha dan berupaya sekuat tenaga untuk selalu melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dalam menjalani semua aktivitas dalam kehidupan kita sehar-hari, di manapun dan kapanpun kita berada.
Karena takwa adalah merupakan sebuah modal dan bekal utama bagi kita semua untuk meraih keselamatan dan kebahagian hidup di dunia yang fana dan sesaat ini dan dalam kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala:
اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ
Artinya: “Sungguh, orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan” (An-Naba’ : 31)
Ya’ni, menurut Abu Laits As-Samarqondi dalam kitab Tanbihul Ghofilin maknanya adalah:
اَيْ نَجَاةً وَسَعَادَةً
“Keselamatan dan kebahagiaan”.
Ma’asyirol Muslimin jamaah shalat Jumat yang berbahagia…
Saat ini kita tengah berada di salah satu bulan yang istimewa bagi kita ummat Islam, yaitu bulan Rabiul Awal, di mana menurut pendapat yang shoheh ketika terbitnya fajar di hari Senin tanggal 12 bulan Rabiul Awal Tahun Gajah pada lebih dari 14 abad yang lalu inilah dilahirkannya baginda nabi besar Muhammad, SAW karena itu mayoritas umat Islam di Indonesia bila telah memasuki bulan Rabiul Awal ini banyak yang mengadakan kegiatan peringatan Maulid Nabi SAW sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Allah dan rasa gembira atas kelahiran beliau. Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari sayyidah A’isyah dikatakan:
عَبْدِيْ لَمْ تَشْكُرْنِيْ إِذَا لَمْ تَشْكُرْمَنْ أَجْرَيْتُ النِّعْمَةَ عَلَى يَدَيْهِ
“Wahai hamba-Ku! Kamu tidak akan bisa bersyukur kepada-Ku selagi kamu tidak berterimakasih atas orang yang Aku telah menjalankan ni’mat melalui kedua tangannya.”
Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa Nabi besar Muhammad, SAW adalah seorang perantara yang mulia bagi kita dalam memperoleh limpahan nikmat dan karunia dari Allah, SWT karena beliau telah diutus oleh Allah ke dunia ini sebagai rahmat bagi semesta alam. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (wahai Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya : 107)
Karena itu di momen bulan Rabiul Awal ini, sebagai wujud ungkapan rasa syukur kita kepada Allah dan rasa gembira kita atas kelahiran nabi besar Muhammad, SAW. Di bulan ini, maka dalam khutbah Jumat singkat ini khotib akan menyampaikan sebuah judul : “Maulid Nabi Dan 4 Sifat Teladan Rasulullah Bagi Para Pemimpin.”
Ma’asyirol Muslimin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah...
Memperingati Maulid Nabi SAW Bukan hanya sebatas bertujuan menjaga tradisi baik atau bid’ah hasanah yang selama ini telah dilakukan, akan tetapi salah satu dari hikmah dan tujuan dari memperingati Maulid Nabi adalah agar kita bisa membuka kembali lembaran sejarah kehidupan beliau yang mulia untuk kita jadikan suri teladan dalam kehidupan agar kita bisa memperoleh limpahan rahmat Allah SWT. Sebagaimana telah diingatkan melalui firman-Nya :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab : 21)
Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan:
هَذِهِ الْآ يَةُ الْكَرِيْمَةُ أَصْلٌ كَبِيْرٌ فِى التَّأَسِّبْ بِرَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى اَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَاَحْوَالِهِ
“Ayat yang mulia ini menjadi dalil asal yang besar dalam meneladani Rasulullah SAW dalam semua ucapan beliau dan perbuatan serta perilaku beliau.”
Dan termasuk di dalamnya ucapan dan perbuatan serta perilaku beliau Rasulullah SAW bisa menjadi suri teladan bagi para pemimpin dalam melaksanakan amanah tugas kepemimpinannya, karena sejarah mencatat ketika beliau berhijrah ke Madinah, beliau bukan hanya sebatas menjadi seorang Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan ajaran agama, melainkan beliau juga menjadi seorang pemimpin sejati dalam berbagai aspek kehidupan di Madinah dan terkenal dengan lahirnya piagam Madinah yang menyatukan berbagai suku, golongan dan agama.
Ma’asyirol Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah...
Ada empat sifat wajib bagi Rasulullah yang kita kenal selama ini, yaitu; shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Keempat sifat Rasulullah SAW yang beliau pegang teguh ini memainkan peran penting dalam membentuk kepemimpinan beliau yang sukses dan diakui secara luas, yang sepatutnya diteladani oleh setiap pemimpin dalam melaksanakan amanah tugas kepemimpinannya, meskipun kita tidak akan pernah bisa persis sama dengan beliau Rasulullah, SAW. tapi setidaknya kita telah berusaha untuk mencontoh teladan yang telah beliau praktekan dalam kehidupan beliau.
Ma’asyirol Muslimin Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah..
Sifat yang pertama yang dipegang teguh oleh Rasulullah SAW adalah shiddiq yang berarti jujur dan benar. Seorang pemimpin yang jujur dan benar menjadi dasar yang kuat bagi kepercayaan rakyatnya. Kepemimpinan yang jujur dan benar akan membangun kepercayaan yang mendalam di antara pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya.
Sifat yang kedua yang dipegang teguh oleh Rasulullah SAW adalah amanah, yang berarti bertanggung jawab. Pemimpin yang amanah akan dihormati dan diikuti oleh rakyatnya, karena mereka yakin bahwa seorang pemimpin yang amanah akan selalu menjaga dan melindungi kepentingan dan hak-hak mereka sebagai rakyat.
Sifat yang ketiga yang dipegang teguh oleh Rasulullah SAW adalah sifat fathanah yang berarti cerdas, intelek dan berpikiran maju. Seorang pemimpin yang memiliki sifat Fathanah mampu berpikir jauh kedepan, memahami konteks waktu dan tempat, serta mengambil keputusan yang bijaksana untuk kebaikan dan kemashlahatan rakyat yang dipimpinnya.
Sifat yang keempat yang dipegang teguh oleh Rasulullah SAW adalah tabligh yang berarti menyampaikan amanah. Dalam konteks kepemimpinan, sifat tabligh yang dimiliki oleh seorang pemimpin mencakup kemampuan untuk menyampaikan visi, misi dan kebijakan dengan jelas dan efektif kepada rakyatnya.
Inilah empat sifat yang dipegang teguh oleh Rasulullah SAW dalam setiap ucapan, perbuatan dan tingkah laku beliau dalam kehidupannya yang sepatutnya diteladani oleh setiap pemimpin dalam melaksanakan tugas amanah kepemimpinannya agar terwujud konsep yang sesuai kaedah :
تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ
“Kebijakan imam/pemimpin bagi rakyatnya harus berdasar mashlahah.”
Ma’asyirol Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah..
Sebagai penutup dari khutbah singkat ini, saya mengajak diri saya dan jamaah shalat Jumat sekalian, mari kita jadikan momen peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini menjadi momen bagi kita untuk mebaca kembali sejarah kehidupan beliau yang mulia dan menjadikan beliau sebagai teladan bagi kita dalam kehidupan kita sehari-hari, karena sejatinya kita ini semua adalah pemimpin dalam kehidupan, hanya saja dalam jenjang yang berbeda dan kita semua pasti akan dimintakan pertanggungjawabannya nanti dihadapan Allah SWT. Sebagaimana yang telah diingatkan melalui sabda Nabi SAW:
اَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya….” (HR Abu Daud dari Abdullah Ibnu ‘Umar)
Akhirnya, semoga Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang, selalu melimpahkan rahmat dan taufiq serta hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita bisa selalu meneladani ucapan, perbuatan dan perilaku kehidupan Rasulullah SAW dalam kehidupan kita sehari-hari agar kita bisa memperoleh limpahan rahmat dan keridhoan-Nya di dunia ini dan di akhirat nanti. Amiiin.
أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَخْشَ اللّٰهَ وَيَتَّقْهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ
Artinya: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rosul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (An-Nur : 52)
Ya’ni, orang-orang yang akan memperoleh semua kebaikan dan selamat dari semua keburukan di dunia dan akhirat.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.