Lewati ke konten utama
Kamis, 30 Juli 2026 / 15 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

AI Harus Menjadi Mitra Dakwah, Bukan Pengganti Manusia

3 menit baca 54 dibaca
1000532968
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital  — Wakil Ketua Bidang Riset Digital Komisi Infokomdigi MUI, Ismail Fahmi, mengajak Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan organisasi kemasyarakatan Islam untuk memanfaatkan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) sebagai mitra dalam memperkuat dakwah dan literasi keislaman. Menurutnya, AI tidak perlu dilawan, tetapi harus dimanfaatkan secara bijak dengan tetap mengedepankan peran manusia dalam melakukan verifikasi dan pengawasan.

Hal itu disampaikan Ismail Fahmi saat menjadi narasumber dalam Workshop Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI yang diselenggarakan Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digital MUI bekerjasama dengan BAZNAS RI di Kantor MUI Pusat Rabu (29/7/2026). 

Dalam paparannya, Ismail mengajak peserta membayangkan perkembangan teknologi menuju tahun 2045, ketika manusia diperkirakan akan memasuki era singularity, yakni fase ketika teknologi dan manusia semakin terintegrasi. 

Baca juga: Sebut AI Ancam Tradisi Keagamaan, Kiai Masduki Ingatkan Sanad Ilmu Jangan Hancur Oleh Algoritma

"Yang perlu kita pikirkan adalah seperti apa dakwah kita ketika masyarakat semakin cerdas dengan bantuan teknologi. AI jangan dilawan, tetapi juga jangan sampai menguasai manusia. Yang tepat adalah manusia bekerja bersama AI," ujarnya.

Menurut Ismail, saat ini AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam produksi konten digital. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan karena teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat konten yang manipulatif dan menyesatkan.

Ia mencontohkan maraknya video berbasis AI yang dikemas secara menarik sehingga mudah memengaruhi emosi masyarakat, padahal isi kontennya belum tentu benar. Karena itu, ia menegaskan bahwa setiap konten yang dihasilkan dengan bantuan AI tetap harus melalui proses verifikasi oleh manusia.

Baca juga: Ketua Komisi Infokomdigi MUI: Umat Islam Harus Menangkan Perang Algoritma di Era AI

"AI dapat membantu mempercepat proses, misalnya memotong rekaman ceramah menjadi konten pendek yang siap dipublikasikan. Namun, sebelum dipublikasikan, manusialah yang harus memastikan isi dan pesannya benar. Tanggung jawab tetap berada pada manusia," katanya.

Ismail juga mengingatkan bahaya ketergantungan terhadap AI, khususnya di kalangan generasi muda. Menurutnya, penggunaan AI secara berlebihan tanpa proses berpikir kritis dapat mengurangi kemampuan belajar dan memahami suatu persoalan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun literasi AI sejak dini. AI, menurutnya, harus diposisikan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan produktivitas, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia.

"Generasi muda harus memiliki kemampuan berpikir kritis. Jangan menyerahkan semuanya kepada AI. Gunakan AI untuk mendukung pekerjaan, belajar, dan berdakwah, bukan menggantikan proses berpikir," ujarnya.

Lebih lanjut, Ismail menilai penguatan literasi AI merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari lembaga pendidikan, pemerintah, MUI, hingga organisasi kemasyarakatan. Ia mendorong MUI menjadi pelopor dalam menyusun pelatihan dan panduan pemanfaatan AI untuk dakwah yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Selain itu, ia menilai regulasi juga diperlukan agar perkembangan teknologi tidak hanya mengikuti logika algoritma yang mengejar popularitas, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai etika dan kemaslahatan.

"Algoritma tidak membedakan mana yang benar dan mana yang salah, yang penting baginya adalah apa yang berpotensi viral. Karena itu, regulasi dari pemerintah dan penguatan etika dari lembaga keagamaan menjadi sangat penting agar AI dimanfaatkan untuk menyebarkan konten yang benar, edukatif, dan sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadis," tutupnya.