
Oleh : Mujahidin Nur Lc MA, anggota Komisi Infokom MUI. Direktur Peace Literacy Institute Indonesia, Jakarta
Konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina telah meluluhlantakkan menara babel (migdael babel) humanisme abad 21. Barat yang selama ini getol mengkampanyekan kemanusiaan dalam konflik Israel dan Palestina Barat pula yang terdepan mengkhianati nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah tragedi kemanusiaan di Palestina elit-elit politisi Amerika dan Eropa alih-alih mengutuk malah mendukung aksi kolonialisme dan tindakan tak berperikemanusiaan yang dilakukan zionis Israel terhadap masyarakat Palestina.
Bahkan para filsuf Barat juga ramai-ramai berusaha mencarikan argumentasi pembenaran pembunuhan yang dilakukan oleh Israel, seperti dilakukan salah satunya oleh Bernard-Henri Levy, filsuf Yahudi berkebangsaan Perancis yang dikenal dengan gerakan Nouveaux Philosopes.
Prancis bersama Jerman, Inggris, dan Amerika adalah negara-negara yang konon pionir dalam mencetuskan ide-ide pencerahan (enlightenment). Namun mereka pula yang pertama kali mengkhianatinya. Suara 124 negara di PBB mendesak gencatan senjata Israel dan Palestina. Tetapi, suara mayoritas tersebut dianggap angin lalu, dan Amerika terus mengirimkan persenjataan lengkap ke wilayah Timur Tengah, untuk mendukung Israel.
Humanisme Barat telah runtuh dan menjadi bangkai busuk bersamaan dengan kematian warga sipil Palestina. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan serangan Israel ke kantong pemukiman padat penduduk itu sudah menewaskan 17.177 orang Palestina dan melukai sekitar 46 ribu orang lainnya.