Dukungan Zionisme Kristen di AS Mulai Melemah, Pengaruh Politiknya Dinilai Masih Kuat
Fitri Aulia Lestari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Jakarta, MUI Digital - Dukungan terhadap Israel di kalangan Kristen konservatif muda Amerika Serikat dilaporkan mulai mengalami penurunan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan Zionisme Kristen, sebuah gerakan teologis dan politik yang selama puluhan tahun menjadi salah satu fondasi utama dukungan Amerika Serikat terhadap Israel.
Dikutip MUI Digital dari Aljazeera pada Senin (18/5/2026), laporan tersebut kembali mengemuka setelah majalah kiri Amerika, Jacobin, dalam edisi November 2025 memprediksi “akhir zaman bagi Zionisme Kristen”. Prediksi ini muncul di tengah menurunnya simpati publik Amerika terhadap Israel pasca perang di Gaza yang menewaskan puluhan ribu warga Palestina.
Zionisme Kristen merupakan gerakan yang meyakini bahwa kembalinya orang Yahudi ke Palestina adalah bagian dari penggenapan nubuat Alkitab dan tanda mendekatnya akhir zaman serta kedatangan kembali Nabi Isa AS. Gerakan ini selama bertahun-tahun berkembang pesat di kalangan Kristen evangelis konservatif di Amerika Serikat, terutama di kawasan “Bible Belt” atau Sabuk Alkitab.
Baca juga: Ketua MUI Minta Masyarakat Waspada Gerakan Pro Zionis di Indonesia
Pada 1992, majalah Christianity Today sebenarnya pernah menyoroti adanya penurunan dukungan terhadap Zionisme Kristen. Namun, dalam tiga dekade berikutnya gerakan tersebut justru semakin menguat dan berhasil membangun pengaruh politik yang besar.
Zionisme Kristen dinilai memainkan peran penting dalam membangun dukungan tanpa syarat Amerika Serikat terhadap Israel, terutama di basis pemilih Partai Republik. Gerakan ini juga disebut berkontribusi dalam kemenangan Presiden George W. Bush dan mendukung invasi Amerika ke Irak yang saat itu oleh sebagian tokoh Zionis Kristen dianggap sebagai bagian dari penggenapan nubuat akhir zaman.
Namun situasi mulai berubah setelah perang Israel di Gaza. Dukungan publik Amerika terhadap Israel disebut menurun drastis, termasuk di kalangan umat Kristen muda.
Baca juga: Jelang Aksi Bela Palestina 9 Juni di Monas, Sekjen MUI : Kebiadaban Zionis Israel Harus Dihentikan
Survei tahun 2021 terhadap evangelis Amerika berusia di bawah 30 tahun menunjukkan hanya 33,6 persen responden yang menyatakan mendukung Israel. Angka ini dinilai menunjukkan perubahan signifikan dibanding generasi sebelumnya yang selama ini dikenal sangat pro-Israel.
Para peneliti, Motti Inbari dan Kirill Bumin, menilai perubahan tersebut berkaitan dengan melemahnya kepercayaan terhadap premilenialisme, yaitu keyakinan bahwa Nabi Isa AS akan kembali memerintah di bumi selama seribu tahun setelah sejumlah nubuat terkait Israel terpenuhi.
Dalam keyakinan ini, keberadaan negara Israel modern dianggap penting secara teologis. Karena itu, banyak Zionis Kristen mendukung Israel dalam konflik regional dan bahkan mendukung pembangunan Bait Suci Ketiga di kawasan Masjid Al-Aqsa.
Namun, survei terbaru menunjukkan hanya sekitar 21 persen responden muda evangelis yang masih mempercayai doktrin premilenialisme. Sebaliknya, survei tahun 2011 dari National Association of Evangelicals menunjukkan sekitar 65 persen evangelis dari berbagai kelompok usia masih mempercayainya.
Selain faktor teologi, perubahan sikap generasi muda juga dipengaruhi perkembangan politik di Timur Tengah, termasuk perang Gaza dan konflik Israel-Iran.
Lembaga survei Pew Research Center mencatat penurunan dukungan terhadap Israel di kalangan konservatif muda dan umat Kristen secara umum. Sementara survei dari Institute for Middle East Understanding menunjukkan semakin banyak Republikan muda yang menilai Israel memiliki pengaruh terlalu besar dalam politik Amerika Serikat.
Meski demikian, para ahli menilai Zionisme Kristen masih memiliki pengaruh besar dalam sistem politik Amerika Serikat karena dukungan kelembagaan dan finansial yang sangat kuat.
Pendeta Palestina-Amerika, Fares Abraham, mengatakan Zionisme Kristen mungkin mulai kehilangan popularitas, tetapi bukan berarti kehilangan pengaruh politik.
“Gerakan ini sangat terorganisir, didanai dengan baik, dan memiliki aliansi kuat dengan kelompok Zionis sekuler maupun Yahudi,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Salah satu organisasi yang disebut memiliki pengaruh besar ialah Christians United for Israel (CUFI). Organisasi tersebut diketahui aktif melakukan lobi politik di Washington, termasuk untuk memperkuat sanksi terhadap Iran dan mendorong bantuan miliaran dolar AS bagi Israel.
Menurut laporan Al Jazeera, organisasi-organisasi Zionis Kristen juga memiliki kekuatan ekonomi yang besar. Dari 36 organisasi yang berhasil ditelusuri laporan keuangannya, total pendapatan tahunan mereka mencapai sekitar 2,8 miliar dolar AS.
Angka tersebut jauh lebih besar dibanding sejumlah kelompok lobi besar di Amerika Serikat, seperti National Rifle Association (NRA) maupun National Association of Realtors.
Peneliti Universitas Wisconsin-Madison, Daniel Hummel, menjelaskan bahwa kekuatan Zionisme Kristen dibangun sejak tahun 1970-an ketika kelompok evangelis mulai menjadi blok pemilih politik yang terorganisir.
Tokoh evangelis seperti Jerry Falwell berperan besar menghubungkan gerakan Kristen konservatif dengan dukungan terhadap Israel. Melalui gerakan Moral Majority yang didirikannya pada 1979, Falwell berhasil memobilisasi jutaan pemilih Kristen konservatif dan memperkuat posisi Partai Republik.
Kini komunitas Kristen evangelis diperkirakan mencakup sekitar 90 juta pemilih di Amerika Serikat.
Meski pengaruhnya masih besar, tanda-tanda kekhawatiran mulai terlihat. Israel bahkan disebut mulai melakukan berbagai langkah untuk mempertahankan dukungan di kalangan evangelis Amerika.
Pada Oktober lalu, Israel dikabarkan mengontrak perusahaan Amerika untuk menjalankan kampanye digital pro-Israel yang menyasar gereja-gereja evangelis. Selain itu, sekitar 1.000 pendeta dan tokoh berpengaruh Amerika juga diundang ke Israel untuk dilatih menjadi “duta Israel” bagi generasi muda Amerika.
Parlemen Israel atau Knesset juga menyetujui anggaran besar untuk kampanye humas pro-Israel.
Meski belum diperkirakan memengaruhi pemilu Amerika Serikat dalam waktu dekat, sejumlah pengamat menilai perubahan budaya dan pandangan teologis generasi muda dapat menjadi tantangan serius bagi masa depan Zionisme Kristen.
Hummel menilai generasi muda evangelis kini semakin melihat konflik Palestina-Israel melalui perspektif keadilan sosial, bukan lagi semata melalui kacamata nubuat agama.
“Mereka melihat Palestina sebagai pihak tertindas dan Israel sebagai pihak yang menindas,” ujarnya.
Sementara itu, Pendeta Fares Abraham menilai tantangan terbesar Zionisme Kristen bukan hanya persoalan politik, tetapi juga persoalan moral dan teologis.
Menurutnya, perang di Gaza dan meningkatnya konflik di Timur Tengah memperlihatkan pertentangan antara dukungan politik terhadap perang dan nilai-nilai moral dalam ajaran Kekristenan.
“Ancaman terbesar bagi Zionisme Kristen adalah kerentanan moral dan rapuhnya fondasi teologis yang menopangnya,” katanya.