Refleksi Kemerdekaan: Tauhid, Pendidikan, dan Jalan Menuju Manusia Merdeka Abad XXI
Oleh: KH Wahfiudin Sakam, SE, MBA
Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Setiap tahun kita memperingati kemerdekaan. Kita mengenang perjuangan para pendahulu yang membebaskan negeri ini dari penjajahan. Tetapi setelah sebuah bangsa merdeka, saya kira ada pertanyaan lain yang patut kita ajukan: Apakah manusianya juga sudah merdeka?
Pertanyaan itu penting karena kemerdekaan
tidak hanya menyangkut wilayah dan kekuasaan politik. Orang dapat hidup di
negara yang merdeka, tetapi masih diperbudak oleh ketakutan, hawa nafsu,
kekayaan, jabatan, popularitas, atau penilaian manusia lain.
Di sinilah saya melihat daya pembebasan
tauhid. Tentu hubungan tauhid dan kemerdekaan perlu dibaca dengan hati-hati.
Tauhid tidak otomatis berarti revolusi politik, dan gerakan antikolonial muslim
tidak lahir dari satu sebab. Yang lebih mendasar, tauhid memberi manusia
semacam gramatika kemerdekaan: hanya Allah yang boleh disembah secara mutlak.
Yang lain tetap makhluk.
Kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ sendiri
dimulai dengan penolakan sebelum penegasan. Lā ilāha: jangan
mengabsolutkan apa pun. Illā Allāh: hanya Allah Yang Absolut.
Jika kesadaran itu dibawa ke kehidupan,
implikasinya besar. Kekuasaan tidak boleh menjadi kebenaran mutlak. Uang tidak
layak menjadi tujuan tertinggi. Bangsa tidak boleh diabsolutkan. Guru tidak
menjadi manusia yang tak boleh ditanya. Tradisi tetap dapat diperiksa. Bahkan
diri sendiri dan hawa nafsu tidak boleh mengambil posisi sebagai ilah.
Alquran menggambarkan manusia yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai “ilah”. Allah berfirman:
أَفَرَأَيْتَ
مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ
“Tidakkah engkau memperhatikan orang
yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya....”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Karena itu, penjajahan yang paling dekat
kadang tidak datang dari luar. Ia dapat tinggal di dalam diri: ketika kita tahu
sesuatu salah tetapi tidak mampu berkata tidak; ketika kita lebih takut
kehilangan jabatan daripada kehilangan kompas moral; ketika keinginan menguasai
keputusan kita.
Ada paradoks yang sangat indah dalam tauhid,
yakni bahwa semakin mutlak seseorang menjadi hamba Allah, semakin tidak layak
ia menjadi hamba manusia. Semua manusia pada dasarnya adalah ‘abdullah, yaitu
hamba Allah. Manusia lain dapat dihormati, tetapi tidak dipertuhankan.
Pemimpin dapat ditaati dalam wilayah yang sah, guru dimuliakan, ulama dihargai,
tetapi tidak seorang pun mengambil posisi Allah.
Penghormatan melahirkan adab. Pengultusan
melahirkan ketergantungan dan ketakutan. Tetapi tauhid yang berhenti sebagai
doktrin belum tentu membebaskan. Orang dapat sering mengucapkan Lā ilāha
illā Allāh, lalu tetap takut berlebihan kepada penguasa, tidak berani
bertanya, menerima ketidakadilan, bergantung kepada patron, atau takut
kehilangan jabatan.
Karena itu, di sini saya membedakan “tauhid doktrinal” dan “tauhid eksistensial”. Tauhid doktrinal bertanya, “Ada berapa Tuhan?” Sedangkan tauhid eksistensial bertanya, “Apa yang paling saya takuti? Kepada siapa saya tidak berani berkata tidak? Apa yang sebenarnya mengendalikan keputusan saya?” Bagi saya, rentetan pertanyaan kedua jauh lebih mengguncang, sebab membawa tauhid keluar dari ruang pengetahuan dan masuk ke ruang kehidupan.
Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan
Dari Penjajahan Wilayah Menuju
Penjajahan Kesadaran
Kolonialisme tidak hidup hanya dari
tentara. Ia menjadi lebih dalam ketika bangsa yang dijajah mulai percaya bahwa
pihak yang menjajah memang lebih pintar, lebih maju, lebih rasional, lebih
bermartabat, dan lebih pantas memerintah. Pada saat itu yang dikuasai bukan
hanya tanah, tetapi juga kesadaran manusia.
Ada kolonialisasi eksternal: tanah,
ekonomi, pemerintahan, dan sumber daya dikuasai. Ada pula kolonialisasi
internal: cara manusia melihat dirinya dikuasai. Yang kedua sering lebih tahan
lama.
Sebuah bangsa dapat merdeka secara politik,
sementara rasa inferior masih tinggal di dalam manusianya. Kita dapat menjadi
pengguna yang sangat cakap, tetapi tidak percaya diri untuk mencipta. Kita
terbiasa mengikuti, bukan menentukan arah.
Di sinilah penghayatan terhadap الله أكبر —
Allah Maha Besar — dapat menjadi energi pembebasan. Jika Allah Maha Besar,
kekuasaan sebesar apa pun tetap terbatas. Militer memiliki batas. Kekayaan
imperium memiliki batas. Imperium sebesar apa pun tetap makhluk.
Namun, sejarah tidak boleh dibuat terlalu
sederhana. Kemerdekaan Indonesia adalah hasil pertemuan banyak arus: Islam,
nasionalisme, pendidikan modern, sosialisme, gerakan buruh, organisasi pemuda,
dan perubahan geopolitik. Karena itu, saya lebih nyaman menyebut tauhid sebagai
salah satu sumber energi moral dan konseptual pembebasan, bukan satu-satunya
sebab kemerdekaan Indonesia.
Kemerdekaan juga tidak berhenti pada
keberanian pribadi. Seseorang dapat berani, tetapi kalau hidup dalam sistem
yang menghukum setiap pertanyaan, lama-lama ia juga dapat dibuat diam. Maka
manusia merdeka membutuhkan lingkungan yang memerdekakan: ada ruang untuk bermusyawarah,
kritik, pertanggungjawaban, pemeriksaan terhadap klaim, dan kemandirian
ekonomi. Penghormatan tetap ada, tetapi kultus tidak perlu dipelihara.
Zaman kiwari membuat persoalan ini semakin
rumit. Algoritma berebut perhatian kita. Platform membentuk pasar. Utang
membatasi keputusan. Konsumerisme membentuk keinginan. Disinformasi mengarahkan
persepsi. Popularitas dapat menentukan apa yang berani kita katakan.
Jadi pertanyaan kemerdekaan hari ini bukan hanya, “Siapa yang menguasai wilayah kita?” Pertanyaannya juga, “Siapa yang menguasai perhatian, keinginan, keputusan, dan cara kita melihat diri sendiri?”
Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin
Pendidikan Tauhid: Membentuk Manusia
Merdeka
Di sinilah pendidikan menjadi sangat
menentukan. Sekolah dapat menghasilkan manusia yang terdidik tetapi tetap
dependent. Sarjana dapat mempunyai gelar tinggi, tetapi pertanyaan yang paling
sering muncul tetap, “Ada lowongan apa?”
Pertanyaan itu wajar. Orang memang perlu
bekerja. Tetapi saya ingin menambahkan pertanyaan lain: “Problem apa yang dapat
saya selesaikan?” Perbedaan antara dua pertanyaan itu menunjukkan dua posisi manusia.
Yang pertama cenderung menunggu ruang. Yang kedua, mulai melihat dirinya sebagai
subjek yang dapat menciptakan nilai.
Pendidikan tauhid, karena itu bukan sekadar
menambah jam pelajaran agama, seseorang dapat belajar agama sangat banyak,
tetapi tetap tidak berani berbeda pendapat, bergantung pada patron atau
kehilangan arah ketika tidak mendapat pengakuan.
Bagi saya, pendidikan tauhid harus bekerja
pada arsitektur kepribadian. Tauhid lebih dulu memberi manusia rasa nilai diri—self-worth.
Dari sana ia belajar menguasai dirinya—self-mastery. Setelah itu, keberanian
berpikir, kompetensi, kemandirian, dan pada akhirnya kemampuan melayani orang
lain dapat tumbuh.
Kalau diringkas, arahnya bergerak dari
tauhid menuju self-worth, self-mastery, critical thinking, courage, competence,
independence, lalu service. Tetapi ukuran akhirnya tetap sederhana: apakah
pendidikan membuat seseorang semakin mampu mengendalikan dirinya, berpikir
dengan jernih, berkarya, dan memberi manfaat?
Cara belajar juga perlu berubah. Model lama
mudah jatuh pada pola guru memberi jawaban, lalu murid menghafalkannya.
Pendidikan yang memerdekakan dimulai dari realitas: ada problem, murid
bertanya, guru membimbing penyelidikan, data diuji, dugaan diperdebatkan,
solusi dicoba, dan hasil dipertanggungjawabkan.
Saya kira salah satu reformasi pendidikan
yang paling mendasar adalah ini: jangan hanya menilai jawaban anak. Nilai juga
pertanyaannya.
Sekolah biasa bertanya, “Apa jawabannya?”
Pendidikan manusia merdeka perlu sesekali bertanya, “Seberapa bagus
pertanyaanmu?” Apa yang terjadi? Mengapa? Siapa yang mengatakan demikian? Apa
buktinya? Data apa yang belum ada? Apa asumsi yang tersembunyi? Bagaimana kita
mengujinya?
Guru tentu tidak kehilangan otoritas. Saya
tidak sedang membayangkan pendidikan tanpa guru atau tanpa adab. Yang berubah
adalah sifat otoritasnya: dari domination menjadi guidance. Guru tetap murabbi,
mentor, dan intellectual guide. Tugasnya bukan membuat murid selamanya
bergantung kepada dirinya, tetapi membantu murid kelak berdiri dengan ilmu dan
tanggung jawabnya sendiri.
Ada satu dimensi lain yang menurut saya
sering hilang dalam pembicaraan pendidikan Islam: kemampuan produktif. Jika
pendidikan menghasilkan manusia saleh tetapi tidak mampu menciptakan nilai,
bekerja dengan baik, mengelola organisasi, membangun usaha, atau memecahkan
problem, ia mudah jatuh ke dalam ketergantungan. Ketergantungan ekonomi
kemudian dapat merembet menjadi ketergantungan politik dan intelektual.
Karena itu, kewirausahaan, literasi finansial, literasi teknologi, manajemen, keterampilan berkarya, dan problem solving penting. Bukan agar semua orang menjadi pengusaha. Yang hendak dibangun adalah agency: kemampuan menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan orang lain, menawarkan nilai, dan menjadi subjek dalam kehidupan sosial.
Baca juga: Kemerdekaan: Antara Perayaan, Pengorbanan, dan Introspeksi Bangsa
Manusia Merdeka di Era AI
AI membawa paradoks baru. Ia dapat
membebaskan manusia dari banyak pekerjaan rutin, tetapi juga dapat membuat
manusia malas berpikir. Anak bertanya, AI menjawab. Mahasiswa mendapat tugas,
AI menulis. Manajer mempunyai problem, AI memberikan rekomendasi.
Saya tidak melihat persoalannya pada AI itu
sendiri. Persoalannya adalah apa yang terjadi pada manusianya. Jangan sampai artificial
intelligence semakin tinggi, tetapi human agency justru semakin
rendah.
Karena itu, pendidikan hari ini tidak cukup
mengajarkan cara menggunakan AI. Yang lebih penting adalah menjaga kedaulatan
intelektual manusia ketika menggunakannya. Prinsipnya sederhana: gunakan AI
untuk memperbesar kemampuan berpikir, bukan menggantikan berpikir.
AI dapat membantu mencari informasi, tetapi
manusia tetap harus menilai. AI dapat memberi rekomendasi, tetapi manusialah
yang memikul pertimbangan moral. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tujuan
pekerjaan tetap harus ditentukan manusia.
Lalu manusia merdeka yang ingin kita bentuk
itu seperti apa?
Saya melihat setidaknya ada tujuh
kemerdekaan: 1. Merdeka spiritual: tidak diperbudak selain oleh Allah. 2. Merdeka
moral: tidak menjual prinsip demi keuntungan. 3. Merdeka intelektual: berani
bertanya dan menguji klaim. 4. Merdeka psikologis: tidak hidup hanya dari
inferioritas dan validasi orang lain. 5. Merdeka ekonomi: mampu menciptakan
nilai dan memenuhi kebutuhan hidup dengan bermartabat. 6. Merdeka teknologi:
menguasai teknologi, bukan dikuasai teknologi. 7. Merdeka sosial-politik: tidak
mudah ditakuti, dimanipulasi, atau dipatronisasi oleh kekuasaan.
Daftar itu bukan tujuan pada dirinya
sendiri. Intinya satu: manusia tetap menjadi subjek. Ia tidak menyerahkan
kemudi kehidupannya kepada kekuatan di luar dirinya.
Namun demikian, kemerdekaan dalam tauhid
tidak berhenti pada kebebasan “dari”. Ada freedom from dan ada freedom
for.
Lalu, merdeka untuk apa? Tentu bukan untuk
ego. Manusia bertauhid bukan orang yang berkata, “Tidak seorang pun boleh
mengatur saya.” Tetapi ia berkata, “Saya tidak akan diperbudak manusia karena
saya mempunyai amanah yang lebih besar dari Allah.”
Di situlah kemerdekaan mendapat arah.
Manusia menjadi hamba Allah seutuhnya, sekaligus menjalankan amanah sebagai
khalifah yang bertanggung jawab membangun kehidupan. Ia belajar, bekerja,
mencipta, membangun, dan melayani. Dunia berada di tangannya, bukan menguasai
jiwanya.
Kalau ingin diringkas, proses pembebasan
itu mempunyai tiga tahap, sebagai berikut.
1. Tahrir al-’aqidah (تحرير العقيدة), yakni membebaskan keyakinan, hanya Allah yang absolut.
2. Tahrir al-insan (تحرير الإنسان), yakni membebaskan manusia dari ketakutan, hawa nafsu, kultus, inferioritas,
ketidaktahuan, dan ketergantungan.
3. Tahrir al-mujtama’ (تحرير المجتمع), yakni membebaskan masyarakat melalui ilmu, keadilan, musyawarah, institusi yang
sehat, produktivitas, kemandirian, dan rule of law.
Kita bersepakat bahwa kemerdekaan
Indonesia adalah kemerdekaan kita sebagai bangsa. Tetapi tugas insan pendidikan
sekarang mungkin lebih sulit: memerdekakan manusianya.
Negara dapat merdeka sementara rakyatnya
masih terjajah oleh kebodohan; ekonomi tetap dependent, dan kaum terdidik tetap takut berpikir. Generasi muda dapat hidup dalam negara merdeka, tetapi perhatian dan keinginannya dikuasai algoritma, konsumsi, dan validasi
sosial.
Karena itu, pendidikan tauhid abad XXI perlu bergerak dari hafalan menuju kesadaran, dari kepatuhan buta menuju ketaatan yang berilmu, dari ketergantungan menuju kemampuan, dari konsumsi menuju produksi, dari menerima jawaban menuju menemukan masalah, dan dari sekadar menggunakan teknologi menuju kemampuan menguasainya.
Baca juga: “DNA” Pejuang: Menagih Spiritualitas, Karakter, dan Tanggung Jawab Kemerdekaan
Pada akhirnya, saya kembali kepada rumusan
yang paling sederhana: tauhid bukan hanya mengajarkan kepada siapa manusia
harus bersujud, tetapi juga kepada siapa dan kepada apa manusia tidak boleh
bersujud. Yang pertama membentuk ’ubudiyyah. Yang kedua melahirkan
kemerdekaan.
التوحيد يحرّر الإنسان من عبودية الإنسان، ليكون عبدًا
لله وحده
“Tauhid membebaskan
manusia dari penghambaan kepada manusia, agar ia menjadi hamba Allah semata.”
Kemerdekaan bangsa adalah awal. Tugas berikutnya adalah melahirkan manusia yang mampu berpikir, berkarya, bertanggung jawab, menggunakan teknologi tanpa kehilangan dirinya, tunduk hanya kepada Allah, dan tetap berdiri tegak menghadapi dunia.