Indikasi Ketidakharmonisan AS-Israel
Oleh: Dr Yanuardi Syukur
Pengurus Komisi HLNKI MUI/Dosen Antropologi Universitas Khairun
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel, yang selama tujuh dekade lebih dikenal sebagai aliansi strategis yang tak terpisahkan, kini tengah menghadapi ujian terberat sepanjang sejarah.
Ketegangan terbuka antara Presiden AS
Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak hanya
mempermalukan kedua pemimpin di panggung dunia, tetapi juga mengancam
stabilitas kawasan Timur Tengah yang sudah rapuh.
Apa yang dulu dibangun di atas kepentingan
bersama dan ikatan emosional, kini berubah menjadi ajang saling serang antara
keduanya.
Untuk memahami kompleksitas keretakan ini, kita dapat membaginya ke dalam tiga gagasan utama, yakni runtuhnya citra Israel secara global, bentrokan kepentingan Trump dan Netanyahu, serta implikasi politik domestik dan masa depan aliansi.
Baca juga: Israel Menuju Negara yang Terisolasi
Krisis Kepercayaan Global terhadap
Israel dan Netanyahu
Sebelum perseteruan Trump-Netanyahu
memuncak, citra Israel di mata dunia internasional sebenarnya sudah berada di
titik nadir. Survei komprehensif yang dilakukan Pew Research Center pada
periode 8 Februari hingga 13 Mei 2026, yang dipublikasikan oleh Laura Silver
dan Laura Clancy pada 4 Juni 2026, mengungkapkan data yang mencengangkan.
Di 36 negara yang disurvei, median 67%
orang dewasa memiliki pandangan tidak menguntungkan terhadap Israel. Sementara
hanya 25% yang masih memandang positif.
Sentimen negatif ini sangat kuat di
negara-negara Eropa seperti Italia, Spanyol, dan Belanda, di mana mayoritas
bahkan menyatakan sangat tidak menguntungkan. Di kawasan Muslim seperti
Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Turki, angka ketidaksukaan bahkan menembus
80 hingga 95 persen.
Lebih buruk lagi, kepercayaan terhadap
kepemimpinan Benjamin Netanyahu untuk melakukan hal yang benar dalam urusan
dunia juga anjlok. Pew mencatat bahwa mayoritas di Australia, Kanada, Prancis,
Jerman, dan Inggris Raya menyatakan tidak percaya sama sekali pada Perdana
Menteri Israel tersebut.
Dibandingkan dengan tahun 2025, sentimen negatif
terhadap Netanyahu meningkat drastis di 13 negara, termasuk Korea Selatan yang
melonjak dari 64% menjadi 76%.
Kondisi ini menciptakan latar belakang yang sempurna bagi tekanan internasional terhadap Israel, sekaligus mengurangi ruang gerak Netanyahu untuk meminta simpati global. Ketika dunia sudah muak, setiap langkah agresif Israel akan semakin sulit dijustifikasi.
Baca juga: Provokasi Berantai Israel Mengancam Dunia
Bentrokan Kepentingan Trump dan
Netanyahu
Puncak ketidakharmonisan terjadi ketika
prioritas geopolitik Trump dan Netanyahu bertabrakan secara frontal terkait
perang melawan Iran dan kesepakatan damai.
Yashraj Sharma dalam laporannya di Al
Jazeera pada 18 Juni 2026 menulis bahwa Israel sangat murka dengan kesepakatan
AS-Iran yang melegitimasi penghentian permusuhan di Lebanon.
Netanyahu bersumpah tidak akan menarik
pasukan dari wilayah Lebanon yang diduduki, sementara Trump justru mendesak
agar perang segera diakhiri demi stabilitas ekonomi global dan kepentingan
pemilu AS. Trump secara terbuka menyatakan, “Saya tidak senang dengan invasi
dan penanganan Israel terhadap Hizbullah,” dan meminta Netanyahu agar lebih
bertanggung jawab.
Ketegangan ini semakin personal dan
eksplosif. Frank Andrews di CBS News pada 19 Juni 2026 mengutip percakapan
telepon di mana Trump membentak Netanyahu, “Apa-apaan yang kau lakukan?” Lalu
dikatakan dengan tegas, “Kau benar-benar gila. Kau akan berada di penjara jika
bukan karena aku.”
Bahkan di hadapan publik, dalam konferensi pers G7 di Prancis, Trump dengan sinis menyebut Netanyahu sebagai “the very small partner” (mitra yang sangat kecil) dan melontarkan pernyataan kontroversial, “Tanpa saya, tidak akan ada Israel.”
Baca juga: Mengapa Amerika Tunduk pada Israel?
Ruth Margalit dalam analisis di The New Yorker pada 19 Juni 2026 menyebut bahwa kesepakatan Iran ini adalah “bencana” bagi Israel karena tidak membatasi program nuklir dan rudal Iran, serta justru mencairkan dana Iran yang dibekukan.
Perbedaan mendasarnya terletak pada visi
bahwa Trump ingin mengakhiri “forever wars” (perang abadi) seperti
Perang Afganistan (2001-2021) dan Perang Irak (2003-2011, serta keterlibatan
lanjutan melawan ISIS). Sementara itu, Netanyahu menganggap perang ini sebagai “life's
mission” (misi seumur hidup) untuk menggulingkan rezim Iran sekaligus
mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, yang dapat dibayangkan, seperti kata
Trump, “Jika Iran punya bom nuklir, Israel bisa tamat!”
Implikasi Domestik di Israel dan Nasib
Aliansi Masa Depan
Keretakan dengan AS bukan hanya masalah
diplomatik, tetapi telah berdampak langsung pada peta politik domestik Israel
dan masa depan jabatan Netanyahu.
Margalit (The New Yorker, 19 Juni 2026)
mencatat fenomena langka, yaitu popularitas Trump di kalangan warga Israel
jatuh bebas dari rating positif 58% menjadi negatif 16% hanya dalam hitungan
minggu pasca-kesepakatan.
Di antara pendukung setia Netanyahu,
popularitas Trump bahkan turun hingga 50 poin. Survei terbaru menunjukkan bahwa
partai Likud pimpinan Netanyahu kehilangan kursi, sementara partai oposisi
Yashar pimpinan Gadi Eisenkot justru menguat empat kursi dalam sepekan.
Ini menandakan bahwa rakyat Israel mulai menyalahkan Netanyahu atas hilangnya dukungan dari sekutu terbesarnya.
Baca juga: 8 Dusta Amerika Serikat dalam Perang Iran
Secara historis, perseteruan antara
presiden AS dan PM Israel bukanlah hal baru. Yashraj Sharma mengingatkan bahwa konflik Eisenhower vs. Ben-Gurion (1956) dan Obama vs. Netanyahu (2015) tidak pernah menghentikan aliran bantuan militer AS.
Namun, analis senior Carnegie Endowment,
Aaron David Miller, yang dikutip CBS News (19 Juni 2026), memperingatkan bahwa
Trump memiliki cara unik untuk “menghukum” Netanyahu, yakni dengan secara
terbuka menyatakan, “…bahwa hubungan AS-Israel sedang menderita bukan karena
saya, Donald Trump, tetapi karena Benjamin Netanyahu.”
Hal ini bisa menjadi pukulan telak
menjelang pemilu Israel. Sementara itu, Yossi Mekelberg dari Chatham House (via
Al Jazeera) menambahkan bahwa Israel kini mulai dipandang sebagai “beban” (burden)
bagi AS, bukan lagi sebagai aset strategis seperti dulu.
Ketidakharmonisan AS-Israel saat ini dapat
dipahami bukan sekadar perselisihan ego antara dua pemimpin keras kepala. Ini
adalah cerminan dari perubahan fundamental dalam lanskap geopolitik global, di
mana kepentingan nasional AS mulai berbenturan dengan ambisi ekspansionis
Israel.
Memang, tidak bisa dimungkiri ada pandangan bahwa ini bagian dari sandiwara sebab terkadang retorika keduanya ibaratnya seperti peribahasa Jawa yang populer di Indonesia yang bunyinya: “esuk dhele, sore tempe” (pagi kedelai, sore tempe). Inkonsisten, suka berubah pendirian dalam waktu singkat.
Baca juga: Perang Kawasan Teluk dan Ancaman Ekonomi Syariah–Halal
Dengan citra Israel yang terpuruk di mata dunia, kepercayaan publik yang runtuh terhadap Netanyahu, dan kini hilangnya payung perlindungan dari Washington, masa depan aliansi ini berada di ujung tanduk.
Allah SWT dalam firman-Nya telah
mengingatkan tentang kelompok yang terlihat bersatu tetapi hatinya
bercerai-berai:
تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ
شَتَّىٰ
“Kamu kira mereka itu bersatu, sedang
hati mereka berpecah belah.” (QS. Al-Hasyr: 14)
Artinya, hubungan AS-Israel saat ini sedang menunjukkan gejala kerapuhan yang selama ini tersembunyi di balik retorika aliansi strategis dan persahabatan abadi.