5 Alasan Merayakan Maulid Nabi Menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
Jakarta, MUI Digital — Maulid Nabi telah menjadi salah satu tradisi keislaman yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Di berbagai daerah Indonesia, peringatan kelahiran Rasulullah SAW diselenggarakan dengan beragam adat dan kekhasan masing-masing, mulai dari pengajian sederhana di surau atau masjid hingga perayaan besar seperti Grebeg Maulud di Yogyakarta.
Keragaman praktik tersebut menunjukkan
kuatnya kecintaan umat Islam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang
diekspresikan melalui berbagai bentuk peringatan. Namun, di balik tradisi yang
telah berlangsung turun-temurun itu, terdapat sejumlah alasan keagamaan yang
menjadi pijakan bagi umat Islam dalam memperingati kelahiran Rasulullah.
Berkenaan dengan hal ini, ulama pakar hadis
terkemuka asal Makkah, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani (wafat
1425 H), dalam kitab Haul al-Ihtifal bi Dzikri al-Maulid an-Nabawi
asy-Syarif menjelaskan beberapa alasan yang melatarbelakangi peringatan
Maulid Nabi. Setidaknya, terdapat lima alasan yang beliau kemukakan sebagai
berikut:
1. Wujud rasa bahagia atas kelahiran
Rasulullah SAW
Alasan pertama adalah bahwa peringatan
Maulid Nabi merupakan bentuk ekspresi kegembiraan atas kelahiran Baginda Nabi
Muhammad. Kehadiran Rasulullah membawa risalah Islam, petunjuk, dan rahmat bagi
umat manusia. Karenanya, kelahiran beliau layak disambut dengan suka cita.
Dalam menjelaskan hal ini, Sayyid Muhammad
Alawi al-Maliki mengaitkannya dengan kisah Abu Lahab. Kendati dikenal sebagai
salah seorang penentang keras dakwah Rasulullah SAW, Abu Lahab disebut
memperoleh keringanan azab lantaran pernah bergembira atas kelahiran Nabi
Muhammad.
Kegembiraan itu ditunjukkannya dengan
memerdekakan Tsuwaibah setelah budak perempuannya tersebut menyampaikan kabar
perihal kelahiran Rasulullah.
أَنَّ الإِحْتِفَالَ بِالْمَوْلِدِ
النَّبَوِيِّ الشَّرِيْفِ تَعْبِيْرٌ عَنِ الْفَرَحِ وَالسُّرُوْرِ بِالْمُصْطَفَى
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ انْتَفَعَ بِهِ الْكَافِرُ. فَقَدْ جَاءَ
فِي الْبُخَارِيِّ أَنَّهُ يُخَفَّفُ عَنْ أَبِي لَهَبٍ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ
بِسَبَبِ عِتْقِهِ لِثُوَيْبَةَ جَارِيَتِهِ لَمَّا بَشَّرَتْهُ بِوِلَادَةِ
الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi yang
mulia merupakan ungkapan kegembiraan dan rasa bahagia atas kelahiran Nabi
Muhammad SAW. Bahkan, kegembiraan terhadap kelahiran beliau ini juga
mendatangkan manfaat bagi orang kafir. Berdasarkan riwayat yang termaktub dalam
kitab Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa azab Abu Lahab diringankan setiap hari
Senin karena ia pernah memerdekakan Tsuwaibah, budak perempuannya, setelah
Tsuwaibah menyampaikan kabar gembira kepadanya tentang kelahiran Nabi Muhammad
SAW.” (Haul al-Ihtifal Bidzikri al-Maulid
an-Nabawi asy-Syarif [Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah], h. 22)
Keterangan di atas menunjukkan bahwa kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW mempunyai nilai tersendiri. Bagi umat Islam, rasa bahagia itu tentu saja tidak berhenti pada perayaan semata, tetapi semestinya pula mendorong tumbuhnya kecintaan dan keteladanan kepada beliau.
Baca juga: Apakah Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW?
2. Ungkapan rasa syukur atas kelahiran
Rasulullah SAW
Di samping sebagai wujud kegembiraan,
Maulid Nabi juga dapat menjadi momentum untuk mensyukuri kelahiran Rasulullah
SAW. Salah satu landasan yang dikemukakan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki
adalah kebiasaan Rasulullah berpuasa setiap hari Senin.
Saat ditanya mengenai puasa hari Senin,
Rasulullah mengungkapkan bahwa pada hari itulah beliau dilahirkan dan pada hari
itu pula wahyu diturunkan kepadanya. Menurut pandangan Sayyid Muhammad Alawi
al-Maliki, hal demikian menunjukkan bahwa Rasulullah sendiri mengagungkan hari
kelahirannya dengan bentuk ibadah berupa puasa sebagai ungkapan syukur kepada
Allah SWT.
أَنَّهُ كَانَ يُعَظِّمُ يَوْمَ
مَوْلِدِهِ وَيَشْكُرُ اللهَ تَعَالَى فِيهِ عَلَى نِعْمَتِهِ الْكُبْرَى
عَلَيْهِ، وَتَفَضُّلِهِ عَلَيْهِ بِالْجُودِ لِهَذَا الْوُجُودِ إِذْ سَعِدَ بِهِ
كُلُّ مَوْجُودٍ، وَكَانَ يُعَبِّرُ عَنْ ذَلِكَ التَّعْظِيمِ بِالصِّيَامِ، كَمَا
جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: فِيْهِ
وُلِدْتُ، وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. رَوَاهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيْحِ
فِيْ كِتَابِ الصِّيَامِ. وَهَذَا فِي مَعْنَى الإِحْتِفَالِ بِهِ إِلَّا أَنَّ
الصُّورَةَ مُخْتَلِفَةٌ، وَلَكِنَّ الْمَعْنَى مَوْجُودٌ سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ
بِصِيَامٍ، أَوْ إِطْعَامِ طَعَامٍ أَوِ اجْتِمَاعٍ عَلَى ذِكْرٍ أَوْ صَلَاةٍ
عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ سَمَاعِ شَمَائِلِهِ
الشَّرِيْفَةِ
“Sesungguhnya Rasulullah mengagungkan
hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah Ta’ala pada hari itu atas nikmat
terbesar yang telah dianugerahkan kepadanya serta atas karunia Allah
menghadirkan beliau ke alam ini. Sebab, dengan kehadirannya, seluruh makhluk
memperoleh kebahagiaan. Rasulullah SAW mengekspresikan pengagungan tersebut
dengan berpuasa, sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Qatadah bahwa
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau lalu menjawab:
Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku. Hadis
ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, pada Kitab Puasa. Hal
demikian pada hakikatnya memiliki makna yang sejalan dengan perayaan Maulid
Nabi, meski bentuk pelaksanaannya berbeda. Makna itu tetap dapat terwujud, baik
dengan berpuasa, memberi makan, berkumpul untuk berdzikir, bershalawat kepada
Nabi SAW, maupun mendengarkan kisah tentang kepribadian dan sifat-sifat mulia
beliau.” (Haulal-Ihtifal Bidzikril-Maulid
an-Nabawi asy-Syarif [Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah], h. 24)
Jadi, bentuk ungkapan syukur tidak harus selalu sama. Namun, dapat diwujudkan melalui berbagai amal kebajikan selama tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.
Baca juga: Maulid Nabi, Momentum Tebar Spirit Keteladanan Muhammad SAW
3. Menambah kecintaan dan memantapkan keimanan
kepada Rasulullah
Peringatan Maulid Nabi juga dapat menjadi
sarana untuk mengenal Rasulullah SAW secara lebih dekat. Dalam berbagai majelis
Maulid, umat Islam biasanya membaca atau mendengarkan kisah kelahiran Nabi,
perjalanan hidup, akhlak, sifat-sifat mulia, ciri fisik, hingga
mukjizat-mukjizat yang Allah anugerahkan kepadanya.
Pengenalan terhadap kehidupan Rasulullah
semacam ini memiliki arti penting sebab kecintaan kepada beliau tidak cukup
dibangun hanya melalui pengakuan semata.
Semakin seseorang mengenal pribadi,
perjuangan, dan keteladanan Nabi, maka semakin terbuka pula jalan untuk
mengikuti sunnah dan meneladani akhlaknya.
أَنَّ الْمَوْلِدَ الشَّرِيْفَ
يَشْتَمِلُ عَلَى ذِكْرِ مَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ، وَمُعْجِزَاتِهِ وَسِيْرَتِهِ
وَالتَّعْرِيْفِ بِهِ. أَوَلَسْنَا مَأْمُورِيْنَ بِمَعْرِفَتِهِ وَمُطَالَبِيْنَ
بِالإِقْتِدَاءِ بِهِ وَالتَّأَسِّيْ بِأَعْمَالِهِ وَالْإِيمَانِ بِمُعْجِزَاتِهِ
وَالتَّصْدِيْقِ بِآيَاتِهِ؟ وَكُتُبُ الْمَوْلِدِ تُؤَدِّيْ هَذَا الْمَعْنَى
تَمَامًا
“Sesungguhnya peringatan Maulid Nabi
yang mulia memuat kisah kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, perjalanan
hidupnya, serta pengenalan terhadap figur beliau. Bukankah kita diperintahkan
untuk mengenal Rasulullah, dituntut untuk mengikuti dan meneladani beliau dalam
amal perbuatannya, mengimani mukjizat-mukjizatnya, serta membenarkan
tanda-tanda kenabiannya? Kitab-kitab Maulid pada hakikatnya telah menyampaikan
dan mewujudkan tujuan tersebut dengan sempurna.” (Haulal-Ihtifal
Bidzikril-Maulid an-Nabawi asy-Syarif [Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah],
h. 27)
Jadi, substansi peringatan Maulid sejatinya tidak hanya terletak pada mengenang momentum kelahiran Rasulullah saja, lebih daripad itu juga pada upaya mengenali sosok beliau dan menjadikan perjalanan hidupnya sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan.
Baca juga: 5 Keutamaan Menghadiri Peringatan Maulid Nabi Berdasarkan Penjelasan Ulama
4. Menghimpun berbagai amalan yang dianjurkan
syariat
Alasan berikutnya berkenaan dengan
rangkaian kegiatan yang biasanya menyertai peringatan Maulid Nabi. Majelis
Maulid lazimnya diisi dengan berkumpul bersama, berdzikir, bershalawat,
bersedekah, memberi hidangan makanan, melantunkan pujian kepada Rasulullah,
serta mengingat kemuliaan beliau.
Amalan-amalan demikian pada dasarnya
memiliki landasan dan dianjurkan dalam syariat. Atas dasar itu, Sayyid Muhammad
Alawi al-Maliki berpandangan bahwa sebuah majelis yang menghimpun berbagai
bentuk kebajikan tersebut dapat dipandang sebagai kegiatan yang baik.
أَنَّ الْمَوْلِدَ اشْتَمَلَ عَلَى
اجْتِمَاعٍ وَذِكْرٍ وَصَدَقَةٍ وَمَدْحٍ وَتَعْظِيمٍ لِلْجَنَابِ النَّبَوِيِّ،
فَهُوَ سُنَّةٌ وَهَذِهِ أُمُوْرٌ مَطْلُوْبَةٌ شَرْعًا وَمَمْدُوْحَةٌ وَقَدْ
جَاءَتْ الْآثَارُ الصَّحِيْحَةُ بِهَا وَبِالْحَثِّ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya peringatan Maulid Nabi
meliputi kegiatan berkumpul, berdzikir, bersedekah, melantunkan pujian, serta
mengagungkan kedudukan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, peringatan Maulid
termasuk amalan yang baik, karena seluruh unsur yang terkandung di dalamnya
merupakan perkara yang dianjurkan dan dipuji oleh syariat. Berbagai riwayat
yang sahih juga telah menunjukkan legitimasi amalan-amalan itu sekaligus
menganjurkan umat Islam untuk melaksanakannya.” (Haulal-Ihtifal
Bidzikril-Maulid an-Nabawi asy-Syarif [Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah],
h. 30)
Dari sini, dapat dipahami bahwa peringatan Maulid sekaligus menjadi momentum guna mempertemukan umat Islam dengan berbagai amal kebajikan dalam satu majelis, dengan tetap menjaga pelaksanaannya agar senantiasa khidmat sesuai dengan nilai dan tuntunan syariat.
Baca juga: 3 Amalan yang Dianjurkan di Bulan Maulid, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya
5. Menghidupkan kembali ingatan terhadap
Rasulullah SAW
Alasan terakhir adalah bahwa Maulid menjadi
sarana untuk terus menghidupkan ingatan umat Islam kepada Rasulullah SAW.
Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menuturkan bahwa mengenang kembali peristiwa
penting dan keteladanan masa lampau bukanlah sesuatu yang asing dalam ajaran
Islam.
Beliau memberikan contoh sejumlah rangkaian
ibadah haji. Misalnya, pelaksanaan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, melempar
jumrah, hingga menyembelih hewan di Mina semuanya memiliki kaitan erat dengan
peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa lalu. Peristiwa itu kemudian
terus dikenang melalui bentuk ritual ibadah yang dilaksanakan umat Islam dari
generasi ke generasi.
أَنَّ الإِحْتِفَالَ بِالْمَوْلِدِ
إِحْيَاءٌ لِذِكْرَى الْمُصْطَفَى وَذَلِكَ مَشْرُوعٌ عِنْدَنَا فِي الْإِسْلَامِ،
فَأَنْتَ تَرَى أَنَّ أَكْثَرَ أَعْمَالِ الْحَجِّ إِنَّمَا هِيَ إِحْيَاءٌ
لِذِكْرَيَاتٍ مَشْهُودَةٍ وَمَوَاقِفَ مَحْمُودَةٍ فَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا
وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالذَّبْحُ بِمِنًى، كُلُّهَا حَوَادِثُ
مَاضِيَةٌ سَابِقَةٌ يُحْيِيْ الْمُسْلِمُوْنَ ذِكْرَاهَا بِتَجْدِيْدِ صُوَرِهَا
فِيْ الْوَاقِعِ
“Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi
merupakan salah satu bentuk menghidupkan kembali ingatan terhadap Rasulullah
SAW. Hal semacam ini memiliki landasan dalam ajaran Islam. Dapat kita lihat
bahwa banyak rangkaian ibadah haji pada hakikatnya juga menghidupkan kembali
kenangan atas berbagai peristiwa penting dan teladan mulia pada zaman dulu.
Sa’i antara Shafa dan Marwah, melempar jumrah, serta menyembelih hewan di Mina
merupakan rangkaian ibadah yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa terdahulu.
Kaum Muslimin kemudian terus mengenang dan menghidupkan kembali peristiwa
tersebut dengan menghadirkan bentuk praktiknya dalam pelaksanaan ibadah.” (Haulal-Ihtifal Bidzikril-Maulid an-Nabawi asy-Syarif
[Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah], h. 34-35)
Demikianlah setidaknya lima alasan yang
mendasari peringatan Maulid Nabi sebagaimana dijelaskan Sayyid Muhammad bin
Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya.
Jadi, pada dasarnya, tradisi Maulid tidak
semata-mata menjadi peringatan atas peristiwa kelahiran Rasulullah, tetapi juga
memiliki nilai spiritual dan edukatif bagi umat Islam.
Melalui momentum Maulid Nabi, umat Islam dapat memperbarui rasa syukur, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah, mengenal kembali perjalanan hidup dan keteladanan beliau, memperbanyak amal saleh, serta menjaga agar ingatan terhadap sosok Nabi tetap hidup dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a‘lam bis shawab.