Lewati ke konten utama
Sabtu, 22 Agustus 2026 / 9 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Paradigma Islam

5 Alasan Merayakan Maulid Nabi Menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki

7 menit baca 113 dibaca
Gemini_Generated_Image_uusz4euusz4euusz
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Maulid Nabi telah menjadi salah satu tradisi keislaman yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Di berbagai daerah Indonesia, peringatan kelahiran Rasulullah SAW diselenggarakan dengan beragam adat dan kekhasan masing-masing, mulai dari pengajian sederhana di surau atau masjid hingga perayaan besar seperti Grebeg Maulud di Yogyakarta.

Keragaman praktik tersebut menunjukkan kuatnya kecintaan umat Islam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang diekspresikan melalui berbagai bentuk peringatan. Namun, di balik tradisi yang telah berlangsung turun-temurun itu, terdapat sejumlah alasan keagamaan yang menjadi pijakan bagi umat Islam dalam memperingati kelahiran Rasulullah.

Berkenaan dengan hal ini, ulama pakar hadis terkemuka asal Makkah, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani (wafat 1425 H), dalam kitab Haul al-Ihtifal bi Dzikri al-Maulid an-Nabawi asy-Syarif menjelaskan beberapa alasan yang melatarbelakangi peringatan Maulid Nabi. Setidaknya, terdapat lima alasan yang beliau kemukakan sebagai berikut:

1. Wujud rasa bahagia atas kelahiran Rasulullah SAW

Alasan pertama adalah bahwa peringatan Maulid Nabi merupakan bentuk ekspresi kegembiraan atas kelahiran Baginda Nabi Muhammad. Kehadiran Rasulullah membawa risalah Islam, petunjuk, dan rahmat bagi umat manusia. Karenanya, kelahiran beliau layak disambut dengan suka cita.

Dalam menjelaskan hal ini, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki mengaitkannya dengan kisah Abu Lahab. Kendati dikenal sebagai salah seorang penentang keras dakwah Rasulullah SAW, Abu Lahab disebut memperoleh keringanan azab lantaran pernah bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad.

Kegembiraan itu ditunjukkannya dengan memerdekakan Tsuwaibah setelah budak perempuannya tersebut menyampaikan kabar perihal kelahiran Rasulullah.

أَنَّ الإِحْتِفَالَ بِالْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيْفِ تَعْبِيْرٌ عَنِ الْفَرَحِ وَالسُّرُوْرِ بِالْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ انْتَفَعَ بِهِ الْكَافِرُ. فَقَدْ جَاءَ فِي الْبُخَارِيِّ أَنَّهُ يُخَفَّفُ عَنْ أَبِي لَهَبٍ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ بِسَبَبِ عِتْقِهِ لِثُوَيْبَةَ جَارِيَتِهِ لَمَّا بَشَّرَتْهُ بِوِلَادَةِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi yang mulia merupakan ungkapan kegembiraan dan rasa bahagia atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bahkan, kegembiraan terhadap kelahiran beliau ini juga mendatangkan manfaat bagi orang kafir. Berdasarkan riwayat yang termaktub dalam kitab Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa azab Abu Lahab diringankan setiap hari Senin karena ia pernah memerdekakan Tsuwaibah, budak perempuannya, setelah Tsuwaibah menyampaikan kabar gembira kepadanya tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW.” (Haul al-Ihtifal Bidzikri al-Maulid an-Nabawi asy-Syarif [Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah], h. 22)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW mempunyai nilai tersendiri. Bagi umat Islam, rasa bahagia itu tentu saja tidak berhenti pada perayaan semata, tetapi semestinya pula mendorong tumbuhnya kecintaan dan keteladanan kepada beliau.

Baca juga: Apakah Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW?

2. Ungkapan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW

Di samping sebagai wujud kegembiraan, Maulid Nabi juga dapat menjadi momentum untuk mensyukuri kelahiran Rasulullah SAW. Salah satu landasan yang dikemukakan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki adalah kebiasaan Rasulullah berpuasa setiap hari Senin.

Saat ditanya mengenai puasa hari Senin, Rasulullah mengungkapkan bahwa pada hari itulah beliau dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadanya. Menurut pandangan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, hal demikian menunjukkan bahwa Rasulullah sendiri mengagungkan hari kelahirannya dengan bentuk ibadah berupa puasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT.

أَنَّهُ كَانَ يُعَظِّمُ يَوْمَ مَوْلِدِهِ وَيَشْكُرُ اللهَ تَعَالَى فِيهِ عَلَى نِعْمَتِهِ الْكُبْرَى عَلَيْهِ، وَتَفَضُّلِهِ عَلَيْهِ بِالْجُودِ لِهَذَا الْوُجُودِ إِذْ سَعِدَ بِهِ كُلُّ مَوْجُودٍ، وَكَانَ يُعَبِّرُ عَنْ ذَلِكَ التَّعْظِيمِ بِالصِّيَامِ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: فِيْهِ وُلِدْتُ، وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. رَوَاهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيْحِ فِيْ كِتَابِ الصِّيَامِ. وَهَذَا فِي مَعْنَى الإِحْتِفَالِ بِهِ إِلَّا أَنَّ الصُّورَةَ مُخْتَلِفَةٌ، وَلَكِنَّ الْمَعْنَى مَوْجُودٌ سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ بِصِيَامٍ، أَوْ إِطْعَامِ طَعَامٍ أَوِ اجْتِمَاعٍ عَلَى ذِكْرٍ أَوْ صَلَاةٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ سَمَاعِ شَمَائِلِهِ الشَّرِيْفَةِ

“Sesungguhnya Rasulullah mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah Ta’ala pada hari itu atas nikmat terbesar yang telah dianugerahkan kepadanya serta atas karunia Allah menghadirkan beliau ke alam ini. Sebab, dengan kehadirannya, seluruh makhluk memperoleh kebahagiaan. Rasulullah SAW mengekspresikan pengagungan tersebut dengan berpuasa, sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Qatadah bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau lalu menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, pada Kitab Puasa. Hal demikian pada hakikatnya memiliki makna yang sejalan dengan perayaan Maulid Nabi, meski bentuk pelaksanaannya berbeda. Makna itu tetap dapat terwujud, baik dengan berpuasa, memberi makan, berkumpul untuk berdzikir, bershalawat kepada Nabi SAW, maupun mendengarkan kisah tentang kepribadian dan sifat-sifat mulia beliau.” (Haulal-Ihtifal Bidzikril-Maulid an-Nabawi asy-Syarif [Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah], h. 24)

Jadi, bentuk ungkapan syukur tidak harus selalu sama. Namun, dapat diwujudkan melalui berbagai amal kebajikan selama tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Baca juga: Maulid Nabi, Momentum Tebar Spirit Keteladanan Muhammad SAW

3. Menambah kecintaan dan memantapkan keimanan kepada Rasulullah

Peringatan Maulid Nabi juga dapat menjadi sarana untuk mengenal Rasulullah SAW secara lebih dekat. Dalam berbagai majelis Maulid, umat Islam biasanya membaca atau mendengarkan kisah kelahiran Nabi, perjalanan hidup, akhlak, sifat-sifat mulia, ciri fisik, hingga mukjizat-mukjizat yang Allah anugerahkan kepadanya.

Pengenalan terhadap kehidupan Rasulullah semacam ini memiliki arti penting sebab kecintaan kepada beliau tidak cukup dibangun hanya melalui pengakuan semata.

Semakin seseorang mengenal pribadi, perjuangan, dan keteladanan Nabi, maka semakin terbuka pula jalan untuk mengikuti sunnah dan meneladani akhlaknya.

أَنَّ الْمَوْلِدَ الشَّرِيْفَ يَشْتَمِلُ عَلَى ذِكْرِ مَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ، وَمُعْجِزَاتِهِ وَسِيْرَتِهِ وَالتَّعْرِيْفِ بِهِ. أَوَلَسْنَا مَأْمُورِيْنَ بِمَعْرِفَتِهِ وَمُطَالَبِيْنَ بِالإِقْتِدَاءِ بِهِ وَالتَّأَسِّيْ بِأَعْمَالِهِ وَالْإِيمَانِ بِمُعْجِزَاتِهِ وَالتَّصْدِيْقِ بِآيَاتِهِ؟ وَكُتُبُ الْمَوْلِدِ تُؤَدِّيْ هَذَا الْمَعْنَى تَمَامًا

“Sesungguhnya peringatan Maulid Nabi yang mulia memuat kisah kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, perjalanan hidupnya, serta pengenalan terhadap figur beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenal Rasulullah, dituntut untuk mengikuti dan meneladani beliau dalam amal perbuatannya, mengimani mukjizat-mukjizatnya, serta membenarkan tanda-tanda kenabiannya? Kitab-kitab Maulid pada hakikatnya telah menyampaikan dan mewujudkan tujuan tersebut dengan sempurna.” (Haulal-Ihtifal Bidzikril-Maulid an-Nabawi asy-Syarif [Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah], h. 27)

Jadi, substansi peringatan Maulid sejatinya tidak hanya terletak pada mengenang momentum kelahiran Rasulullah saja, lebih daripad itu juga pada upaya mengenali sosok beliau dan menjadikan perjalanan hidupnya sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan.

Baca juga: 5 Keutamaan Menghadiri Peringatan Maulid Nabi Berdasarkan Penjelasan Ulama

4. Menghimpun berbagai amalan yang dianjurkan syariat

Alasan berikutnya berkenaan dengan rangkaian kegiatan yang biasanya menyertai peringatan Maulid Nabi. Majelis Maulid lazimnya diisi dengan berkumpul bersama, berdzikir, bershalawat, bersedekah, memberi hidangan makanan, melantunkan pujian kepada Rasulullah, serta mengingat kemuliaan beliau.

Amalan-amalan demikian pada dasarnya memiliki landasan dan dianjurkan dalam syariat. Atas dasar itu, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki berpandangan bahwa sebuah majelis yang menghimpun berbagai bentuk kebajikan tersebut dapat dipandang sebagai kegiatan yang baik.

أَنَّ الْمَوْلِدَ اشْتَمَلَ عَلَى اجْتِمَاعٍ وَذِكْرٍ وَصَدَقَةٍ وَمَدْحٍ وَتَعْظِيمٍ لِلْجَنَابِ النَّبَوِيِّ، فَهُوَ سُنَّةٌ وَهَذِهِ أُمُوْرٌ مَطْلُوْبَةٌ شَرْعًا وَمَمْدُوْحَةٌ وَقَدْ جَاءَتْ الْآثَارُ الصَّحِيْحَةُ بِهَا وَبِالْحَثِّ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya peringatan Maulid Nabi meliputi kegiatan berkumpul, berdzikir, bersedekah, melantunkan pujian, serta mengagungkan kedudukan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, peringatan Maulid termasuk amalan yang baik, karena seluruh unsur yang terkandung di dalamnya merupakan perkara yang dianjurkan dan dipuji oleh syariat. Berbagai riwayat yang sahih juga telah menunjukkan legitimasi amalan-amalan itu sekaligus menganjurkan umat Islam untuk melaksanakannya.” (Haulal-Ihtifal Bidzikril-Maulid an-Nabawi asy-Syarif [Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah], h. 30)

Dari sini, dapat dipahami bahwa peringatan Maulid sekaligus menjadi momentum guna mempertemukan umat Islam dengan berbagai amal kebajikan dalam satu majelis, dengan tetap menjaga pelaksanaannya agar senantiasa khidmat sesuai dengan nilai dan tuntunan syariat.

Baca juga: 3 Amalan yang Dianjurkan di Bulan Maulid, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya

5. Menghidupkan kembali ingatan terhadap Rasulullah SAW

Alasan terakhir adalah bahwa Maulid menjadi sarana untuk terus menghidupkan ingatan umat Islam kepada Rasulullah SAW. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menuturkan bahwa mengenang kembali peristiwa penting dan keteladanan masa lampau bukanlah sesuatu yang asing dalam ajaran Islam.

Beliau memberikan contoh sejumlah rangkaian ibadah haji. Misalnya, pelaksanaan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, melempar jumrah, hingga menyembelih hewan di Mina semuanya memiliki kaitan erat dengan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa lalu. Peristiwa itu kemudian terus dikenang melalui bentuk ritual ibadah yang dilaksanakan umat Islam dari generasi ke generasi.

أَنَّ الإِحْتِفَالَ بِالْمَوْلِدِ إِحْيَاءٌ لِذِكْرَى الْمُصْطَفَى وَذَلِكَ مَشْرُوعٌ عِنْدَنَا فِي الْإِسْلَامِ، فَأَنْتَ تَرَى أَنَّ أَكْثَرَ أَعْمَالِ الْحَجِّ إِنَّمَا هِيَ إِحْيَاءٌ لِذِكْرَيَاتٍ مَشْهُودَةٍ وَمَوَاقِفَ مَحْمُودَةٍ فَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالذَّبْحُ بِمِنًى، كُلُّهَا حَوَادِثُ مَاضِيَةٌ سَابِقَةٌ يُحْيِيْ الْمُسْلِمُوْنَ ذِكْرَاهَا بِتَجْدِيْدِ صُوَرِهَا فِيْ الْوَاقِعِ

“Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi merupakan salah satu bentuk menghidupkan kembali ingatan terhadap Rasulullah SAW. Hal semacam ini memiliki landasan dalam ajaran Islam. Dapat kita lihat bahwa banyak rangkaian ibadah haji pada hakikatnya juga menghidupkan kembali kenangan atas berbagai peristiwa penting dan teladan mulia pada zaman dulu. Sa’i antara Shafa dan Marwah, melempar jumrah, serta menyembelih hewan di Mina merupakan rangkaian ibadah yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa terdahulu. Kaum Muslimin kemudian terus mengenang dan menghidupkan kembali peristiwa tersebut dengan menghadirkan bentuk praktiknya dalam pelaksanaan ibadah.” (Haulal-Ihtifal Bidzikril-Maulid an-Nabawi asy-Syarif [Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah], h. 34-35)

Demikianlah setidaknya lima alasan yang mendasari peringatan Maulid Nabi sebagaimana dijelaskan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya.

Jadi, pada dasarnya, tradisi Maulid tidak semata-mata menjadi peringatan atas peristiwa kelahiran Rasulullah, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan edukatif bagi umat Islam.

Melalui momentum Maulid Nabi, umat Islam dapat memperbarui rasa syukur, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah, mengenal kembali perjalanan hidup dan keteladanan beliau, memperbanyak amal saleh, serta menjaga agar ingatan terhadap sosok Nabi tetap hidup dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a‘lam bis shawab.