Lewati ke konten utama
Selasa, 6 Oktober 2026 / 24 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Delegasi Yaman
Jajaran pimpinan Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) MUI, saat menerima kunjungan Salah Batis dari Provinsi Hadramaut, Republik Yaman, di Kantor MUI, Jakarta, Selasa (6/10/2026). Foto: Fitri/ MUI Digital
Berita

MUI Dorong Penguatan Hubungan RI-Yaman di Tengah Situasi Regional

MUI Dorong Penguatan Hubungan RI-Yaman di Tengah Situasi Regional

/ 24 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca 78 dibaca

Jakarta, MUI Digital –  Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai pertemuan untuk membahas perkembangan terkini di Yaman menjadi momentum strategis dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Yaman.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) MUI, Dr Oke Setiadi, saat menerima kunjungan Salah Batis dari Provinsi Hadramaut, Republik Yaman, di Kantor MUI, Jakarta, Selasa (6/10/2026). 

Salah Batis merupakan Sarjana (S1) Studi Islam, Anggota Dewan Syura Yaman, Ketua Dewan Syura Aliansi Kabilah/Suku Yaman, Wakil Ketua Badan Nasional Pengawasan Pelaksanaan Hasil Konferensi Dialog Nasional Komprehensif, Ketua Wakaf Uwais Al-Qarni di Kota Istanbul, Turki, serta Ketua Yayasan Al-Badiyah untuk Pembangunan dan Kegiatan Kemanusiaan di Yaman.

Dalam pertemuan tersebut, pembicaraan mengemuka seputar kondisi sosial, politik, dan kenegaraan di Yaman, termasuk perkembangan situasi di kawasan Laut Merah dan komitmen Yaman terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.

“Pertemuan hari ini saya rasa pertemuan yang sangat strategis dan kami tunggu-tunggu. Alhamdulillah kami mendapatkan maklumat terakhir tentang kondisi negeri yang juga kita cintai selain Indonesia ini, negeri Yaman,” ujarnya seusai. 

Menurutnya, informasi mengenai kondisi terkini Yaman penting bagi Indonesia untuk menentukan sikap dan membangun komunikasi yang tepat dengan pemerintah maupun masyarakat Yaman.

“Mengabarkan kepada kita bagaimana kondisi terakhir di Yaman, bagaimana kondisi situasi masyarakat, situasi politik, situasi kenegaraan, sehingga dengan maklumat terakhir ini kita bisa menentukan sikap sebagai bangsa Indonesia," katanya.

Dia menambahkan, MUI memandang pertemuan tersebut sebagai langkah penting untuk memperoleh informasi sekaligus memberikan masukan dalam mempererat hubungan dengan masyarakat Indonesia yang berada di Yaman.

“Sehingga kami dari MUI melihat ini pertemuan yang sangat strategis, membuat kita semua bisa memberikan feedback tentang bagaimana menjalankan hubungan yang lebih erat lagi dengan sosialitas kita yang berada di Yaman,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, salah satu isu yang menjadi perhatian adalah perkembangan situasi di kawasan Bab el-Mandab, selat strategis yang menjadi jalur pelayaran internasional. 

Pembahasan mencakup kondisi perjalanan kapal-kapal yang melintasi kawasan tersebut serta situasi masyarakat Yaman setelah perkembangan politik dan keamanan dalam beberapa tahun terakhir.

Dia menjelaskan, isu yang dibahas hari ini yang pertama adalah tentunya bagaimana kondisi di Yaman, khususnya isu tentang Bab el-Mandab, bagaimana perjalanan kapal-kapal yang ada melewati selat tersebut.

Pertemuan juga membahas yang sebenarnya terjadi di sana, bagaimana situasi masyarakat di Yaman setelah terdesaknya suku Houthi yang kemarin 12 tahun berkuasa, dan kemudian secara perlahan masyarakat Yaman kembali lagi dengan situasi normal, situasi kenegaraan yang ada.

Selain kondisi dalam negeri, pertemuan juga membahas dukungan Yaman terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. 

MUI berharap kondisi keamanan dan kenegaraan di Yaman terus membaik sehingga negara tersebut dapat kembali menjadi negara yang aman dan sejahtera.

“Bagaimana kemudian dukungan Yaman secara utuh kepada perjuangan kemerdekaan Palestina, dan tentunya kita berharap situasi normal ini akan semakin membaik sehingga Yaman kembali menjadi negara yang aman, sejahtera, bahkan menjadi sumber pendidikan masyarakat dunia khususnya bangsa Indonesia selama ini,” katanya.

Dia berharap pertemuan serupa dapat kembali dilakukan untuk memperbarui informasi mengenai perkembangan Yaman. Sejumlah kota bahkan telah disebut sebagai kemungkinan lokasi pertemuan berikutnya, di antaranya Riyadh, Makkah, dan Istanbul.

“Tadi belum disepakati di mana kita akan bertemu kembali. Beliau tadi menyebutkan beberapa kota, bisa di Riyad, di Saudi, bisa di Makkah, atau di Istanbul nanti kalau kita ada pertemuan-pertemuan di Istanbul,” jelasnya.

Menurutnya, komunikasi dan pertukaran informasi secara berkala diperlukan agar perkembangan situasi di Yaman dapat terus dipantau dan menjadi bahan dalam menentukan kebijakan serta langkah hubungan Indonesia-Yaman.

“Insya Allah kita akan ada pertemuan kembali, update kembali tentang situasi Yaman, dan membuat kita semua dengan update ini bisa membuat kebijakan yang lebih dekat dengan baik insya Allah,” katanya. (Fitri)

BAGIKAN: